Kamis, 10 Januari 2013

Jurnal satubumikita #13: Perjalanan di Akhir dan Awal Tahun



Berawal dari sebuah permintaan teman-teman dari ibukota yang ingin mencoba menjelajah dan menikmati keindahan alam di Bandung, maka di penghujung tahun 2012 dan awal tahun 2013 ini dimulailah perjalanan kecil kami.   

30 Desember 2012  - 01 Januari 2013

Perjalanan di hari minggu itu kami mulai pagi menjelang siang dari bilangan Terminal Ledeng, Jalan Setiabudi yang padat merayap dipenuhi kendaraan pelancong akhir pekan. Tujuan pertama yang akan kami jelajahi adalah Gunung Burangrang, sebuah gunung yang masih berkaitan dengan legenda klasik Sangkuriang. Dengan mencarter angkutan kota, kami ber-13 bergegas melaju menuju titik awal pendakian di kampung Cijanggel, kaki Gunung Burangrang, atau biasa disebut pula dengan daerah gerbang komando. Sebagian besar warga di kaki Burangrang tersebut berprofesi sebagai petani dan peternak, banyak petak-petak kebun sayuran serta kandang-kandang ternak seperti sapi dan kambing yang akan menghiasi awal perjalanan pendakian. Selain itu pemandangan berupa hamparan kota Cimahi dan Bandung yang berada jauh di bawah cukup terlihat jelas dengan mata telanjang.


 Pohon-pohon pinus yang berjejer rapat dan menjulang ibarat menjadi gerbang masuk menuju petualangan kecil kami. Serasah pinus yang jatuh berwarna oranye kecokelatan seperti menjadi karpet permadani hutan yang kontras dan indah.  Jalur selepas vegetasi pinus, kami masih berjalan di jalur datar yang menyenangkan. Setelah itu barulah vegetasi mulai berubah menjadi hutan yang yang ditumbuhi pepohonan besar dan semak-semak. Jalur menanjak Burangrang yang khas  dan cukup curam mulai nampak satu demi satu di depan batang hidung kami seolah meminta untuk kami jelajahi.


Untuk sampai di puncak tertinggi Burangrang (ketinggian sekitar 2.050 mdpl), kami harus rela melangkahkan kaki sekitar 2-3 jam. Keindahan alam yang disajikan sepanjang perjalanan memang cukup memanjakan mata, kawasan gunung-gemunung disekitar jalan yang kami lalui  cukup asri dan menyegarkan, dan sedikit banyaknya bisa membersihkan paru-paru yang sudah cukup terkontaminasi polusi perkotaan. Setelah mendaki santai sekitar beberapa jam yang diselingi dengan beristirahat dan sempat pula diguyur hujan yang sangat lebat. Dengan tubuh kedinginan serta pakaian yang sebagian kuyup kebasahan, kami pun sampai di jalur menuju puncak, berupa 2 tahap tanjakan sempit berbatu dengan sudut kemiringan sekitar 70. Jalur tersebut bisa jadi merupakan klimaks dari jalur yang telah kami lalui sebelumnya.
Tak lama berselang, kami pun sampai di puncak dengan sumringah. Senja datang dan kabut mulai menyeruak menyelimuti kawasan puncak. Seusai mendirikan tenda dan masakan hangat pun telah matang, kami pun bersama lahap menyantap hidangan masakan  yang cukup nikmat, ditemani panorama alam parahyangan di senja kala. Kabut semakin pekat dan sang surya mulai kembali ke peraduannya, gelap pun malam mulai datang diiringi hembusan angin dingin yang mulai terasa menusuk di musim penghujan bulan Desember.


***

Tak terasa pagi datang, panorama mulai berganti dari titik-titik lampu kota gemerlap, menjadi kabut tipis yang mengambang di atas peradaban kota yang dikelilingi oleh kerucut-kerucut gunung. Puncak gunung memang selalu menawarkan keindahan dan ceritanya masing-masing, begitu pula gunung Burangrang. Seperti yang telah sedikit disinggung di awal, Burangrang berkaitan dengan legenda Sangkuriang. Ya, dalam legenda tersohor Sangkuriang-Dayang Sumbi selain bercerita tentang terbentuknya gunung Tangkuban Parahu yang terbuat dari perahu yang ditendang Sangkuriang lalu terbalik, juga menceritakan bahwa ranting atau rangrang  dari pohon yang dibuat perahu oleh Sangkuriang berubah menjadi Gunung Burangrang, lalu tunggul pohonnya berubah menjadi Gunung Bukittunggul. 


Seusai berkemas perlengkapan dan makan pagi, kami pun bergegas turun untuk melanjutkan perjalanan menuju objek selanjutnya, yaitu Gunung Tangkuban Parahu yang memiliki ketinggian sekitar  2.084 mdpl. Dari Burangrang sendiri, Tangkuban Parahu cukup jelas terlihat karena bisa dikatakan kedua gunung tersebut bersebelahan yang di batasi oleh batas-batas alam. Selain Tangkuban parahu, dari atas Burangrang kami pun bisa melihat pemandangan seperti Situ Lembang  dan beberapa gunung seperti Gede-Pangrango, Slamet, Cikuray dan kerucut gunung lainnya. 


Perjalanan turun pun dimulai, jalur turun yang kami lewati masih sama seperti saat mendaki,  tiba di kaki burangrang sekitar setelah waktu dzuhur. Karena cuaca yang sepertinya kurang bersahabat dan melihat kondisi teman-teman, rencana awal perjalanan kami yaitu menjelajah 3 gunung Bandung secara estafet, yang dimulai dari Gunung Burangrang, Tangkuban Parahu dan Manglayang terpaksa dengan bijak harus kami skip. Terpaksa Tangkuban Parahu kami lewat, dan perjalanan langsung dilanjut menuju Manglayang di ujung timur Bandung. 


Seusai beristirahat dan mengisi amunisi tenaga, perjalanan dilanjut kembali. Dari daerah gerbang Komando, kami masih harus mencarter angkutan menuju Terminal Ledeng, lalu dari Ledeng diteruskan menuju Terminal Cicaheum. Dari Terminal Cicaheum, perjalanan berkendaraan umum masih belum usai, kembali dilanjut menuju Wanawisata Batu Kuda (salah satu jalur pendakian Gunung Manglayang) di daerah Cibiru. Perjalanan dari ujung ke ujung Bandung yang cukup eksploratif mengelilingi sedikit bagian Bandung dalam sekali waktu dan sangat menyenangkan.


Kepadatan kendaraan di sore hari menjelang akhir tahun semakin menjadi di sore itu, kami baru bisa sampai di Batu Kuda, kaki Gunung Manglayang sekitar maghrib. Dan lagi-lagi setelah menimbang cuaca yang memang sedang tak bersahabat dengan kami serta seorang dari kami yang sakit, kembali pendakian menuju puncak Manglayang di tunda. Hujan yang tak kunjung reda, membuat sebagian besar dari kami lebih memilih beristirahat di bale-bale dekat warung.


Gunung Manglayang sendiri memiliki puncak utama dengan ketinggian sekitar 1.818 mdpl serta memiliki puncak lainnya yang biasa disebut puncak prisma. Sedang Batu Kuda sendiri adalah sebuah kawasan wanawisata populer di Bandung Timur dan merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Manglayang. Nama batu kuda konon diambil dari sebuah cerita rakyat, yang menyebutkan bahwa di kawasan tersebut terdapat kuda seorang raja yang masuk ke dalam lumpur dan berubah menjadi batu. Dan sang raja ternyata memilih untuk tinggal dan bertapa di sekitar batu kuda tersebut hingga akhir khayatnya. 


***

Malam pergantian tahun di kaki Manglayang ternyata cukup ramai, banyak orang yang datang dan berkemah untuk merayakannya di sana. Malah cukup banyak pula yang membawa dan menyalakan kembang api di kawasan yang cukup banyak pohon pinusnya tersebut. Kami pun merayakan pergantian tahun dengan hanya menikmati makanan dan tidur, tentunya berteman suara bising kembang api yang bersahutan. Tak terasa pula kami terbangun dari mimpi indah di tahun yang baru. Dan perjalanan pun belum usai kawan.  (opik/satubumikia)***

2 komentar :

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...