Selasa, 11 Desember 2012

Jurnal satubumikita #12 : Jejak Kecil di Karst Citatah


Minggu pagi yang cukup cerah, menemani awal perjalanan kami di bilangan Stasiun Bandung. Bertolak menumpang Kereta KRD ekonomi, kami bergegas berjalan beriringan menuju gerbong yang sudah terparkir di hadapan. "Kereta Rakjat Djelata" yang cukup membantu transportasi massal tersebut pun melaju membawa kami menuju titik selanjutnya ke Stasiun Padalarang

Hari itu, kegiatan satubumikita adalah mencoba untuk sedikit mengeksplorasi kawasan karst Citatah di daerah Padalarang, Kab.Bandung Barat. Sekitar 1 Jam kereta melaju, akhirnya kami pun sampai di Stasiun Padalarang yang cukup ramai. Seusai makan pagi, kami pun kembali bergegas menuju titik henti selanjutnya yaitu Situ Ciburuy dengan menumpang angkutan umum. Bila kita pernah mendengar lagu berbahasa sunda berjudul "Bubuy Bulan" yang dulu sangat terkenal, dengan liriknya yang bercerita tentang keindahan Situ Ciburuy. 

"Situ Ciburuy
laukna hese dipancing
Nyeredet hate
Ningali ngeplak caina.."

 ***


Gunung Hawu/ Natural Arch Bridge
Seusai berkumpul di Situ Ciburuy yang sekarang mengalami pendangkalan, kami kembali berjalan beriringan menuju objek pertama yang akan kami kunjungi yaitu, Gua Gunung Hawu (biasa disebut hanya "Gunung Hawu") atau ada pula yang menyebutnya "Natural/Arch Bridge" (Lengkungan alami). Gunung Hawu adalah sebuah lengkungan alami di sebuah tebing tegak. Lengkungan yang secara keseluruhan merupakan lubang di dinding batu gamping tersebut mempunyai ukuran yang cukup besar.Lebarnya sekitar 30 meter dan tinggi sekitar 70 meter dan menggantung di atas dinding setinggi 30 meter dari jalan tambang batu yang ada di bawahnya. Hawu dalam bahasa sunda berarti tungku, karena memang bentuknya yang berlubang seperti tungku untuk memasak saat zaman dahulu.





Gunung Hawu
Bila dilihat dari salah satu sudut di bagian bawah jauh, Gunung Hawu tersebut seperti sebuah jembatan batu alami. Hamparan sawah yang berada di bawahnya menambah keindahan pemandangan Gunung Hawu tapi berbanding tebalik dengan yang ada di sekitarnya, penambangan batu kapur yang cukup eksploitatif. Lengkungan alami Gunung Hawu memang cukup langka dan salah satu lengkungan yang serupa terdapat di beberapa monumen Nasional di Amerika, di antaranya seperti Natural Bridge di Virginia dan Arches National Monument di Utah. Lengkungan alami Gunung Hawu terbentuk dari batu gamping yang prosesnya lebih mirip dengan pembentukan jembatan batu alami di Virginia. Prosesnya berupa karstifikasi (proses pelarutan senyawa karbonat sebagai bahan utama batu gamping/kapur). 

Istilah karst yang dikenal di Indonesia menurut wikipedia sebenarnya diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia. Istilah aslinya adalah krst/krast' yang merupakan nama suatu kawasan di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat kota Trieste.

Pemandangan yang cukup indah terhampar di hadapan, sekaligus miris melihat eksloitasi alam yang cukup berlebihan. Beberapa tahun kebelakang memang kawasan Karst Citatah sempat hangat dibicarakan karena penambanagn akan ditutup, tapi karena kebanyakan warga sekitar menggantungkan hidupnya dari tambang batu, maka keadaan tersebut seperti pepatah, makan buah simalakama, dimakan ibu mati, tidak dimakan ayah mati. Eksploitasi tersebut yang cukup kentara adalah dari perusahaan-perusahaan besar yang sudah cukup ternama.

Dibalik rusaknya keadaan alam di sekitar Karst Citatah memang masih menyisakan sedikit keindahan yang terpendam. Dari puncak Gunung hawu kami kembali berjalan melewati jalur bekas alat berat (Bekho) untuk menuju spot terbaik menikmati keindahan Gunung Hawu. Setelah berjalan menyusuri jalan berlumpur ekstra tebal dan gugurusukan di semak belukar, kami pun sampai di jalur sawah di bawah Gunung Hawu. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, keindahan Gunung hawu bersama hamparan sawah menyuguhkan pemandangan yang berbeda dan sulit di temui di kawasan lain. Selain sawah, banyak pula petani yang berkebun pohon jambu batu. Beruntung saat kami melintas, kami dipersilhakan oleh salah satu petani yang baik hati untuk mengambil jambu di pohon miliknya dengan cuma-cuma tanpa membayar.

***


Seusai beristirahat sejenak di saung milik petani di tengah hamparan sawah dan langit yang cerah membiru, perjalanan kembali berlanjut. Objek selanjutnya yang akan kami kunjungi adalah Gua Pawon. Sebelum menuju Gua pawon, kami harus berjalan melewati tambang-tambang batu kapur yang di tambang dengan cara tradisional/manual. Warga yang menambang batu di tebing bergelantungan hanya dengan bermodalkan tali tambang dan linggis, cukup miris melihat cara kerja para warga tersebut karena faktor keselamatan yang sangat minim. Dari Gunung hawu, kami harus berjalan menuju jalan besar di daerah jalan Pamucatan, untuk selanjutnya perjalanan disambung menggunakan angkutan umum.

Gua Pawon
Seusai menumpang angkutan umum, kami berhenti di sebuah jalan yang telah di beton, di atasnya terdapat sebuah gapura yang menjadi tanda bahwa kita akan memasuki kawasan Gua pawon. Sejak dari jalan raya memang kita akan disuguhi pemanadagan berupa gugusan bukit dan puncak kerucut kapur yang menjulang. Panas terik yang cukup menyengat di musim hujan menemani langkah kami. Sekitar 45 menit kami berjalan, akhirnya kami sampai di objek kedua, yaitu Gua Pawon.

Salah satu bagian Gua Pawon

Bau kotoran kelelawar mulai tercium, kelelawar kecil berterbangan menyambut kedatangan kami dengan suara yang khas. Jalur gua yang temaram dan lembab menambah suasana petualangan semakin kentara. Gua Pawon sendiri memiliki panjang sekitar 38 m dan lebar 16 m. Lantai gua hanya tersisa sebagian kecil di sisi barat karena sudah digali oleh masyarakat setempat untuk pengambilan fospat dengan kedalaman 4-5 m. Sedangkan lantai bagian tengah tertimbun oleh bongkahan runtuhan atap, sebagian besar sudah tererosi, sehingga membentuk lereng yang cukup terjal. Berdasarkan hasil survai A.C. De Yong dan G.H.R. Von Koenigswald tahun 1930-1935,  ditemukan alat-alat budaya masa lalu dari bahan obsidian, kalsidon, kwarsit, rijang dan andesit berupa anak panah, pisau, penyerut, gelang batu, batu asah dari Jaman Preneolitik, yang hidupnya mulai menetap di gua-gua atau ceruk atau sering kali dijumpai di kawasan perbukitan gamping.

Hasil ekskavasi pada tahun 2003 dan 2004 berhasil ditemukan berbagai bentuk artefak berupa pecahan keramik, gerabah, alat serpih, alat tulang berbentuk lancipan dan spatula, alat batu pukul (perkutor), sisa perhiasan yang terbuat dari gigi binatang dan lain-lain. Yang paling penting adalah diketumukannya fosil manusia purba yang berada di salah atu ruangan di Gua Pawon.


Replika Manusia purba di Gua Pawon


Keindahan alami gua cukup ternoda dengan banyaknya vandalisme berupa coretan-coretan cat semprot, ya cukup disayangkan padahal tempat tersebut adalah situs yang cukup penting di Jawa Barat. Seusai menikmati suasana dan mengabadikan keadaan gua, kami pun bergegas keluar menuju pendopo. Setelah lelah berkeliling dari sedikit kawasan Karst Citatah, perut kami mulai meronta untuk diisi. Sesi makan bersama (botram) dimulai, dengan menu yang cukup komplit. Ehmm, salah satu dari keasyikan dari kegiatan petualangan dan mengeskplorasi keindahan di alam yaitu saat dimana kita berkumpul, bertukar pikiran dan berbagi makanan bersama.


Gunung Masigit dan Taman Batu
Angin bersemilir sejuk di saat hawa panas menyengat, ahh segarnya. Seusai makan bersama, sebagian beristirahat dan sebagian lagi memilih melihat-lihat sebuah maket renacana kawasan Wisata Budaya Gua Pawon yang berada di tengah-tengah pendopo. Dirasa setelah cukup beristirahat, perjalanan berlanjut menuju titik terakhir eksplorasi Karst Citatah, yaitu Stone Garden, atau Taman batu, atau bahasa lokalnya Puncak Pasir Pawon. 

Gunung Masigit tahun 1917

Jalan yang harus kami lalui, berupa tanjakan yang cukup menguras tenaga, ada yang menyebut tanjakan tersebut dengan nama "Tanjakan frustasi". Sebelum sampai di Taman Batu, kami pun melewati sebuah bukit yang sudah cukup rusak tertambang yaitu, Gunung Masigit. Sekarang gunung tersebut memang tidak lagi di eksploitasi (ditambang), tapi sisa-sisa "pengrusakan massal" masih nampak terlihat dan membekas dengan bopengnya salah satu bagian gunung.

Taman batu, dengan latar Gunung Masigit

Setelah trekking menanjak sekitar 30 menit, objek terakhir yang kami tuju sudah ada di pelupuk mata. Sebuah hamparan batu yang berserakan di atas puncak bukit, sesusai nama lokal "Puncak Pasir Pawon" yang bisa diartikan sebagai Puncak Bukit Pawon. Ya, memang karena taman batu berada di atas Pawon (Gua Pawon). Hamparan batu kapur/gamping yang mungkin jarang kita temui di tempat lain. Di atas kami bisa melihat sekeliling kawasan Karst Citatah tanpa terhalang. Di kejauhan nampak pula sebuah kereta api yang sedang berjalan menuju Cianjur seperti seekor cacing, di bawah Taman batu terdapat pula sebuah daerah bernama Cibukur yang indah dengan hamparan sawah yang membentang.  Indah nan miris, keindahan ciptaan Tuhan yang berdampingan dengan "pengrusakan massal", dan entah sampai kapan keindahan itu dapat kita nikmati. 


Legenda Sangkuriang di Citatah
Ada hal yang cukup menarik pula dalam perjalanan satubumikita, yaitu ada kaitannya dengan legenda Sangkuriang. Ternyata legenda Sangkuriang bukan hanya tentang pembentukan Gunung Tangkuban Parahu dan toponim daerah sekitarnya, tapi juga berkaitan dengan objek-objek yang kami kunjungi. Menurut cerita lisan dari sesepuh kampung Rancamoyan, Desa Gunung Masigit, sebenarnya amarah Sangkuriang tidak berhenti sampai hanya dengan menendang Perahu lalu menjadi Gunung dan di tambah adegan mengejar Dayang Sumbi.

Ternyata Sangkuriang mengobrak-abrik persiapan pesta pernikahan. Selain perahu, semua barang di tendangnya, dari Lumbung, tempat beras, sisa-sisa makanan, manik (perhiasan), alat tetabuhan  hingga tungku untuk memasak. Berdasarkan cerita tersebut, Legenda sangkuriang berlanjut ke Kawasan Karst Citatah. maka muncullah Toponim dari bukit-bukit kapur yang ada di sana yang erat kaitannya dengan amarah sangkuriang.

Sebut saja Pasir pawon (dapur), Pasir Leuit (Lumbung), Pasir Pabeasan (Tempat beras), Gunung hawu (tungku). Pasir sendiri dalam bahasa sunda berarti Bukit. Selain itu ada pula nama Pasir Bende dan Gua Ketuk yang berarti alat tetabuhan serta Pasir manik yang berarti perhiasan. Lalu sisa makanan yang terburai berserakan menjadi Lembah  cibukur, sisa makanan dalam bahasa sunda di sebut "bukur".

Sore mulai menggelayut, seolah enggan beranjak dari Taman Batu, kami cukup asyik berada di hamparan taman alami yang indah. Sayang matahari mulai beranjak menuju ufuk barat, kami pun mulai bergegas turun dan kembali ke kehidupan di riuhnya belantara kota.(Taufik/satubumikita)***


Sumber Pelengkap:

Buku: 
  • Wisata Bumi Cekungan Bandung : Penulis, Budi Brahmantyo & T.Bachtiar

Situs Web: 
  • http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=89&lang=
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Karst

 ***
Trekking Karst Citatah, 09 Desember 2012:


  • Opa Yayan
  • Puspita Supriati
  • Kukuh Yudi Prasetyo
  • Marlindia Ike.S
  • Lia
  • Rahmat Ahmad Zaelani
  • Rudi Ahmad
  • Didin Salimudin
  • Riki Guntara
  • Yuni Permadani
  • Gustaf Ridwan Munandar
  • Taufik Hidayat


Terima Kasih

4 komentar :

  1. kunjungan lagi... :) salam kenal kang.. saya boleh ikut kegiatan satu bumi kita..? saya sedang berada di Bandung dalam waktu lama... kapan ada agenda satu bumi kita...?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan ikut, dgn senang hati, kegiatan kita bebas siapa aja boleh ikut... Agenda kegiatan nanti kita posting di blog.. salam.. makasih.

      Hapus
  2. keren nih satubumikita, selamatkan bumi kita melalui kampanye Go Green

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kang, mari gabung dengan sabuki.

      Hapus

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...