Kamis, 16 Februari 2012

Jurnal sabuki #2 : Hiking Manglayang

Jurnal satubumikita adventure (sabuki):  No.II/Februari/2012

Tanggal 22 Januari 2012 yang lalu, tepatnya dihari minggu, satubumikita (sabuki) mengadakan sebuah acara Hiking bersama ke salah satu gunung yang ada di bagian timur Bandung, yaitu Gunung Manglayang (1.824 Mdpl). 

Starting point perjalanan kami mulai dari Jalan Surapati tepatnya di Surapati Core. Tak disangka teman-teman yang ikut serta berpetualang di pagi itu cukup banyak, sekitar 40 orang lebih, waah kami sangat senang sekali tentunya, bisa bertemu dan berkenalan dengan teman-teman baru. mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran hingga anak sekolah. Dari Surapati core kami mencarter 3 angkot untuk menuju titik awal pendakian ke Wana Wisata Alam Batu Kuda.


Sekitar 45 menit perjalanan dalam angkot kami pun sampai di gerbang Wisata Batu Kuda, untuk bisa masuk kawasan tersebut kami diharuskan membeli tiket/karcis masuk seharga Rp.3000/orang, sedangkan untuk yang ingin bermalam (kemping) tiketnya seharga Rp.5000. Sebelum menuju objek utama yaitu Puncak Manglayang, kami sempatkan diri berkunjung ke situs Batu kuda yang jaraknya tak terlalu jauh dari pintu gerbang sekitar 300 meter.

Batu Kuda



Batu Kuda sendiri adalah sebuah batu yang bentuknya menyerupai seekor kuda.  Konon Batu Kuda adalah kuda yang ditunggangi oleh Prabu Layang Kusuma beserta permaisurinya (Prabu Layang Sari). Menurut  cerita, konon di zaman dahulu ada seorang raja dari salah satu kerajaan di tanah sunda.,  yang bernama Prabu Layang Kusuma. Suatu hari Sang Prabu bersama permaisurinya, dengan berkuda melewati Gunung Manglayang. Namun, ketika sampai di puncak tiba-tiba kuda yang ditungganginya terperosok ke dalam lumpur. Begitu dalamnya kuda itu terperosok hingga hanya separuh badannya yang kelihatan. Secara tiba-tiba pula kuda itu berubah menjadi batu. Oleh karena kuda yang ditunggangi menjadi batu, mau tidak mau Sang Prabu beserta Sang Permaisuri dan para pengawalnya menghentikan perjalanannya. Kemudian, Sang Prabu melihat-lihat keadaan sekelilingnya. Hasilnya adalah bahwa tempat itu sangat cocok untuk bertapa. Sehubungan dengan itu, Sang Prabu memutuskan untuk mendirikan tempat peristirahatan yang letaknya tidak jauh dari tempat perpelosoknya kuda. Di tempat peristirahatan itulah Sang Prabu bertapa dan tidak meneruskan perjalanannya hingga akhir hayatnya. Demikian juga Sang Permaisuri dan para pengawalnya. 


Puncak Manglayang

Setelah sejenak mengunjungi Batu Kuda, perjalanan sesungguhnya pun dimulai untuk menuju puncak utama Gunung Manglayang, yang berjarak sekitar 3 km. Medan yang harus kami lalui berupa jalan setapak yang tentunya menanjak dan cukup menguras tenaga. Angin kencang yang bertiup menyapa awal kedatangan kami, pemandangan sepanjang perjalanan cukup indah, hamparan hijau pohon-pohon. menambah segar udara sekitar yang kami lalui.  View kota Bandung dan sekitarnya dapat terlihat dengan jelas dihadapan kami. Setelah berjuang mendaki sekitar 3 jam, akhirnya kami pun sampai di Puncak Utama Gunung Manglayang, gurat-gurat kelelahan tersirat di wajah teman-teman tapi tersembunyi pula rasa senang karena bisa sampai di Puncak. 





Puncak Utama Manglayang sendiri berupa tanah lapang seukuran 15x15 meter yang tertutupi pepohonan. Di   salah satu bagiannya terdapat sebuah gundukan batu menyerupai sebuah makam, menurut cerita temapt tersebut adalah sebuah makam, tapi entah makam siapa, tapi bila dilihat dari bentuknya serta benda-benda yang ada disekitarnya  seperti cangkang kelapa, bisa jadi "makam" tersebut dikeramatkan.


Barubeureum

Setelah melepas lelah dan mengisi perut di puncak utama, perjalanan turun pun dimulai. Kami memutuskan memilih jalur turun menuju Barubeureum. Jalur yang dilalui bisa dikatakan cukup menyulitkan kami, turunan curam berupa tanah merah yang licin membuat kami cukup kepayahan. Di turunan yang cukup curam tersebut kami harus melaluinya dengan ngesot agar tidak terjatuh/tergelincir karena licin. Di tenagh jalan kami menyempatkan diri berkunjung ke Puncak Prisma Gunung manglayang, pemandangan di sana cukup indah, kami bisa melihat kawasan Jatinangor dan Bandung dari atas dengan jelas serta Gunung-gunung yang mengitarinya. Puncak Prisma memang tak seluas Puncak Utama.



Perjalanan pun berlanjut, sekitar 3 jam kami berjibaku melewati jalur turunan yang curam, akhirnya kami pun sampai di kawasan Barubeureum. Karena jumlah kami yang cukup banyak, tentunya kami tak dapat berbarengan sampai karena kami terbagi menjadi 3 kelompok. Setelah semua  teman-teman sampai di Brubeureum, kami memilih beristirahat dan sholat di sana. 

Kiara Payung - Jatinangor

Karena senja semakin mendekati gelap, kami pun bergegas pulang melewati jalan berbatu perkampungan Barubeureum. Karena tak ada kendaraan yang bisa di sewa untuk sampai ke Jalan besar (Kiara payung atau Jatinangor) terpaksa kami berjalan kaki beriringan ditengah langit yang semakin gelap. Tak terasa kami sampai di Bumi Perkemahan Kiara Payung, dari sana kami kembali sejenak beristirahat di sebuah warung sambil menuggu mobil angkot yang akan kami carter. Tak berapa lama 3 angkot yang kami carter datang untuk menjemput kami pulang sampai ke Bandung.  Kami sampai di Bandung (starting point, Surapati Core) sekitar jam 8 malam. Itulah sedikit cerita petualangan satubumikita di Gunung Manglayang. Terimakasih buat teman-teman kami yang hebat-hebat. Sampai bertemu dipetualangan selanjutnya. (opik/satubumikita)***

Semoga dengan sedikit menyusuri jejak-jejak alam, kita dapat lebih arif dan bijaksana dalam memperlakukan bumi yang kita pijak. semoga. 

Salam satubumikita.




Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...