Tampilkan postingan dengan label JURNAL SATUBUMIKITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JURNAL SATUBUMIKITA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 September 2018

Event Sabuki : Milad Sabuki, 7 Tahun Bari Ngacaprak, Batu Kuda, 15-16 September 2018


Milangkala Komunitas Satubumikita
"7 Taun Bari Ngacaprak"

Sampurasun warga sabuki tercinta!!!
Udah 7 tahun lagi aja nihh SABUKI 😆😆
Yuk ramaikan malam minggumu dengan camping ceria, edukasi alam, ekowisata, belajar mengenal reptil disekitar kita, dan masih banyak yang lainnya!!

Catet tanggalnya yaa
📆: Sabtu dan minggu, 15-16 september 2018
: 17.00 WIB - selesai
📍: Wana Wisata Batu Kuda

Senin, 22 Mei 2017

Review Kegiatan : Sabuki Munggahan, SERAMBI 20-21 Mei 2017





Alhamdulillah, kegiatan Sabuki Munggahan, SERAMBI : Sebelum Ramadhan Mari Berbagi sudah terlaksana dengan lancar dan sukses. Kegiatan bertempat di Kawasan Perkebunan teh Sukawana, Parongpong, Kab. Bandung Barat , tanggal 20-21 Mei 2017. Terima kasih untuk warga dusun Sukawana, pihak perkebunan, semua kawan-kawan sabuki, kawan-kawan panitia, kawan-kawan komunitas JGB, KPGB, Bandung Hiking, Nalatula, Pendaki Koboi Indonesia dll.

Serta terima kasih sebesar-besarnya untuk pihak yang mendukung kegiatan ini : CT Arsa Foundation, Bougenville Outdoor, Sharikaveil, Wear maker, Sigma Konveksi, Kita Clothes, Jongko Derrul, Ndie Rabbit, Orland dan Homeless Shop. Terima kasih, semoga kegiatan dan bantuannya bermanfaat. 

Review Kegiatan :

Minggu, 26 Juni 2016

Review Kegiatan : Ramadhan, Indahnya Berbagi, 25 Juni 2016


Alhamdulillah kegiatan sabuki di Bulan Ramadhan ini berjalan lancar. Kegiatan yang baru saja selesai adalah "ONCE UPON A TIME IN RAMADHAN"  ; INDAHNYA BERBAGI. Kegiatan yang berkolaborasi dengan Pustaka Tropis Wanadri.

Kegiatan dimulai siang hari, yaitu dengan menonton film dokumenter berjudul HOME karya  Yann Arthus-Bertrand yang dirilis pada tahun 2009. Film yang bercerita tentang kehidupan bumi dan dampak kehidupan manusia terhadap bumi dan dampaknya bagi manusia itu sendiri. Film yang berdurasi sekitar 1,5 jam ini cukup memberi gambaran bagaiman manusia untuk memenuhi kebutuhan koloninya mengeksploitasi sumber daya alam dengan begitu massif.

Senin, 13 Juni 2016

Review Kegiatan : Sabuki Munggahan, Semalam Lebih Dekat, 4-5 Juni 2016




Tanggal 4 & 5 Juni lalu (sabtu & minggu), Komunitas satubumikita mengadakan sebuah kegiatan menyambut bulan suci Ramadhan, yaitu Sabuki Munggahan, Semalam Lebih Dekat. Kegiatan munggahan ini diadakan di camping ground Batu Kuda, Kaki Gunung Manglayang. Istilah Munggahan sendiri adalah tradisi masyarakat (sunda pada khususnya) dalam menyambut bulan Ramadhan. Area camp batu kuda dipilih sebagai tempat kegiatan karena aksesnya yang tidak terlalu jauh dari tengah Kota.


Sore di hari sabtu, tenda-tenda sudah terpasang dan sebagian kawan-kawan sudah berada di lokasi. Setelah acara dibuka, bada isya kegiatan pertama dimulai yaitu makan bersama. Munggahan memang cukup identik dengan makan bersama-sama. Setelah makan bersama, sesi selanjutnya adalah perkenalan. Api unggun mulai menyala menghangatkan suasana di tengah perkenalan, lilin dan pelita yang terbuat dari botol sedikit menerangi suasana camp yang semakin gelap.

Senin, 19 Oktober 2015

Catatan Perjalanan Camping Festival “Seuri Bray”

Oleh : Selvia Andri Yani (Epoy)

Sedari ku mulai terjerumus dengan breng***nya Skripsi, tak banyak waktu untuk aku bersenang – senang dengan kesukaanku terhadap dingin dan sepi. Tapi aku rasa Tuhan jauh lebih mengerti, bagaimana ia memberikan kesempatan kepadaku dengan cara yang keren.
Aku adalah salah satu perempuan penikmat musik, penggemar jalan - jalan, dan menggilai keduanya. Ku rasa Camping Festival adalah hal yang pas untuk dinikmati. Sudah lama tidak ngopi, makan dinesting sembari seuri bareng baraya (dibaca : sambil ketawa bersama saudara).

Informasi event ini aku dapatkan dari seorang pria sanguin di Bandung. Sebut saja dia mas dadang, salah 1 pemain cajon fenomenal Band Parahyena. Dia menyelundup seperti manusia persuasi, dan aku tergoda untuk menjadi peserta tanggal 3- 4 Oktober 2015. Juga, aku memang menyukai Band Parahyena setelah melihat perform-nya di salah 1 café Bandung saat itu. Akhirnya aku memutuskan dengan sadar untuk hadir dalam acara Seuri Bray.
Singkat Cerita.. Aku mendaftarkan diri bersama ke-empat kawanku dari Jakarta. Dia bernama Kikuk, Uya, Bentol, dan Jupe. Lalu kami menunggu hari itu tiba.

Selasa, 13 Oktober 2015

Cerita Camping satubumikita (Part 1)

Oleh : Ria Indhryani



Mereview sebuah event saat sudah tidak lagi menjadi wartawan itu lumayan jadi PR banget. Bukan apa-apa, sudut pandanganya jadi beda karena saya akan menulis sebagai peserta atau bukan pewarta. Padahal, pewarta biasanya jadi peserta juga kan yah? Tapi tetap ajah, pewarta hampir kadang-kadang mendapat akomodir yang spesial dari penyelenggara acara sehingga kebanyakan, komentar yang ditulis sudut pandang pewarta ‘cenderung positif’ atas dasar ketidakenakan dan hal lainnya lah… Hehehee. Wartawan, pasti ngerti banget maksud saya. Apalagi untuk pewarta yang memang ditugaskan oleh kantornya sebagai media partner. Kalau ada pewarta ngulas event dan hasilnya ‘negatif semua’, ini langka dan bisa jadi karena memang terlalu jujur atau sebaliknya tidak merasa puas dengan akomodir yang diberikan. Nah kalau jadi masyarakat biasa [bukan PERS], biasanya bakalan lebih jujur kalau ngulas sesuatu. Positif atau negatif, dihajar sekaligus. Bahasanya juga jadi lebih santai. Nah… Kalau saya sekarang sih, lebih pengen curhat dan share pengalaman saya kemarin camping gimana.

Rabu, 15 Juli 2015

Catatan Kegiatan Buka Bersama "Sabumi" di Museum Barli, 27 Juni 2015



Di bulan Ramadhan tahun ini kembali komunitas satubumikita mengadakan sebuah kegiatan buka bersama. Sabtu, tanggal 27 Juni 2015 kegiatan pelaksanaannya, yang bekerja sama dengan Museum Barli sebagai tempat pelaksanaan kegiatan, Dan kami juga berkesempatan bersilaturahmi dan bermain bersama Anak Bumi. 

Anak bumi sendiri merupakan sebuah program pendidikan untuk membantu anak-anak usia sekolah dalam mendapatkan pendidikan dalam bidang seni yang digagas oleh Museum Barli. Sedangkan Museum Barli sendiri adalah Museum seni rupa yang diresmikan pada tanggal 26 Oktober 1992, yang khususnya untuk menampilkan, mengenalkan dan memahami karya dari salah satu pelukis terkemuka dari Bandung, Barli Sasmitawinata. 

Selasa, 31 Desember 2013

Jurnal satubumikita #22 : Belajar dari alam yang terkembang, Ciremai



Tak terasa penghujung  tahun 2013 masehi akan berlalu, pun dengan kegiatan-kegiatan perjalanan yang telah satubumikita jalani selama 2 tahun lebih ini. Banyak suka duka, yang datang dan pergi. Semoga sedikit  banyak ada pelajaran dan pembelajaran yang dapat kita ambil dari setiap perjalanannya untuk diterapkan di kehidupan kita sehari-hari. 

Selain kegiatan yang satubumikita jalani, tak terasa pula sudah 2 digit tulisan amatir yang tergores, yang penulis namakan Jurnal satubumikita. Jurnal satubumikita sendiri merupakan sebuah reportase amatir perjalanan berkala dari komunitas satubumikita. Tulisan yang dipublikasikan di blog (satubumikita.blogspot.com) ini hanya semata-mata sebagai salah satu bagian dari dokumentasi perjalanan. Data dan keterangan yang tercantum bisa saja tidak valid dan akurat, koreksi bisa dilayangkan di bagian komentar atau email satubumikitaeo@gmail.com. Selamat membaca dan wilujeung taun baruan.

***

Senin, 02 Desember 2013

Jurnal satubumikita #21 : Sejenak Menjelajah Gunung Kerenceng




Suara adzan maghrib mulai berkumandang menggema di seantero kampung dari corong pengeras suara sebuah surau. Langit senja bercampur awan hitam bergumpal memekat menemani  kaki yang lelah berjalan. Di sebuah warung, segerombolan orang berkumpul menghela nafas sembari menunggu kawan yang tak kunjung tiba. Sedikit kerisauan akhirnya terjawab, kawan yang ditunggu pun datang bersama mobil bak terbuka yang biasa mengangkut hasil bumi. Kegembiraan pun mulai terpancar kembali, senyum sumringah mulai terkembang diiringi guyonan dan candaan mengobati kelelahan. Di pelupuk mata lamat-lamat terlihat kerucut  gunung berselimut halimun. Lampu kota di kejauhan mulai berkelap-kelip ditimpali angin malam yang mulai berhembus pelan. Sejurus kemudian deru mesin lokomotif mengakhiri perjalanan satubumikita di ahad itu.   


12 jam yang lalu

Kamis, 14 November 2013

Jurnal satubumikita #20 : Sejenak bersama Galunggung & Kampung Naga




Di kejauhan, tinggi menjulang sebuah Gunung yang pernah meletus dahsyat. Letusannya di masa  Presiden Soeharto tercatat berlangsung selam 9 bulan, dalam periode 5 Mei 1982 sampai 8 Januari 1983. Ya, Gunung tersebut adalah Gunung Galunggung, yang berada di kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Menurut supir angkot yang kami tumpangi, di periode meletusnya Galunggung tersebut, para warga di sekitar Gunung hanya bisa menikmati terangnya mentari  sampai sekitar jam 10 pagi, dan selebihnya dari waktu tersebut adalah waktu yang gelap. Tak terbayangkan keseharian kita dalam keadan seperti itu, tapi itulah kuasa Tuhan.Seperti kata Kuncen Kampung Naga, bencana meletusnya Galunggung sekitar 29 tahun lalu merupakan sebuah pelajaran bagi manusia. Seperti letusan Gunung lainnya yang selain menyisakan tangis, seolah Galunggungpun  kemudian menjadi sumber penghidupan bagi manusia sekelilingnya. Pasir-pasir bekas muntahan dari perut bumi yang melimpah menjadi sebuah keniscayaan bahwa alam memang memberikan sebuah  keseimbangan dari sebuah bencana alami (tanpa campur tangan manusia).

***

Kamis, 19 September 2013

Jurnal Satubumikita #19 : Tandang Tampomas Sumedang


"Pintu masuk" Situs Batu Pasarean di sekitar puncak Tampomas

Hari sabtu pagi yang cerah, mentari bersinar cukup hangat menemani kami dalam bis yang melaju menembus jalanan kota Bandung yang ramai di akhir pekan. Mentari semakin terik dan tak lagi hangat, tak terasa perjalanan kami pun sudah sampai di pemberhentian terakhir bis Damri di bilangan kampus Unpad Jatinangor. Ya, persinggahan kami disana sebelum menempuh perjalanan pendakian menuju sebuah Gunung di sebelah utara Kabupaten Sumedang yang merupakan bekas dari kerajaan Sumedang Larang. Gunung yang akan kami tuju tersebut sekarang biasa disebut dengan Tampomas atau menurut catatan Pangeran Sunda Bujangga Manik adalah Gunung Tompo Omas. 


Sebelum terik semakin menggila dan anggota pendakian sudah terkumpul semua, kami pun beranjak bergegas dari kampus Unpad Jatinangor melaju dengan angkutan umum berwarna cokelat menuju titik awal pendakian di daerah Cibeureum. Sebelum menuju arah kota, kami pun melewati sebuah jalan yang terkenal dan bersejarah, ya apalagi kalu bukan Cadas Pangeran. Cadas Pangeran merupakan sebuah jalan yang masih bagian dari Jalan Raya Pos  (yang dibangun / direncanakan oleh Gubernur Jenderal Daendels) dari Anyer - Panarukan yang memakan korban jiwa para pekerjanya karena harus membobok cadas bukit dengan cara manual. Yang menarik adalah sang bupati pada saat itu, Pangeran Kusumadinata IX (1791-1828) atau yang lebih populer dengan sebutan Pangeran Kornel, beliau berani memprotes dan agak sedikit menantang sang Gubernur Jenderal Daendels atas kesemena-menaan dalam pembangunan jalan tersebut dengan bersalaman dengan tangan kiri sedang tangan kanan memegang keris. Yang konon akhirnya sang Daendels yang terkenal galak tersebut mengerahkan pasukan dan alat beratnya untuk memudahkan pembuatan jalan dengan membobok bukit cadas tersebut.

Sabtu, 06 Juli 2013

Jurnal satubumikita #18 : Pantai Selatan, Sudut Lain Garut



Garut yang pernah berjuluk Swiss Van Java di masa kolonial dulu memang seakan menegaskan bahwa ada sebuah "tanah" seperti di dataran Eropa Tengah yang berada di pulau jawa. Gunung-gemunung dan perbukitan menjulang, berudara sejuk, memiliki beberapa danau indah yang menjadikan orang saat itu mungkin mengibaratkan Garut sebagai swiss yang berada di pegunungan alpen. Maka tak dapat dipungkiri pamor Garut cukup melejit di masa kolonial jauh sebelum era kemerdekaan. Sebut saja aktor kenamaan Hollywood  era film bisu hitam putih yakni Charlie Chaplin yang pernah dua kali melancong ke Garut tercatat sekitar tahun 1927 dan 1935 yang masuk melalui jalur kereta api tepatnya di Stasiun Cibatu. Lalu  beberapa tokoh dunia seperti Perdana Menteri Perancis Georges Clemenceau yang berkunjung sekitar tahun 1920-an, lalu ada pula Raja dari kerajaan Siam (dulu Thailand) Rama V (Chulalongkorn) yang berkunjung ke garut sekitar tahun 1896, yang berkunjung ke beberapa tempat diantaranya Cipanas, Situ Bagendit dan Gunung Papandayan.

Ya, Garut memang tak sesohor seperti dulu, tapi kecantikan  panorama alamnya masih bisa dibanggakan. Garut yang dalam lagu Darso (almarhum) diibaratkan sebagai intan, memang perlu "digosok" kembali agar terus berkilau.  

Garut Kota intan, Pangirutan.

Selasa, 04 Juni 2013

Jurnal satubumikita #17: Halimun, Purnama & Gunung Gede

JURNAL SATUBUMIKITA


Sang surya mulai tenggelam, temaram, langit senja menyeruak jingga merona diantara riuh rendah anak manusia. Tak terasa 4 jam berlalu, diapit waktu yang terus memburu sejak senja kala yang semakin menggila di agungnya Jum’at. Gelap kemudian datang bersama rinai hujan, berselang seling berbulir. Bergerak bersama membawa angan, harapan mengawan, menggunung tinggi bersama halimun dan purnama.


***

Sabtu, 16 Maret 2013

Jurnal satubumikita #15 : Menggapai Srimanganti di Tatar Pangirutan

Jurnal amatir satubumikita, no. 15 bulan Maret 2013.



Senja yang mendung diantara keriuhan kota dan kepadatan lalu-lintas menemani perjalanan kami di hari Jumat itu. Tak lama kemudian air dari langit tumpah ruah mengguyur bumi. Malam datang membawa gelap yang dingin. Perjalanan dari kota kembang baru dimulai, kemacetan tak terelakan di jalur yang tergenang banjir. Tujuan utama kami di hari itu adalah menuju kota Garut, kota dengan banyak sebutan; kota intan, kota dodol, swiss van java atau tatar pangirutan. Tempat yang akan sedikit satubumikita jelajahi di tatar pangirutan yaitu; Gunung Cikuray. Sebuah gunung yang bila dilihat dari kejauhan membentuk sebuah kerucut yang hampir sempurna. Setelah perjalanan di dalam elf yang penuh sesak berjejal yang bisa dikatakan over capacity. Kami pun sampai di terminal Guntur yang ramai oleh para calo-calo yang seakan menjadi buas bila berburu penumpang, berebut pecahan rupiah untuk mengisi periuk nasi, memang cukup wajar bila melihat kondisi ekonomi negara kita yang penuh ketimpangan.

Minggu, 24 Februari 2013

Catatan Perjalanan dan Secercah Inspirasi dari Ibukota




P
erjalanan yang cukup mendadak (bahkan sangat mendadak) di hari sabtu itu pun dimulai. Tak seperti biasa yang ikut berpartisipasi dalam perjalanan kali ini hanya berdua saja, yaitu saya (penulis) dan ceceu. Malam sebelum berangkat kami sudah jarkom ke beberapa teman bahwa satubumikita akan mengadakan kegiatan jalan-jalan hemat alias backpacker ke ibukota, sembari berencana akan berkunjung dan bermalam ke Gubug Komunitas IPPA (Ikatan Peduli Pendidikan Anak) Rawamalang, yang berada di daerah Cilincing, Jakarta Utara. 



Selasa, 05 Februari 2013

Jurnal satubumikita #14: Bertualang Ke Curug Siliwangi



Curug Siliwangi



Udara dingin dan sejuk menyapa kedatangan kami di pagi itu. Pohon pinus berjejer, menjulang serta ditingkahi riak arus sungai Cigeureuh yang menari-nari liar. Gerangan kedatangan satubumikita di kawasan sungai Cigeureuh yang termasuk dalam Wanawisata Gunung Puntang adalah untuk mencoba berkunjung ke salah satu objek air terjun (curug), yaitu Curug Siliwangi. Wanawisata Gunung Puntang berada di daerah Cimaung, Kabupaten Bandung.  Selain Curug Siliwangi, kawasan tersebut menjadi akses masuk menuju dua curug lainnya, yaitu Curug Cikahuripan dan Curug Gentong. Curug Cikahuripan merupakan curug yang terdekat dari area perkemahan serta aksesnya pun cukup mudah dijangkau, curug tersebut memiliki ketinggian sekitar 6 meter dengan aliran air yang jernih. Sedang Curug Gentong merupakan Curug yang jarang dikunjungi, karena jalur yang cukup sulit.   

Kamis, 10 Januari 2013

Jurnal satubumikita #13: Perjalanan di Akhir dan Awal Tahun



Berawal dari sebuah permintaan teman-teman dari ibukota yang ingin mencoba menjelajah dan menikmati keindahan alam di Bandung, maka di penghujung tahun 2012 dan awal tahun 2013 ini dimulailah perjalanan kecil kami.   

30 Desember 2012  - 01 Januari 2013

Selasa, 11 Desember 2012

Jurnal satubumikita #12 : Jejak Kecil di Karst Citatah


Minggu pagi yang cukup cerah, menemani awal perjalanan kami di bilangan Stasiun Bandung. Bertolak menumpang Kereta KRD ekonomi, kami bergegas berjalan beriringan menuju gerbong yang sudah terparkir di hadapan. "Kereta Rakjat Djelata" yang cukup membantu transportasi massal tersebut pun melaju membawa kami menuju titik selanjutnya ke Stasiun Padalarang

Hari itu, kegiatan satubumikita adalah mencoba untuk sedikit mengeksplorasi kawasan karst Citatah di daerah Padalarang, Kab.Bandung Barat. Sekitar 1 Jam kereta melaju, akhirnya kami pun sampai di Stasiun Padalarang yang cukup ramai. Seusai makan pagi, kami pun kembali bergegas menuju titik henti selanjutnya yaitu Situ Ciburuy dengan menumpang angkutan umum. Bila kita pernah mendengar lagu berbahasa sunda berjudul "Bubuy Bulan" yang dulu sangat terkenal, dengan liriknya yang bercerita tentang keindahan Situ Ciburuy. 

"Situ Ciburuy
laukna hese dipancing
Nyeredet hate
Ningali ngeplak caina.."

 ***

Rabu, 05 Desember 2012

Jurnal satubumikita #11: Cerita Menuju sang Mahameru



Mahameroe. De Bromo en (op den achtergrond) de rookende Semeroe, Foto: Tropen Museum

Cukup spontan dan mendadak perjalanan satubumikita kali ini. Tanpa persiapan yang cukup, akhirnya kami pun berangkat pula menuju daerah Jawa Timur di medio November kemarin. Tujuan utama kami yaitu mendaki Gunung Semeru. Dengan Puncak Gunungnya yang mencapai ketinggian sekitar 3.676 Meter di atas permukaan laut (Mdpl), yang menjadikan Mahameru untuk sebutan puncak Semeru sebagai puncak tertinggi di tanah Jawa. Gunung Semeru sendiri masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di daerah Lumajang Jawa Timur.

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...