Sabtu, 14 November 2015

Para Pejalan Indonesia Dari Masa ke Masa

Oleh ; Yogi (Kidung Saujana)
Ilustrasi, foto kidung saujana


Nama Rudolf lawalata, Abdullah Balbed dan Sujono Djono mungkin asing bagi para petualang muda saat ini. Ketiga pemuda ini pada tanggal 8 Januari 1955 menemui presiden soekarno untuk meminta restu melakukan perjalanan keliling dunia dengan berjalan kaki. Kemudian oleh presiden dibekali dengan kamera, tas ransel serta baju batik.dan hanya dengan uang sebanyak Rp.50,000,-.


Mereka mengawali perjalanan mereka dari Batam menuju Singapura kemudian dilanjutkan ke Thailand, Myanmar, India, Pakistan, Afganistan, Irak, Iran, Arab Saudi, Sudan, Mesir, Yunani, Yugoslavia, Austria, Italia, Swiss, Jerman, Belgia, Belanda, Swedia, Norwegia sebelum akhirnya tiba di Amerika Serikat pada Agustus 1956. bahkan namanya telah dijadikan kata kerja dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia di mana di sana Anda akan menemukan istilah berlawalata yang artinya berjalan kaki menempuh jarak jauh. Mungkin lawalata dan kedua temannya bisa disebut pejalan kaki pertama indonesia pada zaman modern pada saat itu.




Selain itu, di indonesia juga ada nama bujangga manik, seorang pangeran dari kerajaan pajajaran yang melakukan perjalanan dari bogor menuju pulau bali untuk bertapa, bujangga manik melakukan perjalanannya dalam dua periode. Pada periode pertama, di tengah perjalanannya menuju pulau dewata, bujangga manik memilih untuk kembali pulang karna merasa rindu pada ibundanya. lalu baru pada perjalanan keduanya bujangga manik berhasil bisa sampai di pulau dewata. Bujangga manik adalah salah satu pejalan kaki pada zaman kerajaan dimasa itu.
Ini artinya di indonesia sendiri sudah banyak yang malakukan perjalanan jarak jauh dengan berjalan kaki, sebut saja, juga tercatat nama Herman Wenas. Sudah berulang kali ia melakukan perjalanan jauh hanya bermodalkan kedua kakinya. Tahun 2007 ia tercatat oleh MURI setelah berjalan kaki sejauh 1.000 kilometer selama 33 hari.

Empat tahun berselang yakni tahun 2011 ia kembali lagi melakukan perjalanan panjang menempuh jarak 30.000 kilometer melewati 25 negara. Kegiatan ini selain bertujuan untuk mempromosikan wisata di Indonesia ia juga hendak memecahkan Guinness World Records sebagai orang tercepat berkeliling dunia dengan berjalan kaki.
Lalu ada pula nama Iwan sunter yang baru-baru ini pernah di angkat oleh media elektronik. Dan nama-nama lain yang melakukan perjalanan jarak jauh dengan berjalan kaki, dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda, seperti ada yang berjalan kaki dari malang menuju jakarta hanya agar bisa bertemu dengan presiden untuk meminta keadilan atas nasib anaknya.
Mungkin pada zaman serba modern saat ini, melakukan perjalanan dengan berjalan kaki banyak di lirik sebagai sesuatu yang mencari sensasi, sesuatu yang ‘kurang kerjaan’ atau sesuatu yang di pandang secara negatif. Karna dewasa ini alat transportasi dari darat,laut dan udara sudah sangat mudah di jumpai dan digunakan untuk berkeliling dari satu tempat menuju tempat lain. Namun ada hal yang sangat sakral disini. Dengan melakukan perjalanan berjalan kaki, seorang pejalan akan dapat menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah mereka lihat selama ini, bisa berinteraksi dengan masyarakat luas dengan berbagai kebudayaan dan kearifan lokal yang berbeda dan kaya. Menjadikan perjalanan spiritual untuk ketebalan iman. Karna dengan berjalan kaki, kenikmatan tuhan meski sekecil biji pasirpun akan bisa diterima dengan sangat bahagia.
Bagi seorang pejalan, mampu manapakan kaki dari jengkal demi jengkal tanah dimuka bumi ini adalah sebuah kebahagiaan tersendiri, sebuah kebahagiaan yang hakiki, meski tak menampik bahwa rasa lelah pasti akan selalu datang dalam raga. Namun rasa lelah tak akan pernah menghinggap dalam jiwa. Karna alam selalu serta dalam jiwa seorang pejalan. Bagi seorang pejalan, menemukan makna sesungguhnya dalam melangkah adalah sebuah keberhasilan yang tiada tara. Meski pada akhirnya, rumah adalah sebaik-baiknya tempat tujuan terakhir dalam melangkah. Orang-orang yang dicintai adalah sebaik-baiknya tempat yang dituju untuk melangkah, namun perjalanan selalu mengajarkan seorang pejalan akan arti sebenarnya hidup.
Kini, semoga penulis bisa menyelasaikan perjalanan ini dengan menghasilkan sesuatu yang bisa berguna untuk semua. Minimal berguna untuk orng-orang yang sudah mendukung penulis selama ini,
meski hanya jarak dari bandung menuju malang, meski hanya dalam satu kepulauan yang sama. Namun aku berharap bisa menjadi berguna untuk orang-orang yang dicintai. Untuk kawan-kawan yang menunggu aku pulang. Untuk rumah yang selalu aku rindu dalam setiap malam. Untuk puncak tertinggi yang selalu aku rindukan. Yaitu telapak kaki ibu beserta pelukan syahdu dan tatapan senyum-nya yang begitu merdu.
Kidung saujana #Langkah771KM
Ditulis di sebuah warnet milik seorang sahabat yang berada di sebuah desa di kabupaten boyolali.
Dipublikasikan juga di : https://kidungsaujana.wordpress.com/2015/09/23/para-pejalan-indonesia-dari-masa-ke-masa/


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...