Sabtu, 16 Maret 2013

Jurnal satubumikita #15 : Menggapai Srimanganti di Tatar Pangirutan

Jurnal amatir satubumikita, no. 15 bulan Maret 2013.



Senja yang mendung diantara keriuhan kota dan kepadatan lalu-lintas menemani perjalanan kami di hari Jumat itu. Tak lama kemudian air dari langit tumpah ruah mengguyur bumi. Malam datang membawa gelap yang dingin. Perjalanan dari kota kembang baru dimulai, kemacetan tak terelakan di jalur yang tergenang banjir. Tujuan utama kami di hari itu adalah menuju kota Garut, kota dengan banyak sebutan; kota intan, kota dodol, swiss van java atau tatar pangirutan. Tempat yang akan sedikit satubumikita jelajahi di tatar pangirutan yaitu; Gunung Cikuray. Sebuah gunung yang bila dilihat dari kejauhan membentuk sebuah kerucut yang hampir sempurna. Setelah perjalanan di dalam elf yang penuh sesak berjejal yang bisa dikatakan over capacity. Kami pun sampai di terminal Guntur yang ramai oleh para calo-calo yang seakan menjadi buas bila berburu penumpang, berebut pecahan rupiah untuk mengisi periuk nasi, memang cukup wajar bila melihat kondisi ekonomi negara kita yang penuh ketimpangan.


Setelah semua partisipan pendaki berkumpul, perjalanan dari Terminal Guntur berlanjut menuju titik awal pendakian di daerah Cilawu, Pemancar Televisi di Perkebunan Teh PTPN VIII Dayeuh Manggung. Menumpang mobil bak terbuka, kami ber-16 melaju membelah kota Garut yang mulai sepi di temaramnya malam. Sesampainya di perkebunan teh, kami mendaftar pada petugas jaga dan perjalanan kembali berlanjut. Di sebuah pertigaan mobil terpaksa berhenti dan perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki menuju cahaya lampu di sebuah Stasiun Pemanacar Televisi yang seolah dekat, tapi jauh ternyata. Setelah sedikit berputar di perkebunan teh yang terhampar luas gelap, kami memutuskan untuk beristirahat dan mendirikan tenda di sebuah cerukan kecil di dekat aliran air yang mengalir. Langit Garut yang cerah dengan jutaan bintang gemintang yang jarang kami saksikan di belatara kota, mungkin karena polusi cahaya kota begitu kentara sehingga bintang hanya sedikit yang terlihat.


Foto lama Gunung Cikuray dari arah Cisurupan (1920-1940). koleksi Tropenmuseum Amsterdam.

***
Pagi datang menyambut, cerah merona di ufuk timur. Setelah kembali menumpang angkot, karena ternyata jarak tempat kami bermalam menuju stasiun pemancar cukup jauh. Setelah diisukan "Hilang diantara 2 puggungan", perjalanan pendakian benar-benar dimulai. Kami ber-16 mulai berjalan beriringan dengan jalur awal tanjakan kebun teh sebagai jalur selamat datang. Seusai melewati perkebunan teh, vegetasi mulai berganti memasuki hutan hujan tropis. Tepat di kaki Cikuray, para warga banyak menanam tanaman berjenis sayuran serta ditanam pula jenis rumput yang tinggi. 

Tanjakan awal memang cukup menghentak, ya karena itu baru awal dan permulaan. Perjalanan masih panjang dan ada 6 pos yang harus kami lewati. Untuk mengisi persediaan air saat mendaki, ada 3 titik yang bisa dimanfaatkan; pertama di perkebunan teh  dekat tiang listrik mejorok ke sebuah lembah, kedua dan ketiga ada di sekitar pos 1-3 berupa pipa air yang bocor. Medan yang harus kami lalui memang cukup panjang dan tentunya terus menanjak. Bila pernah mendaki Gunung Burangrang, tanjakan-tanjakannya seperti tipe tanjakan Burangrang tapi dengan jalur lebih panjang. Banyak orang yang mengibaratkan secara hiperbola jalur Cikuray seperti "Dengkul ketemu jidat". Di sepanjang jalurpun selain ditumbuhi oleh pohon-pohon besar juga ditumbuhi oleh tanaman perdu, merambat serta tanaman berbunga yang cantik, di tambah masih terdapatnya burung-burung hutan yang berkicau indah, bahkan elang pun masih dapat kami saksikan terbang riang gembira mencari mangsa.


***

Gunung Cikuray sendiri memilki ketinggian sekitar 2818 mdpl atau 2821 mdpl (entahlah mana yang akurat). Ada 2 jalur lain selain melalui perkebunan teh Dayeuh Mangung, yaitu melalui Cikajang dan Bayongbong.  Menurut sebuah laman blog yang mengutip dari harian Pikiran Rakyat, Gunung Cikuray memiliki nama kuno yang disebut sebagai Sutanangtung, Gunung Larang Srimanganti yang dulu pernah ada seorang pertapa yang bernama Kai Raga [1]. Ada pula yang menyebutkan bahwa sekitar abad ke-17, lereng Gunung Cikuray menjadi mandala, yaitu pusat pertapaan para pendeta dan kegiatan tulis menulis kerajaan Padjadjaran. Bukti-bukti tertulis mengenai mandala ini masih tersimpan di sebuah Kabuyutan bernama Ciburuy yang terletak di Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Garut. Tapi yang menjadi pertanyaan satubumikita, kenapa Gunung tersebut berubah nama atau sebutan dari Srimangati menjadi Gunung Cikuray, mungkin ada yang tahu?

***
Perjalanan berlanjut, hujan pun tak dapat dibendung oleh pawangnya, dan membuat kami kuyup kebasahan serta menjadikan jalur yang kami lewati menjadi aliran air yang deras berwarna sama seperti bajigur. Perjalanan menjadi cukup berat, tapi menjadi tantangan tersendiri untuk mencapai tujuan, seperti halnya dalam hidup, cobaan adalah untuk menempa kita agar lebih kuat menghadapi jalan hidup yang berliku dan sampai ditujuan dengan penuh perjuangan. Setelah sekitar 7 jam berjalan menempuh rimba Cikuray, sampai lah kami di sebuah tanah lapang yang telah ramai oleh para pendaki lain. Tujuan kami secara fisik mungkin puncak, tapi lebih dari itu banyak pelajaran tak kasat mata yang berharga kami dapat. Senja di puncak Srimangati yang jingga terhalang kabut tipis, menemai para anak manusia yang menyepi dari keriuhan kota yang angkuh. Semoga selepas kembali ke peradaban kota, kita dapat lebih bijak dalam hidup, karena pendakian bisa dikatakan minatur kehidupan manusia. (taufik/satubumikita)

Catatan kaki:
[1] Di kutip dari : http://www.mail-archive.com/urangsunda@yahoogroups.com/msg82554.html

***



Pendakian Gunung Cikuray, 8-10 Maret 2013:
  1. Triandini
  2. Lumongga Dian
  3. Puspita Supriati
  4. Yuni Permadani
  5. Khaerul
  6. Rudi Ahmad
  7. Rahmat Ahmad Zaelani
  8. Ferry
  9. Ozy
  10. Fahmi Nurul Anwar
  11. Muhammad Abduh
  12. Abriawan Andi
  13. Rangga Prasetya
  14. Nzeng (Abah Tuying)
  15. Ihsan Safaat
  16. Taufik Hidayat

Terima kasih, satubumikita.

Tags: pendakian gunung cikuray, catper gunung cikuray, cikurai, rute cikuray, angkot cikuray, bandung-cikuray, cikuray garut, srimanganti, jurnal cikuray, cerita cikuray, event pendakian, satubumikita

6 komentar :

  1. wah senang lihat yuni semangat mendaki gunung...ga pengen pulang lagi kan yuninya saat memulai pendakian seperti saat di ciremai???yuni...miss you

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga, suasana pendakian kita harus santai & ceria, jadi semuanya semangat .. :)

      Hapus
  2. seru menderu meriakkan air dipepohonan, pendakian yang mengasikkan...pasti.
    dari ke 16 pendaki itu pastinya bakal muncul sosok sosok asli mereka, saat pendakian semua prilaku asli akan terlihat, dan itulah yang akan mengeratkan jalinan persahabatan.
    kereeennnn.....

    coba sekali kali daki gunung kareumbi dibelakang rumahku, jalur dakinya dari Cilembu sinih...pasti lebih seru, soalnya ngga ada jalan setapak untuk menuju puncak, kita harus buka jalan terlebih dulu...suwer.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pasti ada 1-2 org yg sedikit sifat asli bakal keluar, apalagi saat kondisi yang capek, jalan nanjak, tapi balik lagi ke suasana dari tim itu sendiri, kalo suasananya ceria n fun ya pasti sifat2 asli yg jelek ga dimasalahin n dibwa santai... Ke Gn. Kareumbi blum pnah, tp ke kakinya udah, tepatny ke Curug Sabuk. kapan2 klo ada yg apal jalan hayulah kesana..

      Hapus
  3. Garut swiss van java :D

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...