Senin, 14 Januari 2013

Etika Saat di Gunung



Foto Doc satubumikita
Mendaki gunung sekarang ini menjadi salah satu alternatif kegiatan yang mulai populer kembali di masyarakat. Tapi hal yang mulai populer dan mulai banyak peminat tersebut tidak diimbangi dengan pemahamn minimal tentang hal yang kurang atau tidak layak dilakukan saat mendaki atau saat sedang berkemah. 


Kita mungkin sudah sering melihat banyak bukti dari para pendaki yang begitu saja meninggalkan sampah dengan seenaknya ataupun berbuat vandalisme dengan mencorat-coret batu atau menorehkan tulisan dengan pisau di pohon. Hal-hal yang berkaitan tersebut bisa dikatakan cukup tidak etis dan beretika terhadap alam, karena kita sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran mempunyai sebuah landasan etika, kita sebagai manusia yang “bertamu” mengunjungi  alam (gunung) masa mengotori rumah yang kita kunjungi.   


Nah, ada beberapa hal yang satubumikita sedikit inventarisir dari melihat keadaan di lapangan, hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan sewaktu digunung, baik saat pendakian maupun saat berkemah.

Ada beberapa hal yang penting yang boleh dilakukan dan dianjurkan:

  • Hal yang terpenting adalah jangan membuang sampah sembarang khususnya sampah anorganik.
  • Membawa kantong sampah untuk menampung sampah sendiri maupun mengumpulkan sampah yang ada disekitar kita untuk dibawa pulang.
  •  Mengubur sampah organik.
  •  Tidak merusak pepohonan dengan menebang batang-batang pohon untuk membuat api unggun, sebaiknya pilih ranting mati yang berserakan di permukaan tanah.
  • Bila ada pos pengawasan dan registrasi pendakian. Sebaiknya kita melapor terlebih dahulu secara legal/resmi agar tercatat, apabila ada sesuatu yang tidak diinginkan pada kita petugas pos bisa segera bertindak.
  • Menggali tanah bila kita ingin buang air besar (bab), agar kotoran kita tidak tercecer dan cepat terurai oleh tanah. Serta untuk menghindari  pemandangan serta bau tidak sedap, dan untuk menjaga kesehatan pula agar tidak dihinggapi lalat.


Hal yang tidak boleh dilakukan:

  • Membawa tanaman atau tumbuhan dari hutan untuk dibawa pulang atau hanya iseng dipetik, khususnya tanaman yang dilindungi, seperti Anggrek hutan atau Edelweis.
  • Merusak ekosistem tumbuhan dan pohon, seperti menebang dahan pohon untuk membuat api unggun.
  • Bila tidak terlalu terpaksa, sebaiknya tidak membuat jalur baru dengan cara menerabas dan menebangi vegetasi yang dilalui.
  • Membuat vandalisme seperti mencorat-coret di permukaan batu dan pohon.
  • Mengganggu binatang hutan atau membawanya pulang  atau membunuhnya (kecuali sangat terpaksa).
  • Membawa dan minum-minuman beralkohol.
  • Berbuat mesum dan melanggar etika atu norma.
  • Membuang puntung rokok ke sembarang tempat, untuk menghindari kebakaran hutan.
  • Mengumpat dan mengumbar kata-kata kotor, apalagi menantang alam atau berkata sompral.
  • Mencuci piring/gelas kotor dekat atau langsung di sumber air, untuk menghindari tercemarnya sumber air .


Sebenarnya masih banyak hal yang sangat dianjurkan dilakukan dan tidak dilakukan saat pendakian ke gunung atau bertualang ke alam bebas/hutan. Beberapa hal di atas sebenarnya untuk sedikitnya menjaga ekosistem alam itu sendiri yang sekarang mulai/sedang  rusak. Sebagai pendaki atau pegiat alam bebas kita seharusnya seminimal mungkin menjaga etika atau norma saat pendakian seperti hal-hal yang telah disebutkan tadi, untuk tidak merusak atau mengganggu alam yang notabene sebagai tempat bertualang kita. Salam lestari. (satubumikita)***  

tags; etika saat di gunung, artikel, satubumikita, etika pendakian, etika hiking, etika trekking, etika alam, sopan santung di gunung, 

2 komentar :

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...