Senin, 06 Maret 2017

Trip Balik Kanan : Bagian 2


Oleh : Dya Iganov

Curug Caweni
Curug Caweni
Kegagalan pertama ke Curug Caweni pada Januari 2013 karena keterbatasan waktu dan kesulitan kami mencari jalur. Kami kesulitan mencari jalur karena memang belum ada satupun dari kami yang pernah melewati jalur Nyalindung – Cidolog. Kegagalan kedua pada April 2014 karena kami tidak sengaja menabrak ayam milik warga di Cidolog. Meskipun ayamnya tidak mati, tapi kami cukup trauma untuk kembali ke daerah Cidolog. Barulah pada kesempatan ketiga, November 2014, saya dan beberapa teman berhasil mengunjungi Curug Caweni, hanya saja pada waktu itu airnya masih kering total.

Karena masih penasaran, pertengahan Desember 2014, saya dan satu orang teman kembali lagi ke Curug Caweni. Kali ini bisa dibilang sedikit berhasil. Air di Curug Caweni sudah mulai bertambah, meskipun masih belum mencapai volume maksimalnya. Setidaknya rasa penasaran saya dengan Curug Caweni terbayar.


Puncak Darma
Setelah kunjungan keempat saya ke Ciemas, ternyata Puncak Darma masih gagal dikunjungi. Akhirnya, akhir Maret 2014, saya dan beberapa teman saya memutuskan untuk kembali ke Ciemas. Tujuannya hanya Puncak Darma dan beberapa curug di Ciemas. Kami sampai di pertigaan Desa Girimukti sekitar pukul 12.00 WIB. Ga berapa lama, hujan deras mulai turun.

Informasi jalur menuju Puncak Darma masih sangat minim, jadi kami juga harus sekalian mencari jalur di tengah guyuran hujan yang semakin deras. Kondisi jalan dan medan yang dilalui cukup sulit, apalagi ditambah hujan eras. Pukul 15.00 WIB kami berhenti di sebuah warung, karena jalannya bercabang. Menurut pemilik warung, jalan menuju Puncak Darma adalah yang kecil bukan jalan utama desa.

Nama Puncak Darma sangat asing, bahkan untuk warga Desa Girimukti sendiri. Warga disekitar Girimukti lebih mengenalnya dengan sebutan Puncak Cimarinjung. Setelah dirasa cukup berhenti, kami jalan lagi. Jalan makin licin, karena makadamnya tertutup rumput dan lumpur. Ditambah banyaknya percabangan dan jauh dari permukiman penduduk. Menjelang Magrib kami baru tiba di Puncak Darma. Saya sendiri tidak bisa meneruskan ke Puncak Darma dan sampai sekarang masih belum sempat untuk balik lagi.

Semenjak nama Geopark Ciletuh dikenal banyak orang, akses menuju Puncak Darma menjadi semakin mudah, meskipun kondisi jalannya masih tidak berbeda jauh. Setidaknya tidak harus salah jalur seperti yang kami alami.

Situ Cirompang
Nama Situ Cirompang di Kecamatan Bungbulang mungkin masih kaah tenar dibandingkan Situ Kabuyutan yang mulai banyak dikenal. Perjalanan saya dan tiga teman lainnya ke Situ Cirompang pada akhir Agustus 2013 masih belum berhasil. Jalur yang kami ambil adalah yang melewati Cisewu kemudian menuju Desa Sukarame dan akhirnya masuk Bungbulang.

Sepanjang Talegong – Cisewu kami memang banyak berhenti, ditabah satu motor teman saya bermasalah ketika di Desa Sukarame. Kami baru masuk Bungbulang sekitar pukul 13.00 WIB. Kami semua belum pernah ada yang ke daerah sini dan info mengenai rute ke Situ Cirompang pun masih sangat minim sehingga, keputusan kami untuk banyak berhenti di jalur Talegong – Cisweu ternyata sangat menghambat.
Jalan Menuju Desa Gunung jampang

Jalur selepas Desa Cihikeu semakin sulit. Memasuki hutan pinus, makadam dengan tanjakan panjang bertambah sulit. Batu hilang seluruhnya dan digantikan tanah merah yang masih basah. Menurut pendapat saya pribadi, jalur ini malah lebih mirip jalur pendakian hanya sangat lebar dibandingkan jalan antar desa. Baru jam 17.00 WIB kami tiba di Desa Gunungjampang, Kec. Bungbulang. Menurut warga setempat, perjalanan kami ke Situ Cirompang masih harus dilanjutkan dengan berjalan kaki selama kurang lebih dua jam untuk waktu warga setempat. Untuk kami mungkin sekitar tiga jam.

Situ Cirompang yang terletak di lereng Gunung Kancana sudah dipastikan akan memiliki jalur treking yang tidak mudah. Dengan keterbatasan waktu, akhirnya tepat pukul 17.30 WIB kami turun kembali ke Desa Cihikeu dan niat kami ke Situ Cirompang pun kami tunda. Perjalanan pulang memang sedikit lebih cepat. Selepas Desa Cihikeu jalur akan menjadi makadam hingga Desa Gunungjampang. Untuk ukuran jarak, mungkin dibawah 10 Km karena tidak sempat menghitung.

Hingga saat ini (Januari 2017) saya belum berkesempatan untuk kembali ke Situ Cirompang dikarenakan kondisi Situ Cirompang sendiri ditambah masih mengumpulkan beberapa informasi mengenai jalur lainnya melalui Kec. Pangalengan.

Rancadahon, Curug Gorobog, Curug Ciputrawangi, Curug Cikondang, Curug Country

Rancadahon


Sebenarnya lima lokasi ini sudah berhasil saya datangi, hanya saja memang waktunya yang belum pas. Rancadahon merupakan danau atau mungkin tepatnya rawa yang berada persis di Pantai Agrabinta. Ketika saya berkunjung pada November 2014 lalu, sedang puncak musim kemarau. Air Rancadahon pun menyusut drastis. Untuk menuju Rancadahon harus melewati pematang sawah.

Saat itu, saya tiba tepat pukul 11.00 WIB dan sedang terik-teriknya. Melihat kondisi Rancadahon yang sangat surut dan fisik yang lumayan terkuras juga, akhirnya saya hanya sempat mendokumentasikan Rancadahon dari kejauhan dan hanya sedikit foto yang bisa saya ambil. Sampai saat inii saya belum berkesempatan untuk kembali ke Rancadahon dan mungkin akan menunggu musim penghujan sudah stabil meskipun medan yang akan ditempuh menjadi lebih sulit karena jalurnya merupakan makadam, pasir, dan tanah.

Curug Ciputrawangi saya datangi pada Februari 2012. Saat itu sehabis turun dari Gunung Tampomas, kami mampir ke Curug Ciputrawangi. Pada saat itu, volume air Curug Ciputrawangi sedang besar. Sayangnya, pada waktu itu saya masih belum terlalu fokus untuk mendokumetasikan tempat-tempat yang saya datangi. Foto yang saya punya untuk Curug Ciputrawangi merupakan hasil jepretan teman saya, itu pun tidak seberapa banyak. Oleh karena itu, saya tidak banyak mempublikasikan Curug Ciputrawangi di sosial media, karena harus seijin teman yang punya foto.

Curug Cikondang yang saya datangi pada Juni 2011 pun sebenarnya ketika itu sedang dalam kondisi yang cukup baik., Hanya saja, seperti Curug Ciputrawangi, saya belum fokus untuk mendokumentasikan loaksi yang pernah saya datangi. Hingga saat ini, saya belum berkesempatan kembali ke Curug Cikondang. Karena sudah menjadi salah satu lokasi yang banyak dikunjungi, dan informasinya juga cukup banyak, jadi mungkin di lain waktu saja saya kembali ke Curug Cikondang.

Curug gorobog

Curug Gorobog di Kabupaten Sumedang merupakan salah satu wisata yang sudah cukup ramai didatangi, hanya saja, saya datang di waktu yang tidak tepat. Saya mengunjungi Curug Gorobog pada September 2013 dan pada waktu itu sedang puncak musim kemarau sehingga Curug Gorobog sangat kering. Karena sudah merupakan tempat wisata, jadi kunjungan kembali ke Curug Gorobog masih saya tunda hingga saat ini (Januari 2017).

Curug Country

Curug Country di Jonggol pun berhasil saya kunjungi pada Agustus 2012, sayangnya seperti kejadian Curug Gorobog, pada saat itu, puncak musim kemarau. Air Curug Country sangat kering, bahkan banyak serangga dan nyamuk di sekitar curugnya. Sampai saat ini (Januari 2017) saya belum berkesempatan untuk kembali ke Curug Country.

Curug Kanteh
Curug Kanteh berada di Banten. Kedatangan kami ke Curug Kanteh sebenarnya tanpa rencana. Pada September 2011 lalu, saya dan tiga teman saya bertujuan ke Sawarna. Setelah tiba di Sawarna, pemilik penginapan kami memiliki peta objek wisata yang berada di wilayah Lebak dan sekitarnya. Tidak sengaja saya melihat Curug Kanteh di legenda peta. Segera saya meminta untuk berkunjung ke Curug Kanteh.

Sayangnya, pada saat itu, di Lebak memang sedang puncak musim kemarau, sehingga perjalanan panjang menuju Curug Kanteh terasa kurang memuaskan. Volume air Curug Kanteh sangat kecil. Bahkan lebih mirip saluran pembuangan air dari puncak bukit. Selain itu, pada waktu itu, saya belum fokus dengan hal pendokumentasian tempat yang saya datangi. Foto-foto Curug Kanteh yang sangat surut pun hanya dimiliki teman seperjalanan saya ke Sawarna. Hingga saat ini (Januari 2017) saya belum sempat berkunjung kembali ke Curug Kanteh karena saya lupa jalurnya. Jadi, selain mempersiapkan waktu yang pas, saya juga harus mencari rutenya dari 0 lagi.

Diatas adalah beberapa tempat yang belum berhasil saya kunjungi dan yang sudah berhasil saya kunjungi namun sangat perlu diulang. Memang, rencana sematang apapun, jika memang belum waktunya sampai, pasti ada hal-hal tak terduga selama perjalanan yang memaksa kita untuk mengambil keputusan spontan.

Dari beberapa pengalaman di atas, terkadang jika memang dirasa perlu meminta bantuan warga setempat untuk menunjukan jalan, ya akan saya lakukan. Entah itu meminta bantuan untuk diantar menuju desa atau kampung tujuan maupun diantar di jalur treking. Hal ini saya lakukan untuk menghemat waktu dan tenaga. Agar setidaknya kejadian balik kanan tidak banyak terulang.

Memang, untuk beberapa orang meminta bantuan warga adalah hal yang paling akhir dilakukan dan memilih untuk mencari sendiri jalur-jalurnya. Keuntungan lainnya dengan meminta bantuan warga yang mengenal lokasi tersebut untuk saya pribadi adalah bisa menggali informasi seputar daerah dan lokasi tujuan yang mungkin masih belum ada di internet.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...