Senin, 13 Juni 2016

Review Kegiatan : Sabuki Munggahan, Semalam Lebih Dekat, 4-5 Juni 2016




Tanggal 4 & 5 Juni lalu (sabtu & minggu), Komunitas satubumikita mengadakan sebuah kegiatan menyambut bulan suci Ramadhan, yaitu Sabuki Munggahan, Semalam Lebih Dekat. Kegiatan munggahan ini diadakan di camping ground Batu Kuda, Kaki Gunung Manglayang. Istilah Munggahan sendiri adalah tradisi masyarakat (sunda pada khususnya) dalam menyambut bulan Ramadhan. Area camp batu kuda dipilih sebagai tempat kegiatan karena aksesnya yang tidak terlalu jauh dari tengah Kota.


Sore di hari sabtu, tenda-tenda sudah terpasang dan sebagian kawan-kawan sudah berada di lokasi. Setelah acara dibuka, bada isya kegiatan pertama dimulai yaitu makan bersama. Munggahan memang cukup identik dengan makan bersama-sama. Setelah makan bersama, sesi selanjutnya adalah perkenalan. Api unggun mulai menyala menghangatkan suasana di tengah perkenalan, lilin dan pelita yang terbuat dari botol sedikit menerangi suasana camp yang semakin gelap.



Seusai perkenalan, sesi selanjutnya diiisi oleh materi dari mang Pepep. Mang pepep adalah aktivis dari berbagai komunitas, termasuk sabuki (gabung sekitaran tahun 2012). Materi yang disampaikan mang pepep adalah mengenai Pengenalan kawasan, khususnya kawasan Konservasi yang terbagi menjadi beberapa tingkatan. Menurut mang Pepep, saat ini ada beberapa titik kawasan yang notabene adalah kawasan konservasi dengan tingkatan paling tinggi yaitu Cagar Alam yang banyak dikunjungi antara lain Ciharus dan Tegal Panjang. Dan seharusnya kawasan Cagar Alam tidak boleh dikunjungi sembarangan apalagi untuk rekreasi, kecuali untuk penelitian. Sedang kenyaataan sangat berbeda, kendaraan bermotor malah masuk kawasan Ciharus, yang masuk dalam Cagar Alam Kamojang, Ujar mang Pepep.



Selain itu, mang pepep juga menjelaskan mengenai hubungan gunung dengan Al-quran, di dalam Al-Quran gunung disebut cukup banyak, gunung diumpamakan sebagai tanda kehidupan dan kehancuran (kiamat). Materi terakhir yang disampaikan yaitu mengenai kampanye penyelamatan danau dan hutan Ciharus, yang kelestariannya dari waktu ke waktu terancam. Di kelilingi pohon pinus, api unggun dan cahaya pelita yang temaram suasana hangat tercipta sambil menyimak pemaparan materi yang bermanfaat.



Dan malam terus beranjak, setelah pemaparan materi dari mang Pepep, selanjutnya adalah pembacaan  puisi muhasabah karya dari kawan sabuki yaitu Ema Nurmalasari dan dibacakan oleh Ibu Armediawati, puisinya berjudul Cambuk Hati. Cahaya pelita semakin temaram, suasana mulai hening, pembacaan puisi muhasabah dimulai dengan petikan gitar dari mang Agus. Muhasabah tentang kehidupan, kematian, sifat tamak manusia, keduniawian, siksa kubur dan neraka lantang keluar dari suara Ibu Armediawati. Manusia memang harus selalu diingatkan akan hal-hal tersebut, kehidupan bukan tentang bersenang-senang, namun harus memiliki makna dan tujuan agar tidak menyesal diakhir. Malam semakin larut, pembacaan puisi selesai. Sesi bebas untuk bercengkrama di isi dengan kegiatan santai bersenandung dan bernanyi sampai dini hari.


***

Udara pagi yang dingin dan segar menyambut hari yang baru. Setelah malam minggu kegiatan lebih kepada pengetahuan ilmu dan muhasabah. Pagi ini akan diisi oleh kegiatan yang lebih santai. Seusai senam pagi yang dipimpin oleh Gustaf, kegiatan selanjutnya adalah jalan santai menuju Situs Batu Kuda dan sharing perjalanan bersepeda dari mang Tedy (Tdy Accelerator).


Sesampainya di lokasi Batu yang dinamai Batu Kuda dan banyak kawan-kawan yang keheranan kenapa dinamai Batu Kuda padahal bentuknya kurang mirip Kuda (untuk legenda batu kuda bisa di googling sendiri ).



Sesi bercerita dari mang Tedy pun dimulai. Perjalanan bersepeda jarak jauh dari Bandung – Surabaya (loading pakai kereta) dilanjut bersepeda Surabaya – Lombok – Bandung. Dengan menggunakan sepeda federal, perjalanan pergi-pulang memakan waktu tempuh sekitar 40 hari. Selain bersepeda, mang Tedy juga sempat mendaki Gunung Rinjani. Perjalanan ini menurut Mang Tedy adalah salah satu cara “Mencari Tuhan”. Banyak cerita dan pengalaman menarik yang disampaikan serta pelajaran yang didapat.


Kegiatan masih berlangsung, setelah berkunjung ke Situs Batu Kuda dan sharing perjalanan bersepeda dari Mang Tedy, acara selanjutnya adalah games atau permainan kelompok yang seru. Seusai makan pagi, properti games dipersiapkan. Di tengah lapang, kawan-kawan sabuki telah kembali berkumpul untuk meramaikan. Games seru yang diadakan antara lain, estafet terigu dan perang badar. Keseruan dan keceriaan tak terelakan, suasana ramai tak bisa dihindarkan. Doorprize yang masih banyak dari para pendukung acara mulai kembali dibagikan dengan cara diundi.


Sesi demi sesi kegiatan dari malam minggu hingga minggu siang sudah terlaksana mewarnai waktu kawan-kawan sabuki. Setelah dzuhur, kegiatan Sabuki Munggahan, Semalam Lebih Dekat, resmi berakhir dengan saling memaafkan dan berjabat tangan. Semoga kegiatan ini bermanfaat.. Terima kasih untuk para sponsor, pendukung / pengisi acara, kawan-kawan sabuki yang sudah hadir dan dari komunitas-komunitas yang sudah ikut meramaikan ( Pendaki Koboi Indonesia, BOPALA, KPGRB / SAPARAKANCA, JGB ).


Selamat berpuasa kawan-kawan sabuki semua. Terima kasih.
(Komunitas satubumikita)








Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...