Senin, 16 Juli 2012

Jurnal satubumikita #7 : Bertualang ke Curug Cileat, Subang

Foto Keluarga di Curug Cileat Subang : Kamera Eko Black

Minggu pagi yang cerah, mentari pagi pun mulai menghangat menemani awal perjalanan kami. Ya! perjalanan kami, perjalanan satubumikita yang akan mencoba menikmati petualangan, serta keindahan alam tatar pasundan di pelosok kabupaten Subang. Objek utama yang akan kami tuju di hari itu adalah jejeran air terjun (curug) serta beberapa objek alam indah menarik lainnya.


Bertolak dari sekitar Terminal Ledeng menuju subang, kami menggunakan 2 armada angkutan umum (angkot) yang telah dicarter. Sekitar 2 jam dalam perjalanan di dalam angkot, akhirnya kami pun sampai di titik awal petualangan. Hamparan sawah yang sebagian telah menguning, tanda telah dipanen serta barisan bukit nan hijau dan Gunung Canggah yang angkuh menjulang menyapa kedatangan kami. Di awal perjalanan, Kami ber-27 berjalan beriringan melewati trek berupa jalan sawah yang mulai mengering terpanggang matahari yang terik di awal musim kemarau. Jalan pun berubah menjadi jalan setapak menanjak yang  cukup menguras tenaga, ditambah terik yang cukup menyengat kulit, dan tak ayal keringat segar bercucuran. Itu baru awal kawan!


Perjalanan berselang-seling dengan istirahat sambil menikmati keindahan alam sekitar, atau mungkin hanya sekedar menghela nafas mengistirahatkan otot kaki. Di kejauhan, suara jatuhan air mulai terdengar, dan semakin kami berjalan mendekat, suara itu semakin jelas. Ternyata di hadapan kami terdapat sebuah curug kecil yang airnya sedikit mengering, mungkin faktor musim kemarau. Curug pertama tersebut biasa di sebut dengan Curug Citorok. Air yang mengalir di bawahnya jernih dan cukup menyegarkan. 

Perjalanan kembali berlanjut, jalan setapak melipir punggungan bukit yang cukup rimbun menjadi penahan terik dari sang mentari yang masih setia menemani kami. Hamparan sawah sekarang terlihat di bawah kami, luas dan berpola sengkedan. Tak terlalu lama kami berjalan dari Curug pertama, kembali kami menjumpai sebuah Curug lagi. Curug kedua ini, debit airnya masih cukup melimpah dibanding Curug pertama. Di Curug kedua ini, air masih jernih dan tentunya pula masih cukup menyegarkan. Sejenak kami beristirahat sambil menikmati suasana alam dan meregangkan kaki serta tak lupa mengabadikan dalam bidikan kamera.

Setelah cukup puas berada di Curug kedua, kami mulai berjalanan beriringan kembali. sekitar 15 menit kami berjalan, kembali kami menjumpai sebuah Curug. Curug ketiga ini sama seperti Curug kedua, airnya masih melimpah ruah dengan jatuhan air yang lebih tinggi dibanding Curug pertama dan kedua. Petualangan belum berakhir dan ini masih bagian awal.

Kembali kami mulai berjalan bertolak meninggalkan Curug ketiga menuju Curug utama. Jalan yang harus kami lalui kembali ke jalan sawah yang sempit seukuran telapak kaki. Tak ayal dengan jumlah kami yang banyak cukup membuat perjalanan sedikit melambat, tapi sangat menyengankan. Kami berjalan di tengah hamparan sawah di kelilingi jejeran bukit dan petani yang sedang membajak sawah berteman kerbau. Setelah melewati jalan sawah, kembali kami memasuki kawasan hutan yang cukup rimbun dan menyegarkan.

Setelah berjalan menyusuri jalanan setapak di dalam hutan. Sanyup-sanyup di kejauhan mulai terdengar desiran suara jatuhan air, dan benar saja Curug yang menjadi tujuan utama kami mulai nampak dihadapan dan semakin jelas terlihat. Curug Cileat, itulah nama curug tersebut, curug yang berada di sebuah tebing cadas. Jatuhan airnya terbilang cukup tinggi dan deras, di musim kemarau seperti ini saja airnya cukup melimpah. Hempasan dan bulir-bulir air yang tertiup angin menyentuh kulit sangat menyegarkan, udara di sekitar curug pun terbilang dingin.

Sebagian dari kami sibuk dengan mengabadikan momen, bermain air dan sebagian lagi cukup dengan duduk-duduk menikmati keindahan ciptaan Tuhan di tatar sunda ini. Perut kami sepertinya mulai protes untuk diiisi, masing-masing dari kami pun mulai membuka bekal makan siang. Setelah cukup puas berada di curug,  perjalanan kembali berlanjut untuk menuju sungai Cileat. Kembali kami harus melewati jalan sawah, tapi kali ini trek yang kami lalui cukup panjang dan melelahkan di bawah terik mentari yang membuat wajah teman-teman memerah khususnya para wanita. Di tengah perjalanan, kami beristirahat sembari menikmati air kelapa yang dipetik oleh pemuda sekitar langsung dari pohonnya, menyegarkan!

Perjalanan kembali berlanjut, sekitar 1 jam menyusuri jalan sawah, akhirnya kami pun sampai di sisi sungai Cileat yang biasa dipakai bermain air dan mandi. Airnya jernih dan arusnya deras, sebagian dari kami memilih tuk berenang, bermain air dan sebagian lagi lebih memilih tuk menimati suasana di sisi sungai sembari mengudap camilan ataupun membuka bekal rujak segar.

Tak terasa, sang surya yang sedari tadi terik menyengat mulai melembut berganti senja. Dan itu tandanya kami harus mengakhiri petualangan kami. (opik/satubumikita)***

Curug Cileat, Foto : Kamera Eko Black


Menyusuri jalan sawah, Foto : Kamera Ulen Bdg


Berenang di sungai Cileat, Foto : Kamera Ulen Bdg

***

Trekking Curug Cileat, 15 Juli 2012

  1. Ek ing
  2. Agus setiawan
  3. Agus Tan 
  4. Phillips
  5. Dita
  6. Novi
  7. Eko
  8. Puspita
  9. wiwin
  10. Endah
  11. Asep harun
  12. Ezot
  13. Desy LK
  14. Pupun
  15. Sule
  16. Ulie
  17. Vina
  18. Nano
  19. didin
  20. Uje
  21. Cepi
  22. Yuni
  23. Ulen
satubumikita :
  • Gustav
  • Ceceu
  • Mamang
  • Opik
    ***

    Terima kasih 

    Tidak ada komentar :

    Posting Komentar

    Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



    Terima kasih

    Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

    ANDA PENGUNJUNG KE-

    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...