Rabu, 05 Desember 2012

Jurnal satubumikita #11: Cerita Menuju sang Mahameru



Mahameroe. De Bromo en (op den achtergrond) de rookende Semeroe, Foto: Tropen Museum

Cukup spontan dan mendadak perjalanan satubumikita kali ini. Tanpa persiapan yang cukup, akhirnya kami pun berangkat pula menuju daerah Jawa Timur di medio November kemarin. Tujuan utama kami yaitu mendaki Gunung Semeru. Dengan Puncak Gunungnya yang mencapai ketinggian sekitar 3.676 Meter di atas permukaan laut (Mdpl), yang menjadikan Mahameru untuk sebutan puncak Semeru sebagai puncak tertinggi di tanah Jawa. Gunung Semeru sendiri masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di daerah Lumajang Jawa Timur.



Hari keberangkatan pun tiba, minggu malam tepatnya pada tanggal 11 November. Bertolak dari Stasiun Kiaracondong Bandung, kami ber-6 menumpang kereta api ekonomi AC Kahuripan menuju Stasiun Kediri. Kereta yang kami tumpangi memang berjenis ekonomi tapi ada satu gerbong yang dipasangi AC, tiketnya pun cukup mahal, bedanya hampir 100 ribu dengan tiket ekonomi biasa. Ya, terpaksa kami membeli tiket tersebut karena kuota tiket ekonomi biasa sudah ludes habis terjual. Perjalanan dalam kereta selama 18 jam harus kami lalui dalam gerbong kereta yang seakan seperti kamar tidur sementara. Perjalanan berkereta jarak jauh bisa dikatakan cukup mengasyikan sekaligus membosankan. .

Singkat cerita, keesokan harinya sekitar pukul 11.30 kami pun sampai di Stasiun Kediri dan rencanya kami langsung akan bertolak menuju Malang, tapi apalah daya, tiket ekonomi Panataran jurusan Kediri-Malang ludes habis terjual. Kami pun sempatkan diri sejenak untuk bergegas menuju daerah kota mencari alternatif angkutan yaitu bus, dan sialnya lagi bus yang kami tunggu-tunggu bahkan hingga petang tak kunjung tiba, karena menurut informasi bus Puspa Indah jurusan Malang terhadang Demonstrasi. Terpaksa kami pun bermalam di Kediri, selain ketidakberuntungan, keberuntungan pun menghampiri, kami dapat bermalam dan tidur di rumah pemilik warung makan yang baik hati di bilangan Halte Hasanudin Kediri.

Perjalanan menuju puncak tertinggi tanah jawa pun belum sepenuhnya dimulai. Subuh, sekitar pukul 04.00, bergegas kami mencari kembali bus menuju Malang dan beruntung tak lama bus melaju di hadapan. Sesampainya di Malang, lanjut perjalanan dengan angkot menuju Pasar Tumpang dan dilanjut dengan menumpang jeep menuju pos awal dan perijinan pendakian di Ranu Pane. Urusan administrasi dan perijinan selesai dan perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai.





Perjalanan mendaki kami mulai sekitar siang hari, seusai makan siang dan sembahyang. Saat hari yang sama pula, ternyata pendakian cukup ramai oleh pendaki independen lain dan organisasi pencinta alam lain, mungkin karena adanya kalender libur panjang. Kami pun bertemu dan mendaki bersama dengan teman-teman baru dari jogja dan jakarta, ya itulah kegiatan naik gunung, ibarat sesama pendaki adalah teman.

Jalur awal yang harus kami lalui cukup menanjak dan jalurnya cukup jelas karena banyak rambu dan petunjuk jalan, selain itu di awal-awal jalannya sudah di semen. Pemandangan yang kami temui sepanjang perjalanan cukup bervariasi dari hamparan kebun warga, hutan hujan yang masih lebat, binatang penghuni hutan seperti lutung dan bajing. Untuk sampai di Puncak Semeru, dibutuhkan waku standar sekitar 2 hari, karena di beberapa titik harus bermalam untuk menghemat dan mengumpulkan tenaga. Titik pertama yang harus kami tuju adalah Ranu Kumbolo, sebuah danau yang berada di ketinggian 2.400 M dpl, yang menjadikannya sebagai danau tertinggi di pulau Jawa. Dari pos Ranu Pane, kami harus melewati 4 pos dengan waktu tempuh sekitar 6 jam.

Kami pun sampai di Ranu kumbolo sekitar pukul 19.00, hari yang sudah gelap membuat kami tak dapat langsung menikmati keindahan danau tertinggi tersebut. Tubuh yang cukup lelah dan cacing yang sudah meronta memaksa kami untuk cepat-cepat membuka tenda dan membuka bahan perbekalan untuk segera dimasak. Kegiatan masak-memasak di alam memang cukup mengasyikan dan menyenangkan, peralatan yang sederhana dan bahan makanan yang kadang seadanya membuat kita harus berpikir kreatif untuk membuat hidangan yang cepat saji tapi nikmat.
***



Pagi yang segar dan cukup dingin menyapa kami yang mulai terjaga dari tidur yang cukup lelap. Tubuh yang lelah sepertinya membuat kami terlelap tidur dalam dekapan sleeping bag yang hangat. Di hadapan tenda kami, terhampar Ranu Kumbolo, danau yang sedari malam keindahannya tak dapat langsung kami nikmati. Suasana Ranu Kumbolo saat itu tak begitu ramai, hanya ada 3 tenda selain kami yang berada di sekitar kami. Seperti biasa, setelah mengumpulkan nyawa yang tercecer, prosesi pagi yang mengasyikan dimulai yaitu, masak-memasak.

Pagi itu, yang menjadi koki kita yaitu saudara Iwonk dan bung Gustaf, menu masakan yang dimasak adalah Sup sayur wortel, kentang, kol dan beberapa tumisan serta makanan yang kami bawa sebelumnya. Makan pagi yang nikmat di naungi langit biru di hadapan danau yang tenang, di antara bukit-bukit kecil yang berjejer.Seusai, makan pagi yang nikmat, kurang afdol rasanya tak mengabadaikan keindahan alam sekitar danau.


Ranu Kumbolo
Menurut beberapa sumber, Ranu Kumbolo terbentuk dari letusan Gunung Bajangan yang berada di bawah Puncak Mahameru. Aliran lava dan material letusan membentuk lembahan yang cukup besar sehingga membentuk danau.

Ranu Kumbolo




Di area Ranu Kumbolo terdapat satu prasasti yang diperkirakan dikeluarkan pada zaman Kerajaan Kadiri. Prasasti tersebut berbunyi “Mpu Kameswara Tirtayasa” yang menggunakan bahasa jawa kuno masa Kadiri. Letak prasasti tersebut menghadap ke Ranu Kumbolo dengan tulisan membelakangi Danau. Prasasti ini dikeluarkan oleh raja Kameswara atau raja Bameswara yang merupakan raja kerajaan Khadiri. Prasasti tersebut berfungsi sebagai tanda fungsi danau sebagai air suci, bukan menghadap ke Puncak Mahameru. Terdapat enam prasasti yang dikeluarkan  oleh Raja Bamsewara dan telah diartikan yaitu prasasti Padlegan 1038 Saka (1117 Masehi), prasasi panumbang tahun 1042 Saka (1120 Masehi), prasasti Geneng tahun 1050 Saka (1128 Masehi), Prasasti Candi Tuban tahun 1051 Saka (1124 Masehi) dan prasasti Tangkiln tahun 1025 Saka (1130 Masehi). Seluruh prasasti masa Raja Bameswara tersebut dapat dilihat masa berkuasanya Raja Bameswara sekitar tahun 1117 Masehi-1130 Masehi. Sehingga dapat diperkirakan prasasti Ranu Kumbolo dikeluarkan sekitar tahun tersebut.

Batu Prasasti, Foto : kompasiana*

Menurut beberapa pendapat mengatakan bahwa fungsi dari Ranu Kumbolo adalah sebagai tempat bersemedi bagi Raja Bameswara. Keberadaan danau Ranu Kumbolo yang merupakan tempat mandi para dewa, dijadikan sebagai air suci Gunung Semeru. Keterkaitan tersebut yang menjadi dasar pendapat bahwa di Ranu Kumbolo dijadikan tempat semedi Raja Bameswara.

Prasasti Ranu Kumbolo merekam jejak Kerajaan Kadiri yang telah melakukan perjalanan dan menandai daerah kekuasaannya jauh ke tanah yang mempunyai ketinggian 2.400 mdpl. Rute perjalanan Raja Bameswara dimulai melalui jalur lama, bukan melalui jalur pendakian Gunung Semeru pada saat ini via Desa Ranu Pane. Namun perjalanan Raja Bameswara via Desa Gubuk Klakah yang terdapat sebuah candi di desa tersebut sebagai gerbang menuju tempat suci Gunung Semeru. [1]


Tanjakan Cinta
Setelah berkemas, perjalanan kembali berlanjut untuk menuju pos berkemah di Kalimati. Sebelum benar-benar memulai perjalanan, beberapa ransel dan barang-barang yang tidak digunakan saat pendakian (summit attack) kami titipkan kepada rekan dari jakarta yang memilih bermalam di Ranu Kumbolo. Trek di depan sudah menanti kami sebuah jalur menanjak di antara dua bukit. Konon, bila kita berjalan terus tanpa menoleh kebelakang dan sampai di tanjakan tersebut tanpa berhenti maka cinta kita akan berakhir bahagia. Mitos tersebut menurut beberapa cerita yang menjadikan tanjakan tersebut diberi nama  "Tanjakan Cinta" dikarenakan terdapat cerita yang beredar di kalangan pendaki yang menyebutkan bahwa ada tragedi yang melibatkan pasangan yang sedang jatuh cinta dan berakhir dengan kematian. Konon,  si pria melewati tanjakan tersebut lebih dulu. Sementara si wanita kepayahan menaiki tanjakan itu, sedang sang pria yang sudah sampai hanya melihat dari atas. Naas, pasangany a tersebut  ini tiba-tiba pingsan dan jatuh terguling ke bawah, kemudian tewas. Ya, entahlah apakah cerita tersebut benar adanya atau hanya isapan jempol. [2]. Untuk menuju titik henti di Kalimati dari Ranu Kumbolo kami harus berjalan dengan waktu tempuh sekitar 3 jam.

Tanjakan Cinta



Oro-oro Ombo dan Cemoro Kandang
Selepas melewati tanjakan cinta, kami pun melewati jalur yang biasa di sebut Oro-Oro Ombo. Oro-oro ombo adalah sebuah padang savana yang cukup luas yang dikelilingi bukit-bukit nan indah. Saat itu, kawasan oro-oro ombo yang dominan warna coklat, mungkin karena savana yang terbakar oleh sengatan matahari musim kemarau. Seusai melewati oro-oro ombo, vegetasi mulai berubah, kami mulai memasuki daerah yang biasa disebut dengan  "Cemoro Kandang", sebuah vegetasi yang bayak ditumbuhi Pohon Cemara gunung. Jalur yang tadinya panas menyengat sekarang cukup sejuk karena tertutupi oleh pohon-pohon cemara yang memayungi. 

Oro-oro Ombo


Perjalanan menuju Kalimati ternyata cukup jauh, tapi jalur-jalur pendakian cukup jelas dan banyak rambu serta petunjuk jalan di sepanjang jalur yang kami lalui. Bagi pemula yang baru pertama mendaki Gunung Semeru, sepertinya tidak perlu khawatir soal tersesat di jalur, bila kita mematuhi rambu-rambu dan mengikuti jalur yang ada, bis dipastikan kita tidak akan tersesat. Panas terik yang sedari tadi menemani kini berubah menjadi rintik hujan, anomali cuaca yang cepat berubah di kawasan semeru membuat kami harus ekstra persiapan, kadang-kadang pans terik, beberapa detik kemudian bisa saja cuaca berubah drastis menajdi sangat dingin, hujan dan berkabut tebal. Kondisi fisik dan bekal makanan serta minum pun harus diperhatikan agar tidak kekurangan saat perjalanan.


Kalimati dan Sumber Mani
Setelah berjalan sekitar 2 jam, kami baru sampai di pos Jambangan, vegetasi mulai berubah kembali menjadi area tumbuhnya bunga Edelweis. Tak jauh dari Jambangan, akhirnya kami pun sampai di Pos Kalimati yang berada diketinggian sekitar 2.700 Mdpl. Kabut tebal mulai turun dan cukup menyulitkan pandangan, karena jarak pandang cukup terbatas. Kabut tebal yang datang kadang secara tiba-tiba memang harus diwaspadai, karena bisa membuat salah jalur, dan untuk mengantisipasinya yaitu lebih baik kita berdiam sejenak di tempat menunggu kabut pergi. 

Jalur menuju Sumber mani


Sore hari sekitar pukul 15.30, kami baru sampai Kalimati, di sana sudah banyak para pendaki yang menggelar tenda untuk summit attack menuju Mahameru di dini hari nanti. Saya agak sedikit berspekulasi dan menduga, kenapa kawasan tersebut dinamai kalimati, mungkin karena dikawasan tersebut dulunya ada sebuah sungai (kali) dan kemudian kering (mati), dan memang sebelum menuju pos kalimati terdapat sebuah jalur yang seperti sungai kering. Dan yang menjadi pertanyaan, apa penyebab sungai tersebut kering? Hmm.

Sebelum mendaki menuju puncak (Mahameru), persiapan fisik dan logistik perbekalan harus dipersiapkan di kalimati. Untuk urusan air, pos kalimati merupakan pos terakhir adanya sumber air, itupun harus ditempuh dengan berjalan sekitar 20 menit. Sumber air tersebut diberi nama Sumber Mani, sebuah sumber air yang berasal dari rembesan air tanah dan pohon yang di alirkan melalui seng. Terdapat 2 sumber yang dialirkan, air tersebut sangat dingin seperti air es dan sangat menyagarkan. Untuk pengambilan air sendiri, menurut para pendaki yang sudah sering ke Semeru, jangan melewati dari pukul  sekitar16.00, menurut kabar karena adanya binatang karnivora seperti macan yang keluar di kawasan tersebut.


***

Arcopodo, 2 arca di ketinggian Jalur Semeru
Kamis Dinihari, pukul 01:00. Perjalanan menuju puncak tanah Jawa yang sesungguhnya pun dimulai, bertolak dinihari dari Kalimati, kami bergegas berjalan beriringan dengan rombongan lainnya. Gelap, dingin dan angin kencang menyapa awal perjalanan kami, berteman senter dan headlamp kami berjalan menembus vegetasi hutan hujan yang lembab. Butuh sekitar 6 jam untuk sampai menuju sang Mahameru, di pertengahan jalan terdapat sebuah pos bernama Arcopodo atau Arcapadha. 

Arca di arcopodo, Foto : Kompasiana*


Arcopodo dalam bahasa Jawa Kuno berarti Archa = arca dan Padha = tempat, yang bisa artikan Tempat Arca. Arca tersebut berpasangan, dan bisa jadi merupakan arca tertinggi di Pulau Jawa yang terletak pada ketinggian sekitar 3.002 Mdpl. Saat kami sampai di pos Arcopodo memang tak kami temui arca apapun, yang ada hanya sebidang tanah seluas lapangan badminton yang dikelilingi pohon cemara, semak dan jurang. Arca tersebut menurut sebuah tulisan di blog kompasiana dan publikasi Norman Edwin sekitar tahun 1984 keberadaan Arca tersebut memang ada. Masih mengutip keterangan dari Blog di Kompasiana, diduga salah satu arca merupakan arca Bima yang merupakan perwujudan Siwa sebagai simbol penolak bala, dalam hal ini adalah untuk menolak amarah Gunung Semeru. Sepasang arca ini tepat menghadap ke utara, sehingga apabila kita menghadap ke arca tersebut pandangan kita juga akan tepat mengarah ke Puncak Mahameru. Walaupun arca ini sulit diakses, masyarakat Hindu Tengger masih rutin bersembahyang di situs ini. [3]

Selepas beristirahat sejenak di Arcopodo, perjalanan dinihari kami lanjut kembali. Jalur yang sedari tadi berupa tanah padat kini berganti menjadi tanah lunak bekas aliran material dari Gunung Semeru. Bisa jadi jalur ini adalah klimaks dari jalur pendakian Semeru. Ya, jalur yang memiliki kemiringan yang cukup menyulitkan dan menguras energi di pagi buta. Kami harus cukup berjuang ekstra dibanding dengan jalur sebelumnya, selain tanah yang labil, batu-batu sisa erupsi patutnya diwaspadai. Jalur berpasir ini harus kita lalui untuk mencapai Puncak Mahameru. Udara di pagi buta yang dingin, dan hembusan angin kencang seolah menjadi teman perjalanan kami. Selepas berjalan sekitar 4 jam, langit mulai berwarna jingga, semburat sinar mentari mulai menyapa bumi dan para anak manusia. Indahnya batas horison jingga sedikit mengobati rasa lelah kami.

 ***

Legenda Gunung Semeru
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuna Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, pada dahulu kala Pulau Jawa mengambang di lautan luas, terombang-ambing dan senantiasa berguncang. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.

Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.

Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau Jawa. Ketika gunung Meru dibawa ke timur, serpihan gunung Meru yang tercecer menciptakan jajaran pegunungan di pulau Jawa yang memanjang dari barat ke timur. Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan ke timur, pulau Jawa masih tetap miring, sehingga para dewa memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut. Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. [4]

***

Sang Mahamareu,
Setelah berjuang sekitar 6 jam, akhirnya saya dan beberapa teman lainnya dapat pula menggapai Mahameru yang menjadi idaman para pegiat alam khususnya para pendaki. Ya, Mahameru menjadi tempat menghembuskan nafas terakhir seorang idola para petualang, Soe Hok Gie. 

Puncak Mahameru sendiri berada di ketinggian sekitar 3.676 Mdpl, berupa tanah lapang seluas 2 kali ukuran lapangan voli. Disana tidak terdapat triangulasi hanya terdapat patok plat salah sau organisasi berbendera Merah putih serta beberapa plakat mengenang pendaki yang wafat di Puncak Mahameru. Gumpalan awan dan gunung sekeliling Semeru seperti pergunungan tengger dan Bromo dapat terlihat dengan cukup jelas bila cuaca sedang cerah dan bagus, udara serta angin memang sangat kencang berhembus yang membuat kelembaban di sana cukup tinggi.

Kami pun tak boleh terlalu berlama-lama di puncak, selepas sekitar pukul 09.00 para pendaki sudah harus turun karena adanya tiupan angin yang membawa gas beracun menuju Mahameru. Keindahan di puncak tanah jawa terhampar luas, bagai singgasana para dewa.

"Puncak bukanlah sebuah tujuan utama, karena perjuangan menuju puncak tersebutlah yang cukup menarik dan penuh dengan cerita serta pelajaran, puncak ibarat sebuah bonus pencapaian perjuangan..." (Taufik/satubumikita)***





Berkibarlah benderaku


 Terima kasih

 salam satubumikita

 ***


Catatan Kaki :


[1] http://sejarah.kompasiana.com/2012/09/07/jejak-kerajaan-khadiri-di-gunung-semeru/

[2] http://himpalaunas.com/artikel/jejak/2010/07/05/tanjakan-cinta-di-ranu-kumbolo-mitosnya-lahir-dari-tragedi

[3] http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/04/06/menyibak-misteri-arcopodo-gunung-semeru-452136.html

[4] http://id.wikipedia.org/wiki/Semeru


Tags: catper semeru, catatan mahameru, gunung semeru, jurnal semeru, catper gunung, cerita semeru, pendakian gunung semeru, bandung-semeru, ranu kumbolo, oro-oro ombo, sejarah arcopodo, sejarah semeru, legenda semeru, catper seru semeru, asyik semeru, gunung semeru malang

3 komentar :

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...