Minggu, 08 November 2015

Cerita camping satubumikita (Part 2 / Finish)

Oleh : Ria Indhryani


Berhubung saya harus cepat-cepat melunasi hutang tulisan tentang Campfest Seuri Bray beberapa pekan lalu, Sabtu pagi memang hari yang manis buat menulis. Harus melanjutkan cerita Camping Ceria Sabuki, Kang Opik [Salah satu dedengkot Satu Bumi Kita] sudah seperti redaktur tempat saya bekerja dulu yang jika bertemu, tidak pernah lupa menagih tulisan lanjutan ini. Hehee.
Menjemput maghrib hari itu, senja mulai datang. Yang lain tentu saja bersegera untuk sholat. Bahkan, mungkin ada juga yang mandi sore. Saya dan teman-teman setenda saya, jangan kalian tanya…! Belum ada alasan untuk mandi! Hehe.
Karena membayangkan mushola minimalis di area tersebut pasti akan penuh, saya dan teman-teman di tenda nomor 01 itu sepakat mengejar mas-mas bintang tamu yang sedang asik ber-hammocks di area sebelah kanan lapangan. Ada Serambi Langit dan Fiersa Basari di sana. Dalam kondisi seperti ini, mengawas diri jangan sampai baper sama artis itu penting. Hahahahah. Modal kamera, sebenarnya niat saya dan teman-teman adalah hanya ingin berfoto dengan mereka. Ngisi waktu doank, paling tidak sampai musholannya agak lega. Kalaupun ada yang niatnya lebih atau beneran baper sebelum dan sesudahnya, biarlah ini menjadi rahasia anak tenda kami. :D

Karena kebetulan saya juga kenal dengan partner manggungnya Serambi Langit hari itu, jadilah tidak susah-susah banget untuk bisa berfoto dengan mereka. Teman-teman cuma mentok di Serambi Langit. Saya sih, ngincar pengen foto sama Si Bung Fiersa aja. Untungnya kesampean. Lumayan lah buat pamer ke temen-temen kantor yang kebanyakan pada suka musik indie. Bisa gaya dikit dan kece.
Sempet ngobrol juga sih sama Si Bung ini, ketolong sama mirrorless camera pribadi saya yang dia taksir. Jadi lah kami sedikit cerita tentang saya, dia dan kamera kamera ini. Rupanya doi juga punya mirrorless dan jadilah sedikit agak nyambung ngobrolnya. Sumpah, ini gak baper ko’. :D
Puas mengobrol dan berfoto, rupanya hari juga makin gelap. Kami mulai menuju mushola yang rupanya antriannya belum beres juga. Takdir! Dengan kekuatan bulan dan sepenuh hati mengantri, akhirnya kami sholat juga. Lalu, seberesnya kami sholat, rupanya temen-temen udah pada ambil makan malam.
Sesampainya di lapangan, Band Angsa & Serigala udah mulai nyanyi dan sepertinya kami cukup ketinggalan -__-”. Oia, di lapangan, para peserta juga dibagiin glow stick oleh panitia. Wuih, pokonya ini menambah kesan kekecean agenda malam hari yang sudah ditemani dengan api unggun yang besar. Iya, ada api unggun besar di tengah lapangan. Jadilah saya dan para kawan setenda makan di dekat sana sambil menikmati penampilan Angsa & Serigala. Dan rupanya, kami cuma kebagian dua lagu terakhir. Hiks…
Setelah Angsa dan Serigala, saya hilang ingatan panggung dikuasi oleh siapa. Entah Parahyena atau langsung diskusi santai. Ah sudahlah, ini semacam efek menunda-nunda tulisan lanjutan ini. Pokonya, seingat saya memang sekitar ba’da Isya itu kalau tidak salah atau setelah Angsa & Serigala perform, peserta mulai dikondisikan untuk kembali berkumpul melingkari api unggun biar semua merasakan kehangatan. Malam itu kami diajak mendengarkan diskusi bareng Mang Pepep dari Jelajah Gunung Bandung, Mas Noer Hoeda, dan Si Bung Fiersa Basari. Lupa lagi juga sih itu diskusi tentang apa intinya. Yang lagi-lagi sedikit saya ingat adalah Bung Fiersa mulai mendaki sebagai bentuk pelariannya karena patah hati. Orang keren mah gitu kali yah, patah hati terus mendaki gunung. Ck ck ck. Dia juga bilang kalau dia selalu berdoa mendapatkan pasangan yang tidak suka naik ke gunung. Alasannya sederhana dan saya suka sekali, karena dia butuh rumah untuk pulang. Sebagai seseorang yang cita-citanya pengen jadi rumah atau tempat kembali, kalau suka mikir samaan gini rasanya pengen meluk Si Bung tos sama Si Bung ini lah. Hahahha.
Nah setelah diskusi agak serius ini, puncak acaranya dimulai. Si Bung Fiersa mulai nyanyi dan menjadi barisan penonton paling depan adalah suatu hal yang sangat penting. April, Celengan Rindu, Juara Kedua, dan Melangkah Tanpamu, dengan asik dinyanyikan oleh Si Bung dengan gitarnya. Malam-malam, di bawah bulan terang, dinyanyiin sama Si Bung ini adalah sesuatu yang luar biasa. Huhuuu, rasanya gagal move on dari malam itu. Nah, di sela-sela Si Bung nyanyi, Panitia Sabuki tiup lilin sebagai bentuk perayaan hari jadi mereka yang ke-4. Selamat Ulang Tahun Sabuki. Semoga tetap kece. Rupanya memang, event besar ini dilaksanakan untuk memperingati hari jadi tersebut. Beres tiup lilin dan cuap-cuap dari panitia, Si Bung nyanyi lagi. Kalau tidak salah malam itu, Bung Fiersa menutup penampilannya dengan lagu Sepasang Pendaki. Yaudah sih, satu kata buat event Sabuki yang bisa mendatangkan Fiersa Basari ini adalah keren. Applause buat Sabuki. Tahun depan tolong undang Payung Teduh yaks #eh. 

Panggung selanjutnya dilanjutkan oleh Parahyena. Pecinta lagu Cibaduyut tentu menanti-nanti mereka. Saya dan kawan saya, Indah, memilih tidak berlama-lama menikmati Parahyena. Kami undur diri dari depan panggung untuk segera menghangatkan kaki di kolam depan sambil mengobrol dan juga disusul oleh Yanti. Setelah cukup lama, malam mulai keliatan larut dan panggung terdengar sudah diambil alih oleh Klopass. Saya kembali ke lapangan. Hawanya memang sedang dingin-dinginnya dan api unggun adalah teman yang paling baik malam itu. Hehhehe.
Semakin larut, beberapa kawan mulai undur diri untuk tidur. Saya juga tidak bertahan lama hanya berdiam diri saja di dekat api unggun. Mie cup dan telur rebus adalah pelengkap malam yang dingin sambil duduk-duduk kece dengerin Klopass nyanyiin lagu-lagu Iwan Fals.
Makin malam makin larut, Klopass juga sudah turun dari panggung. Saya, Yanti, dan beberapa panitia masih asik mengobrol. Walaupun, sejujurnya kami semua hanya bagian orang-orang yang baru kenalan. Hahahha. Malam, dingin, dan api unggun memang suasana yang baik untuk curhat atau cerita apa saja yang sekiranya ingin diceritakan. Orang-orang yang berkumpul di area api unggun malam tersebut silih berganti. Yang mulai lelah tentu akan memilih tidur. Yang terbangun dan tidak bisa tidur lagi, memilih untuk merapat. Mencari kehangatan api unggun! Buat saya sendiri, ini benar-benar malam yang panjang tanpa tidur. Bukan apa-apa, karena camping adalah momen yang langka, melewatkan malam, bulan dan membiarkan api unggun berlalu begitu saja menjadi abu adalah suatu hal yang sebisa mungkin jangan sampai dilakukan. Hehe.

Selesai Shubuh yang tepat waktu, saya dan Indah, yang sedari tengah malam terbangun dan tidak bisa tidur lagi, asik mengobrol dan mengantarkan api unggun yang mulai padam sampai benar-benar habis. Pukul 05.00, kami baru masuk kembali ke tenda dan mulai menginstirahatkan mata. Sukses jaga malam!
Dalam kondisi begini, tidur yang kepagian tidak akan membuat saya bangun kesiangan seperti halnya di rumah sendiri. Heheee. Jam 06.00, saya dan kawan-kawan ditenda hampir serentak bangun. Dingin dan badan memang tampak harus dipanaskan dengan bergerak.
Pukul 07.00 peserta sudah bisa sarapan dan panitia mengkoordinir untuk olahraga pagi. Saya dan kawan-kawan? Cukup melihat saja dari tenda karena harus mulai packing perlahan-lahan. Cie packing… Kaya yang abis ke mana aja. :D Menjelang siang, agenda acara selanjutnya adalah diskusi oleh penulis buku Tabah Sampai Akhir. Sekedar sharing biasa. Lalu dilanjutkan pembagian berbagai dorprize dari panitia.
Puncaknya adalah foto bersama antara semua panitia dan peserta. Kalau dilihat-lihat, lucu juga ini foto. Semacam foto angkatan jaman kuliah dulu gitu. Heheee.
Singkat kata, cuma mau bilang kalau event ini keren banget. Terima kasih teman-teman Sabuki. Kalian luaaar biasaaaaaa…..!!!! Jangan lupa, tahun depan event serupa harus undang Payung Teduh yah. :D Oh ya, selamat dan sukses selalu perjuangannya untuk kalian semua yang baper gegara event ini. Hehehheheheeee. 

Tulisan ini dipublikasikan juga di : https://ruangketik.wordpress.com/2015/10/08/cerita-camping-satu-bumi-kita-part-i/

1 komentar :

  1. kerennn... taun depan semoga ada lagi dan saya yang dari luar bandung ini bisa ikutan... :)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...