Rabu, 30 Desember 2015

Patuha: Sisi Sakral dan Profan

Oleh : Pepep DW 

Gunung tidak melulu soal menggapai puncak dan mengambil gambar indah tentang tanah yang menjadi pijakan di atas lautan awan. Gunung sebagai "tempat" beserta hutan dan segala "patempatan" di dalamnya menawarkan banyak hal untuk direnungkan, dipelajari, diketahui dan diamalkan kemudian.




Gunung Patuha merupakan gunung tua yang lokasinya berada di sebelah selatan Bandung Raya. Kenyataan geologis yang menyebutkan gunung ini sebagai gunung purba sejalan dengan nama lokalnya yang juga dikenal sebagai "Gunung Sepuh" yang berarti "tua". Gunung Patuha memiliki sejarah budaya yang cukup kental, terutama terkait dengan perjalanan hidup Bujangga Manik sebelum 'ngahiang' (moksa), transenden ke alam non-fana. 

Pada cerita Bujangga Manik, dalam naskah yang ditulis sekitar akhir abad ke 15 tersebut diceritakan bahwa setelah perjalanan panjangnya berziarah ke Timur (Bali) dari Pakuan (Bogor) dan menyinggahi gunung-gunung, di akhir perjalanannya diceritakan bahwa Bujangga Manik menemukan ketentraman di Gunung Patuha, sebuah rasa yang selama ini dicarinya.

Setelah itu, Bujangga Manik melakukan pertapaan yang cukup lama hingga akhirnya diceritakan jiwanya meninggalkan raganya, raganya hilang takberbekas, di sebuah gunung yang menjadi akhir perjalanannya.


Hari ini, di mana mendaki gunung atau katakanlah bepergian ke gunung sudah semakin populer, Gunung Patuha lebih dikenal akan "Kawah Putih"-nya, dipastikan setiap akhir pekan kawah ini penuh sesak akan pengunjung yang berjubel, dari datang hanya untuk sekedar menikmati keindahan alam, kencan dengan pasangan, hingga mengambil sesi pemotretan untuk foto undangan pernikahan.

Kawah Putih yang berlokasi di sisi sebelah timur Puncak Patuha seolah menjadi sisi profan gunung, di sebelah barat puncak terdapat kawah saat (kering) yang hingga saat ini dijadikan tempat 'keramat' untuk orang-orang yang percaya doanya lebih mendekat ke langit. 

Kawah Saat Gunung Patuha menjadi semacam sisi sakral, keberadaannya tersembunyi dari keramaian hiruk pikuk manusia, di samping tersembunyi, untuk menuju sisi sakral gunung ini diperlukan keseriusan niat dan fisik, Kawah Saat dilingungi dinding gunung yang menjulang, dipagari hutan cantigi, dan dihalangi jurang curam yang tinggi.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...