Selasa, 05 Februari 2013

Jurnal satubumikita #14: Bertualang Ke Curug Siliwangi



Curug Siliwangi



Udara dingin dan sejuk menyapa kedatangan kami di pagi itu. Pohon pinus berjejer, menjulang serta ditingkahi riak arus sungai Cigeureuh yang menari-nari liar. Gerangan kedatangan satubumikita di kawasan sungai Cigeureuh yang termasuk dalam Wanawisata Gunung Puntang adalah untuk mencoba berkunjung ke salah satu objek air terjun (curug), yaitu Curug Siliwangi. Wanawisata Gunung Puntang berada di daerah Cimaung, Kabupaten Bandung.  Selain Curug Siliwangi, kawasan tersebut menjadi akses masuk menuju dua curug lainnya, yaitu Curug Cikahuripan dan Curug Gentong. Curug Cikahuripan merupakan curug yang terdekat dari area perkemahan serta aksesnya pun cukup mudah dijangkau, curug tersebut memiliki ketinggian sekitar 6 meter dengan aliran air yang jernih. Sedang Curug Gentong merupakan Curug yang jarang dikunjungi, karena jalur yang cukup sulit.   


***


Curug Siliwangi sendiri tepatnya berada di Gunung Reregean (1.874 mdpl) yang masuk kedalam kawasan pergunungan Malabar yang merupakan gugusan dari beberapa gunung lainnya, antara lain: Gunung Malabar (2.329 mdpl), Gunung Puntang (2.223 mdpl), Gunung Haruman (2.141 mdpl) dan Gunung Puncak Besar (2.189 mdpl). Menurut buku Jendela Bandung, Pengalaman Bersama Kompas (Her Suganda:2008), dalam riwayat kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda, nama Malabar sering dihubungkan dengan keberadaan Kerajaan Malabar. Konon kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang Ratu, yang merupakan bawahan dari Kerajaan Pajajaran. Menurut cerita masyarakat setempat, dari perkawinan antara Prabu Siliwangi (Raja Kerajaan Pajajaran) dengan Ratu Kerajaan Malabar lahirlah seorang anak, Gunung Malabar dipercaya sebagai tempat kelahiran putra Prabu Siliwangi tersebut.


Konon, saat sang anak dilahirkan, sang ratu berpegangan pada sebuah pohon. Gunung tempat berpegangan tersebut kemudian dinamakan Gunung Puntang, yang berasal dari bahasa sunda muntang yang berarti berpegangan pada sesuatu agar tidak terjatuh. Kemudian cerita berlanjut, sang bayi dibawa menuju Gunung Reregean untuk dibersihkan kakinya atau dimandikan. Di Gunung Reregean kemudian muncullah air terjun yang dinamai Curug Siliwangi. 


Dari legenda tersebut, Curug siliwangi selain menjadi objek wisata petualangan alam seringkali juga di ziarahi oleh masyarakat yang memang percaya pada cerita tersebut, untuk mendapat berkah karena dianggap tempat keramat. Hal tersebut ada sisi positifnya, karena semakin dikeramatkan sebuah kawasan khususnya yang berada di ekosistem hutan/alam maka bisa jadi semakin terjaga pula tempat tersebut karena dianggap tabu (pamali) untuk merusak/mengeksploitasinya.


***


Sebelum benar-benar masuk kedalam hutan dan memulai petualangan, kami harus melewati sebuah bekas kolam yang dibangun pada masa penjajahan Belanda, yang berfungsi sebagai penampung air untuk mikrohidro pembangkit listrik radio Malabar. Sekarang bekas kolam tersebut biasa disebut dengan Kolam Cinta, mungkin karena bentuknya yang seperti lambang hati. Di kawasan hutan tersebut dulu memang terdapat sebuah stasiun radio malabar yang legendaris, sayang bangunan utama radio sudah rata dengan tanah dan yang tersisa hanya secuil tembok. Selain itu masih banyak pula sisa serta puing bangunan bersejarah di sisi lain wanawisata Gunung Puntang, seperti Gua dan puing rumah-rumah pegawai radio.


Perjalanan menuju Curug Siliwangi pun dimulai. Jalur yang dilewati diawali dengan menempuh jalan setapak yang cukup jelas hingga kemudian harus menyusuri dan menyebrangi sungai di tengah hutan yang cukup lebat. Cuaca pagi itu cukup cerah dan mendukung perjalanan kami. Berselang berjalan menyusur jalan setapak, kami sempatkan berbelok dan sejenak beristirahat serta makan siang di Curug Gentong. Sungai indah, bersih dan berair jernih mungkin sangat jarang kita temui di kawasan Bandung dan sekitarnya, sungai Cigeureuh bisa jadi merupakan salah satu contoh sungai di tengah hutan kawasan Bandung yang masih asri dan cukup terjaga dan belum terlalu banyak tercemar. Hal tersebut bisa jadi karena  hutan yang masih cukup terjaga dan belum terlalu banyak dieksploitasi oleh aktivitas penebangan pohon yang berlebihan.


Seusai beristirahat sejenak dan menikmati suasana sunyi hutan dan sungai, perjalanan menuju Curug Siliwangi kembali dimulai. Langit sedikit demi sedikit mulai kelabu dan menghitam, mendung pun  tak ayal menggelayut ditemani kabut tipis. Perjalanan masih cukup panjang, medan yang ditempuh semakin menantang, menyebrangi dan menyusuri sungai berarus liar yang mau tak mau harus kami lalui. Jalur menuju Curug Siliwangi yang beberapa bulan kebelakang masih cukup terlihat jelas, sekarang mulai ditumbuhi rumput yang membuat jalur sedikit tertutup, mungkin karena jarang dilewati.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan berbagai medan, akhirnya sampailah kami di Curug Siliwangi. Sebuah air terjun indah dengan jatuhan air mencapai sekitar 75 meter yang berada di permukaan ketinggian sekitar 1.700 mdpl. Saat itu, air curug sedang dalam debit yang sangat besar, ditambah tak lama berselang hujan deras mengguyur yang membuat debit air semakin besar. Terpaksa kami tak terlalu lama menikmati keindahan curug, karena selain hujan deras kabut yang mulai memekat mulai turun. Jalur yang kami lalui pun tak ayal menjadi sebuah aliran air seperti sungai yang mengalir.


Perjalanan turun menjadi semakin berat, karena hujan lebat yang mengguyur membuat debit sungai menjadi besar dan liar. Adrenalin semakin membuncah tatkala kami harus melewati arus liar yang bisa saja membuat kami terhanyut. Puji syukur, sebelum petang kami sudah sampai dengan selamat di gerbang keluar wanawisata untuk selanjutnya meneruskan perjalanan pulang menuju Bandung. Hari yang cukup melelahkan tapi menyenangkan, masih bisa diberi kesempatan bercengkrama dengan sang alam. (Taufik/satubumikita)***




Bertualang Curug Siliwangi, 3 Februari 2013


Puspita Supriati
Triandini
Novi Eka Evriani
Deya Prastika
Taufik Hidayat


Terima kasih.


6 komentar :

  1. ko gk ngeh ya lwat kolam cintanya hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan udah dibilang pas mau masuk hutan, kolam yg kering itu kolam cinta.. :)

      Hapus
  2. Keren tulisannya.. Btw anak prabu siliwangi di legenda itu siapa namanya.? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih.. :) .. Admin ga bisa mastiin anak siliwangi yg dimaksud dlm legenda ini siapa,tp bisa jd adalah kian santang (mungkin).. karena ini hanya legenda.

      Hapus
  3. sungai2 di bandung, bagaimana kondisinya sekarang?
    salam kenal
    Gravity Adventure

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...