Minggu, 04 Agustus 2013

Catatan Perjalanan : Susur Pantai Garut 28-30 Juni 2013

Oleh : Marlindia Ike


Hamparan langit maha sempurna
Bertahta bintang – bintang angkasa
Namun satu bintang yang berpijar
Teruntai turun menyapa ku
(Mahadewi, Padi)

Pernah lihat video klip dari cuplikan lirik di atas? Lokasinya ada di Ujung Genteng, Sukabumi. Tapi kali ini, bukan tempat itu yang aku kunjungi. Tempat itu, masih menjadi wishlist untuk dikunjungi..


copyright by satubumikita :)
copyright by satubumikita 



Pantai, pantai, pantai..

Pasir, ombak, senja, nyiur, karang, itu yang langsung terbesit ketika aku mendengar kata Pantai. Dan Garut memilikinya. Seperti kota Malang, di Garut ada gunung dan ada pantai. Untukku 2 akhir bulan berturut-turut menikmati keeksotisan pantai. dan untuk perjalanan kali ini, keinginan untuk mencoba tenda baru dengan alas pasir dan angin laut akhirnya tertuai juga :)
Perjalanan kali ini, aku bersama dengan teman-teman Satu Bumi Kita. Ini kali kedua aku jalan bersama mereka.



28 Mei 2013
Harusnya perjalanan menuju garut dimulai sejak jam 5, tapi karena akhir bulan dan kebetulan akhir triwulan kedua tahun takwim, untuk ijin pulang cepet tentu sulit, dan masih banyak hal-hal yang harus dirapikan untuk menutup bulan itu. Akhirnya baru bisa benar-benar berangkat jam 7.10an malam. Begitu keluar jalan, aku disambut dengan macet weekend dan macet perbaikan jalan. Jarak sekitar 2 Km ditempuh dalam waktu 30menit by Angkot. Sampai di gerbang tol buah batu, usaha untuk telpon order taksi tidak membuahkan hasil. Akhirnya berjalan ke pangkalan taksi, dan justru mendapatkan taksi sesaat sebelum sampai ke pangkalan taksi.

Taksi yang bapak sopirnya masih makan malam, aku tungguin saja, toh armadanya sama. dan gak rugi aku nungguin bapaknya, ternyata depan pangkalan taksi pun ada beberapa penumpang yang juga sepertinya menunggu taksi yang sama.

Singkat cerita, sampailah aku di gerbang tol Cileunyi, beberapa saat aku menunggu, bus jurusan Garut datang, walaupun bukan jenis bus yang kuinginkan.

Kurang dari setengah sebelas malam, sampailah aku di Garut, sedikit berlari keluar dari terminal untuk menemui teman-teman yang sudah lama menunggu aku (maaf ya teman-teman…). Saat ketemu mereka, nampak wajah-wajah baru, itu artinya nambah teman baru. Tapi sedikit agak kaget sih, ketika melihat dari jumlah kita yang ber-9, 6 di antaranya cewek.

Tidak berlama-lama, kamipun segera memulai perjalanan menuju Ranca buaya, titik awal susur pantai ini, dengan berdoa. Setelah sekitar 6 jam ke depan, didominasi dengan angin malam, obrolan, dan istirahat. Kalau aku sih, lebih banyak tidur, memang sudah lewat waktu jam tidur :mrgreen: . dan di tengah-tengah itu juga, bapak sopir mengambil sekarung wortel di Cikajang, dan yg nantinya kami diserahin setengah karung wortel (bengong aja pas dapat ini buat apa, akhirnya kami ambil beberapa untuk perbekalan, dan sebagian kami serahkan kepada warga di Ranca Buaya.

Di antara 6 jam perjalanan itu ada pemandangan yang cantik.. bulan di antara awan-awan mendung. Cantik, hanya sekali-kali aku mengintip di antara tidurku :roll: , ah sudahlah, suasana seperti ini bikin mellow dan membawa sebuah kenangan.




29 Mei 2013
Angin masih menemani, dan sempat kendaraan kami berhenti untuk sekedar rehat dan menghilangkan kantuk. sekitar pukul  03.30an kami pun rehat kesekian kali. di situ ada sebuah masjid. Dengan kondisi sopir yang tidak begitu paham dengan arah tujuan, beberapa teman pun mencari informasi tentang tempat tujuan kami. Sempat sih, kami salah ambil perempatan, walaupun sebenarnya tidak salah, tapi itu bukan jalur resmi.


sekitar pukul 5, akhirnya kami sampai di Pantai Rancabuaya, nuansa sudah mendung, dan rintik hujan juga sudah turun sejak beberapa waktu lalu. Beberapa kawan segera mencari mushola untuk sholat shubuh, dan berlanjut istirahat sambil menunggu matahari terbit.


Akhirnya pagi itu, ditemani dengan hujan, kami pun tetap melanjutkan hidup dengan memasak untuk sarapan. Bukan makanannya yang menjadikannya istimewa, tapi suasana dan kebersamaannya yang membuat istimewa.. Ah, inilah yang selalu aku kangenin ketika pergi bersama kawan-kawan.


Tak lama usai sarapan, hujan sedikit mereda, dan kami bersiap untuk mulai berjalan menyusuri pantai. Suasananya sendu kawan, berawan, berangin, dan sedikit rintik. Namun itu tak bertahan lama. Matahari pun perlahan menampakkan diri.


Perjalanan kita terbilang cukup lambat, karena pemandangan yang cantik membuat setiap langkah ingin diabadikan. Ya, dengan kata lain, dikit-dikit ambil foto, dikit-dikit bernarsis ria.. :D
Pantai Rancabuaya, didominasi oleh karang, tak heran jika di pantainya pasirnya banyak terdapat batu-batu karang yg biasanya banyak dipakai buat akuarium. Dulu sih waktu kecil doyan banget ngumpulin beginian, kalo sekarang paling pungut satu dan nanti jatuh entah dimana.. :mrgreen: 


Setelah beberapa waktu berjalan, akhirnya kami melipir ke bukit menjauhi pantai, yang ternyata jalan semalam yg kita salah ambil perempatan. Di sana ternyata banyak lahan untuk penggembalaan sapi. Tak ketinggalan kami menyapa beberapa sapi, dan sapi pun menyapa kami :D 


Di jalan tersebut, kami juga sempat melipir ke arah pantai lagi, dan di sana terdapat semacam tanjung yg menjorok ke laut. Kita beristirahat sambil bernarsis ria kembali. :) Kami kembali berjalan, dan bertemu dengan jalan utama. Beberapa waktu kami berjalan, kami pun beristirahat kembali sambil nyemil-nyemil. Sambil ngobrol, berfoto ria, ada sebuah mobil TNI yang lewat, kalo aku sih menyebutnya mobil tronton. Kami diijinkan oleh bapak-bapak TNI untuk ikut bersama kita. Dan langsung meluncur ke Santolo. (saat itu, langsung terpikir, jadwal sampai santolo esok hari, tapi hari ini sudah akan sampai santolo, semacam pertunjukkan yang ada narasinya seperti ini “24 Jam kemudian…” :D )


Entah, saat itu aku buta waktu, gak tau berapa jam kami menumpang mobil TNI, yang jelas kami sudah bernarsis ria, dan aku sempat tertidur cukup pulas. :D . selang beberapa waktu, setelah merasakan tidur di atas mobil yang melewati jalanan yang membuat berayun-ayun (susah menjelaskannya) tibalah kami di persimpangan pamengpeuk.


Terlihat ada alfamart, aku ambil kesempatan untuk membeli Teh dalam kemasan yang dingin. Seger banget dalam kondisi cuaca terik seperti itu. Setelah itu, kami melanjutkan jalan ke pantai Santolo. Sepanjang perjalanan, aku sudah membayangkan akan nikmatnya ikan bakar, seketika itu perutku bunyi.. sudah waktunya makan siang sepertinya.. :D 


Sepanjang jalan pun, beberapa di antara kami saling tukar cerita, mulai hafal nama-nama teman-teman seperjalanan, dan tak lupa untuk foto narsis. Sempat kami, ‘mengerjai’ salah satu dari kami, karena dia saking enaknya jalan sendiri di depan, dan tak sadar bahwa kami berhenti jauh di belakangnya. ^^


Kami pun menemukan tempat, untuk beristirahat dan bermain. Kami mulai memasak perbekalan kami untuk makan siang. Sebagian memasak, sebagian berusaha membantu memasak, dan sebagian lagi main.. :D , main air, main ombak, main pasir, lomba lari (yang waktu itu aku gagal paham dengan aturan mainnya), ada juga proses ‘penguburan’ seorang kawan, yang tak terselesaikan karena tiba-tiba ombak besar datang :D 


Sekitar pukul 3, kami melanjutkan perjalanan kami, dan mampir dulu untuk bebersih. Awalnya, aku gak ikut ngantri bebersih, pengen di tempat nge-camp aja nanti, khawatir nanti tergoda basah-basahan lagi, tapi akhirnya ikut ngantri juga. :D Setelah pada seger, wangi kami melanjutkan ke sayangheulang. Di sini kami agak bingung, karena sebelum melanjutkan perjalanan, aku sempat kontak teman, bahwa sayangheulang deket dari santolo, nanti nyebrang, dan ada jembatan. Tapi yang kuliat hanya perahu tanpa jembatan. Setelah tanya sana-sini, ternyata kami harus berjalan agak jauh sedikit. Saat jalan, ketemu dengan tempat pelelangan ikan, dan sepertinya itu juga sebuah terminal. Dan harganya ternyata mempunyai selisih yang cukup jauh jika dibandingkan beli di pinggir pantai. Akhirnya kami beli ikan 3 ekor. Bekal untuk makan malam. (akhirnya akan keturutan juga makan ikan bakar.. :mrgreen: )



Kami menemukan tempat penyeberangannya. Hanya menggunakan rakit bambu. Agak sempit hati aku menaikinya… udah mandi, jangan sampai kecebur lagi… dan harusnya ongkosnya per orang 2000, tapi kami hanya ngasih 1000an per orang dengan beragurmen 2000 itu bolak-balik, besok bayar separonya lagi. Padahal esok hari kami pulang dengan jalur yang berbeda… ( harusnya ada yang tanggung jawab nih dengan statement ini, kasihan abang rakitnya).


Akhirnya, ketemu juga dengan jembatan sayangheulang di penghujung hari. Jembatan yang sepertinya sudah kehilangan fungsinya. Dan kami pun mencari tempat untuk camping. Aku sendiri, berjalan sambil mengamati susunan pohon berdaun lancip itu, mencari bentuk yang serupa dengan yang ada di sebuah foto. Tapi sepertinya tempat itu luput dari pandanganku. Senja sudah mulai tenggelam, kami menemukan sebuah lokasi yang menurut kami cocok. Tenda didirikan, dan istirahat sebentar untuk sholat, dan mulai lah kami masak untuk makan malam. Untuk ikan yang kami beli tadi sore, sudah ada seorang chef yang mengolahnya, kami percayakan ikan itu pada chef kami.. :D 


Ditenga kesibukan kami masak-masak, datang sekawanan kawan satubumikita dari garut, yang ikut bergabung dengan kami. Sayangnya, aku sendiri,  belum sempat ngobrol banyak dengan mereka, hanya bersalam nama, dan sekejap aku lupa dengan nama-nama mereka.. (maafkan.. :( )


Angin pantai, langit berbintang, kawan baru, menjadikan ikan bakar, nasi, sambal, menjadi lebih nikmat. Terima kasih kawan. Karena tenda hanya 2 buah, yang gak akan muat dengan jumlah kami yang bersembilan, akhirnya kami tidur tanpa tenda, langsung beratapkan langit. Alhamdulillah, mendung yang dari tadi menggelayut, mulai terarak oleh angin, dan nampaklah gugusan bintang itu.. Spontan, aku teringat lagu dengan lirik di awal tulisan ini. Momen yang selalu aku sukai, bintang yang Nampak lebih terang dan lebih banyak. Kami pun tertidur berjejer di bawah keindahan itu.



30 Juni 2013
Udara dingin yang menyentuh wajah membangunkanku, waktu menunjukkan angka 2. Langit gak terang lagi. Awan mulai datang, dan rintik hujan mulai turun. Aku dan teman bergegas, merapikan barang-barang dan pindah ke sebuah warung kosong. Tapi rintik itu tidak berlangsung lama, dan kami pun membenamkan diri kembali dalam sleepingbag di selasar warung.

tendaku... :D
tendaku…

Fajar sudah mulai terbit. Usai subuh, aku dan beberapa kawan, berjalan untuk menikmati pagi. Sepanjang pesisir pantai, di beberapa titik ramai oleh pengunjung. Tak lama berjalan, terlihatlah sebuah karang, dan dalam hati aku berharap, nanti akan melanjutkan perjalanan ke sana. Tak lama berjalan, sampailah pada sebuah bangunan yang berfungsi sebagai gardu pandang. Dan tak jauh dari situ, berdirilah sebuah tugu, yang menggambarkan nama dari pantai ini, sebuah tugu dengan puncaknya berdiri seekor elang dengan sayap terkepak.


Tugu Sayang Heulang
Tugu Sayang Heulang

Sayang Heulang, kata teman, itu berarti elang yang disayang, entah lah apa arti nama itu sebenarnya, dan apa sejarah dari nama tersebut. Next time, we’ll know it. Matahari sudah mulai tinggi, kami kembali untuk  masak sarapan dan packing. Pagi itu, ombak yang datang dari arah yang tak terduga, membuat HP dari seorang kawan, harus tercicipi oleh asinnya air laut. Yang paling disayang adalah semua foto yang terekam disitu :D .


Sesampainya di tempat camp, saat beberes dan packing, teman yang datang dari garut, pamit untuk pulang, cepat sekali mereka datang dan pergi, belum sempat bertegur sapa lagi, belum hapal nama, sudah pamit saja. Tak sempat kita sarapan sama-sama. Semoga ketemu di kesempatan lain :) . Kepala ikan yang kemaren malam hampir tercampakkan, menjadi sala satu menu sarapan kami. Lagi-lagi diolah oleh chef kami, menjadi makanan yang special. :D 


sop kepala ikan
sop kepala ikan

Setelah makan, kami packing, dan berlanjut untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju karang yang terliat di awal pagi tadi.. dan kami meninggalkan tempat ini, dengan adegan pelepasan perahu kertas oleh beberapa nona-nona. Perahu kertas yang konon katanya berisi harapan-harapan, yang akan disampaikan kepada dewa neptunus or posedion ala film perahu kertas  *tepokjidat* jadi ngotorin laut aje :P 


perahu kertasku kan melaju.... :roll:
perahu kertasku kan melaju….
:roll:
Singkat waktu, sampailah kami di tempat karang itu berada, karang yang terlihat dari jauh seperti burung yang bertengger. Ternyata karang seperti itu ada di banyak tempat. Sekarang kami berada di sisi lain dari pantai Sayangheulang. Pantai ini didominasi karang dan pantai berpasir hitam.


pesisir
pesisir


Di pantai inilah ujung perjalanan kami dalam susur pantai episode in ;) .
cantik yah...
cantik yah…


Sepanjang pantai banyak kelapa, yang akhirnya menjadi permainan di antara kami. Dan akhirnya kami melipir kembali menjauhi pantai. Tapi aku dan 2 orang yang lain, masih menikmati pantai lebih lama… Aku yang melihat pantai pasir hitam yang pesisirnya bersih dari makhluk bernama manusia, langsung teringat pada sebuah VC berjudul ‘yellow’, yang dari awal sampai akhir hanya ada adegan jalan di sepanjang bibir pantai. Dan aku beserta dua kawanku, sejenak berpura-pura sedang meniru video clip itu.. :D , lagu habis, kami lanjutkan dengan berfoto-foto.. :D (teteup narsis)


rehat sejenak setelah menjauhi pantai ;)
rehat sejenak setelah menjauhi pantai ;)

Selanjutnya adalah susur sawah.. kami melipir menjauhi pantai, dan yang kami temui adalah ladang gembala sapi, sawah, dan sampai ketemu masjid, kami manfaatkan untuk rehat dan sholat. Saat perjalanan ini, aku menemukan tumbuhan yang kupikir tumbuhan “pletekan” yang jika kena air, buahnya akan meledak, tapi saat aku cemplungin ke genangan air, ternyata gak ada reaksi apapun. Sepertinya salah ingat bentuk tanaman itu.


sebelum susur sawah :D
sebelum susur sawah :D

yang kukira pletekan ternyata bukan
yang kukira pletekan ternyata bukan

Di tengah jalan, juga ketemu dengan penjual es potong, dan rame-rame pada beli dan makan es potong berbagai rasa.


Beli es potong
Beli es potong


Setelah bebersih dan rehat, kami melanjutkan perjalanan pulang. Tak lama ketemu dengan angkot menuju terminal pamengpeuk. Terminal yang sepi. Kami mampir untuk ngebakso dulu. Saat nunggu kendaraan untuk menuju garut/bandung, ada bus yang lewat. dan naiklah kami semua ke dalam bus.


Tapi kami diturunkan di CIkajang, dioper ke dalam elf. Kekhawatiranku untuk naik elf, terjadi juga. Elf itu, tidak ada kata penuh, sering kali sangat overquota, ini yang kurang kusuka. Tas pun ditaruh di atas, tanpa tertutupi oleh apapun, dan saat tas di atas kebasahan pun, hanya bisa pasrah.. :) Tapi semuanya itu tertutupi dengan rasa syukur dan sabar…  ini yang ku suka dalam sebuah perjalanan, rasa sabar, dapat jatah untuk dilatih :D 


Terima kasih untuk teman-teman dari satubumikita: kang taufik, gustaf, lia, rani, rahma, joti, tia,  ade.


5 komentar :

  1. mangstab nih perjalanannya..

    BalasHapus
  2. mantab..... semoga bisa menyusul kesana....

    BalasHapus
  3. Mau nambahin nih soal Sayang Heulang, Sayang itu artinya Sarang kalau dalam B. Indonesia. Jadi Sayang Heulang artinya Sarang burung Elang. Mungkin disitu dulunya banyak sarang burung Elang.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. nuhun kang boyorg tambahnya..
    di jurnal satubumikita 18 udah di bahas kang -> http://satubumikita.blogspot.com/2013/07/jurnal-satubumikita-18-pantai-selatan.html .. nuhun tos berkunjung oge ;)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...