Senin, 21 Januari 2013

Legenda Maribaya

Curug ciomas di maribaya,  doc tahun 2010
Maribaya, bila menyebut nama kawasan itu, yang terngiang di pikiran orang Bandung pada umumnya mungkin adalah sebuah tempat wisata alam yang memilki panorama serta alam yang masih hijau. Memang begitu adanya, tapi sebelum jadi tempat wisata, konon menurut cerita di zaman dahulu kawasan itu adalah tempat biasa yang di huni oleh seorang petani miskin bernama Eyang Raksa Dinata. Rumahnya gubuk dari bilik bambu dengan atapnya yang terbuat dari alang-alang. Keluarga itu punya seorang anak gadis yang cantik jelita, namanya Maribaya.


Melihat kecantikan anak gadisnya yang semata wayang itu, sang bapak khawatir banget kalo anaknya nanti jadi rebutan para pemuda di daerah itu. Saking terpesona oleh kecantikannya, pemuda-pemuda di kampungya sering cekcok sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi pertumpahan darah.  Si bapak pun dapat ilham setelah merenung, kemudian dia pun pamit pergi meninggalkan anak istrinya itu menuju ke Gunung Tangkubanparahu. Setelah sampai di Tangkubanparahu, ia pun memilih tempat untuk bertapa yang tidak jauh dari bibir kawah ratu. Pas suatau malam, lagi asyik-asyinya bertapa ia pun didatengin seorang kakek yang memberinya 2 buah bokor yang berisi air. Menurut kakek misterius itu, salah satu bokor tersebut harus di bawa ke arah barat dan sebuah lagi ke arah timur. Jika sudah sampai di tempat yang dituju, air dalam bokor itu harus ditumpahkan.

Setelah dapet ilham itu, singkat cerita ia pun menembus lebatnya hutan belantara kaki Gunung Tangkubanparahu, setibanya ditempat yang dituju, air dalam bokor itu pun ditumpahkan di daerah yang sekarang dikenal sebagai Situ Lembang. Sementara bokor yang satu lagi di bawa pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ia meminta anaka gadisnya untuk menumpahkan air dalam bokor tersebut tidak jauh dari rumahnya itu.

Beberapa hari kemudian, kejaiban muncul di tempat dimana air dalam bokor itu di tumpahkan yaitu muncul mata air panas. Makin lama, genangan air panas itu makin luas sehingga memebentuk sebuah kolam air panas. Cerita terbentuknya kolam air panas itu segera cepat beredar di kalangan masyarakat sekitar. Apalagi konon air panas tersebut berkhasiat mengobati berbagai penyakit terutama penyakit kulit. Tempat itu pun jadi rame dikujungi pendududk sekitar yang mau berendam di kolam air panas itu. Nah, biasanya setelah orang-orang berendam, mereka suka melemparkan uang logam (koin) ke dalam kolam sebagai imbalan.

Tiap sore sesudah sepi, petani miskin itu pun rajin ngumpulin koin dari dasar kolam. Dan setelah cukup lama ngumpulin koin itu singkatnya keluarga itupun hidup berkecukupan. Eyang Raksa Dinata yang sebenarnya hanya ingin menghindari pertumpahan darah di kampungnya, malah mendapat berkah kekayaan setelah mengelola sumber air panas mineral yang dapat dipergunakan untuk pengobatan itu. Sejak mulai dikembangkan sekitar tahun 1835 oleh Eyang Raksa Dinata, ayah Maribaya, objek wisata itu berhasil mengubah kehidupan Eyang Raksa Dinata yang sebelumnya hidup miskin, menjadi berkecukupan. Banyak orang yang berkunjung ke tempat tersebut. Kolam air panas itu kemudian diwariskan kepada Maribaya, sehingga daerah itu terkenal dan dinakaman Maribaya seperti nama Mojang Cantik itu. Percaya dengan legenda tersebut? (satubumikita)***

Sumber referensi : 

  • Jendela Bandung, Pengalaman Bersama Kompas  (Her Suganda)
  • http://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/curug-omas---bandung-barat
Tag: legenda maribaya, lembang, legenda, satubumikita, artikel, tulisan, maribaya, curug ciomas, bandung

1 komentar :

  1. apa legenda ini benern kjadian ato cman dongeng doank min.? :)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...