Senin, 02 Desember 2013

Jurnal satubumikita #21 : Sejenak Menjelajah Gunung Kerenceng




Suara adzan maghrib mulai berkumandang menggema di seantero kampung dari corong pengeras suara sebuah surau. Langit senja bercampur awan hitam bergumpal memekat menemani  kaki yang lelah berjalan. Di sebuah warung, segerombolan orang berkumpul menghela nafas sembari menunggu kawan yang tak kunjung tiba. Sedikit kerisauan akhirnya terjawab, kawan yang ditunggu pun datang bersama mobil bak terbuka yang biasa mengangkut hasil bumi. Kegembiraan pun mulai terpancar kembali, senyum sumringah mulai terkembang diiringi guyonan dan candaan mengobati kelelahan. Di pelupuk mata lamat-lamat terlihat kerucut  gunung berselimut halimun. Lampu kota di kejauhan mulai berkelap-kelip ditimpali angin malam yang mulai berhembus pelan. Sejurus kemudian deru mesin lokomotif mengakhiri perjalanan satubumikita di ahad itu.   


12 jam yang lalu



Tak lama menunggu di dalam peron Stasiun Bandung, kereta yang kami tunggu melaju pasti  menuju Stasiun Cicalengka. Kereta Rel Diesel (KRD) yang dahulu ramai dan riuh seperti pasar kini sudah mulai tertata rapi. Angin dari pendingin udara berhembus dingin menyejukkan para penumpang yang hanya cukup menukar  3 koin uang 500 rupiah dengan karcis kereta. Di pagi itu kami, Komunitas satubumikita mencoba sejenak menjelajah kawasan Gunung Kerenceng yang berada di perbatasan antara Kab.Sumedang dan Kab.Bandung. 

Sekitar 80 menit perjalanan berkereta, sampailah kami di Stasiun Cicalengka. Stasiun kecil yang kini cukup tertata rapih dengan gaya bangunan era Kolonial Belanda. Seusai briefing sejenak dan mengganjal perut serta membeli sedikit perbekalan untuk makan siang, perjalanan kembali berlanjut. Mobil bak terbuka menjadi pilihan untuk kami sewa menuju titik awal pendakian ke Gunung Kerenceng. 45 menit berlalu dan kami pun akhirnya  sampai di sebuah daerah bernama Jambu Aer. Daerah tersebut masuk dalam  wilayah Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kab.Sumedang. 

Setelah yakin bahwa titik tersebut adalah salah satu titik awal pendakian ke Kerenceng, perjalanan pun kami mulai dengan berjalan kaki. Jalur awal berupa anak tangga yang dibuat dari semen untuk memudahkan akses jalan warga desa dari dan menuju pemukiman serta kebun garapan. Kebun-kebun sayuran berupa kol, cabe dan varian lainnya menghiasi jalur yang kami lewati.  Sesekali kami coba bertanya dan menyakinkan  arah menuju kerenceng pada warga desa, dan dengan sopan mereka pun menjawab dihiasi senyuman. Titik awal pendakian Kerenceng menurut warga yang kami temui selain  dari wilayah Jambu Aer, bisa pula masuk dari Situ Hiang, Desa Tegal Manggung.


Perjalanan penjelajahan alam kali ini terbilang impulsif dengan jalur yang sama sekali satubumikita belum tahu. Berbekal secuil informasi dari kemajuan teknologi internet serta  orang  yang berbaik hati menulis kisah perjalanannya di dunia maya  perjalanan ini pun akhirnya terlaksana. 


Seusai memasuki kawasan perkebunan warga, jalur mulai memasuki pintu hutan dengan ditandai sebuah plang hijau kusam milik Perhutani yang termakan usia. Jalur mulai menanjak dan semak belukar semakin rimbun, tumbuhan perdu dan pinus menghiasi jalur awal yang kami lewati. Jalur yang kami lewati cukup jelas walau bisa dikatakan jalur tersebut jarang dilalui oleh warga karena dilihat dari tingginya ilalang-ilalang yang tumbuh subur menghalangi jalur. Pohon-pohon besar masih nampak berdiri kokoh menjulang, dan di satu sisi terlihat pula tunggul-tunggul serta kayu bekas  hasil tebangan yang dibiarkan berserakan begitu saja. 

Melewati pohon yang telah ditebang


Semakin memasuki hutan jalur mulai bervariasi dan semakin menanjak melipir punggungan. Mendekati area terbuka menuju Puncak Kerenceng, tanaman kantong semar dengan bahagia tumbuh subur berkelompok. Kantong semar memang semakin sulit ditemui di alam dan gunung dan sekarang digolongkan menjadi tumbuhan langka. Langkanya kantong semar bisa jadi akibat dari pencurian tumbuhan tersebut dari  habitatnya untuk dijual, serta mungkin dari rusaknya ekosistem alam atau gunung habitat tumbuhan tersebut hidup akibat perambahan hutan yang kadang tak terkendali.

kantong semar
Sekitar 3 jam berjalan menjelajah hutan, akhirnya sampailah kami di titik tertinggi Kerenceng. Titik tertinggi Kerenceng berupa kerucut kecil yang memiliki luas  sekitar 2,5 m2 dengan ketinggian sekitar 1763 Mdpl. Lokasi puncak bukan gunung berapi ini  sangat sempit dan sangat tidak cocok untuk mendirikan tenda. Jalur-jalur punggungan tipis menjadi panorama yang menarik dari atas puncak. Lembahan hutan yang rapat penghubung  ke Gunung Kareumbi  menjadi seolah pemandangan langka disaat hutan sekitar Bandung dan Sumedang mulai tergerus dan beralih fungsi oleh pemodal besar.

***


Menurut  Kamus Bahasa Sunda susunan R.A Danadibrata halaman 333 yang diterbitkan oleh Panitia Penerbit Kamus Basa Sunda, menyebutkan bahwa Kéréncéng  berarti Gengge Raranggeuyan, Gengge Beunang Niiran,  Loceng, Kirincing. Gengge sendiri bisa diartikan secara bebas yaitu Gelang Kaki dan Raranggeuyan bisa berarti banyak, sedang Gengge Beunang Niiran bisa diartikan Gelang kaki yang disusun dengan cara di tusuk seperti sate. Sedang kata Loceng berarti Lonceng dan Kirincing bisa berarti bunyi Kirincing.  Menurut sedikit informasi dari tulisan HU Galamedia, edisi Minggu 28 juli 2002, menyebutkan bahwa dahulu Gunung Kerenceng merupakan tempat tinggal Eyang Panggung Jaya Kusumah. Dan siapa Eyang Panggung Jaya Kusumah? Entahlah, mungkin salah satu sesepuh/leluhur atau pendiri kampung di sana.  Satubumikita sendiri belum sempat mengkonfirmasi kepada warga lokal kenapa Gunung tersebut dinamai Kerenceng (Kéréncéng) serta mitos dan sejarahnya.


Lalu Gunung Kareumbi yang bersebelahan dengan Kerenceng (Kéréncéng), masih dalam kamus susunan R.A Danadibrata di halaman322, Kareumbi disebutkan sebagai Ngaran tutuwuhan nu jadi sorangan di reuma sok disebut oge kuray, gedena gancang pisan, yang bila satubumikita artikan bebas berarti : Nama tetumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya di huma yang bisa disebut juga Kuray, tumbuhnya cepat sekali. Menurut informasi dari tulisan HU Galamedia, edisi Minggu 28 juli 2002 sama seperti di paragraf sebelumnya, menyebutkan bahwa ternyata asal mula nama Gunung Kareumbi adalah Gunung Bedil, tempat menetapnya Embah Oyot. Untuk nama Kareumbi sendiri, baru  kemudian diambil dari nama sebuah pohon Kareumbi (Homalanthus populneus) yang banyak tumbuh di wilayah tersebut. Selain Gunung Kerenceng dan Gunung Kareumbi, terdapat pula gunung-gunung lainnya diantaranya Gunung Batara Guru, Gunung Buled, Gunung Wendu yang memiliki ceritanya masing-masing.

Gunung Kerenceng dan Gunung Kareumbi sendiri masuk dalam Kawasan Taman Buru Masigit Kareumbi yang termasuk daerah konservasi. Menurut laman kareumbi.wordpress.com, Taman Buru Masigit Kareumbi memiliki Kawasan seluas 12.420,70 Ha yang terletak pada area yang menjadi kewenangan tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut.  




***


Kabut di siang yang panas menemani kami  menikmati makan siang di pucuk Kerenceng, dengan menu sederhana beralas koran yang begitu nikmat, bercengkrama dengan alam dan kawan. Seusai santap siang, perjalanan masih terus berlanjut, tujuan selanjutnya adalah mendaki Gunung kareumbi yang berada di sebelah Gunung kerenceng. Perjalanan terus berlanjut dan jalur semakin turun dan sesekali kembali mendaki puncakan. Jalur punggungan tipis sepertinya akan menjadi ikon jalur pendakian Gunung Kerenceng bagi yang gemar mencoba jalur “punggung naga” seperti di Gunung Rakutak. 


jalur kerenceng

Jalur turun yang dilalui cukup jelas dan sepertinya sering dilewati. Tak terasa kaki terus berjalan, sore pun mulai menggelayut, tapi terik sang surya masih betah menemani. Sesekali  kami mencoba mengehela nafas dan merebahkan tubuh menghilangkan lelah. 


Seusai adzan ashar, ladang dan kebun warga mulai terlihat. Hamparan kebun bawang yang siap ditanami terbentang luas di tanah merah. Tak berapa lama segerombolan pemburu babi hutan dengan anjing-anjingnya berpapasan dengan kami. Sejenak kami beristirahat dan sebagian sholat ashar di sebuah mushola sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Titik akhir pendakian kami akhiri dari daerah Situhiang Desa.Tegalmanggung Kec.Cimanggung Kab. Sumedang. Jalan aspal berkelok kini siap kami susuri. Di kejauhan Kerucut Kerenceng seolah memberi salam. Semoga Kerenceng dan kareumbi tetap lestari.  (taufik/satubumikita)***

Pucuk Kerenceng

Pendakian Gunung Kerenceng, 24 November 2013:

  1. Puspita Supriati
  2. Rani Ratnasari
  3. Taufik Hidayat
  4. Siti robiah
  5. Firman Nurdi
  6. Ade Siti Nuraenun
  7. Deni Hadiansah
  8. Adek Kusuma
  9. Alan
  10. Gustaf Ridwan Munandar
  11. Hasby


Catatan : Ternyata dari berbagai informasi, arah untuk menuju Gunung Kareumbi setelah dari puncakan berbelok turun ke lembahan (arah kanan dari Kerenceng). Dan saat itu kami salah menduga bahwa kami telah mendaki 2 gunung, ternyata Gunung Kareumbi yang dimaksud tidak kami lalui. Gunung Kareumbi yang dimaksud memiliki jalur yang dari kejauhan sangat tipis yang di sekelilingnya diapit lebatnya hutan.


Terima Kasih, lestari alam kita.

3 komentar :

  1. keren punggungan jalurnya tipis bgt..

    BalasHapus
  2. mantap tulisannya seakan mengikuti alur dan seakan merasakan permasalahannya

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...