Minggu, 06 Juli 2014

Catatan Perjalanan Gunung Merbabu


salah satu jalur gunung merbabu
Teks : Taufik Hidayat

Foto : Ady Saputra 

Hujan di malam itu tak kunjung reda mengguyur kota Bandung, dan kami pun terpaksa berbasahan-basahan menembus buliran air yang tercurah. Jalan becek tergenang dimana-mana, terus berjalan memburu waktu. Ya sebentar lagi kereta api yang akan kami naiki akan segera berangkat tapi kami masih begegas berjalan. Nafas mulai tersengal sedikit berlari, suara dari corong pengeras suara mulai mengkomandoi para penumpang untuk segera bergegas masuk ke dalam gerbong, dan kami malah sejenak terjebak dalam antrian penumpang yang mengular. 

Entahlah bagaimana jadinya kalau kami tertinggal kereta, mungkin saya tak akan menulis catatan perjalanan ini. Kereta api pun melaju dalam buaian malam menembus gelap. Akhirnya kami bisa duduk dengan tenang dan sedikit bisa menghela nafas lega. Suasana di dalam gerbong kereta ekonomi itu cukup ramai, oleh rombongan ibu-ibu yang akan bertamasya, para pendaki dari itenas yang akan ke gunung rinjani, serta para penumpang lainnya yang masih sibuk menata barang bawaannya. 


Seperti tertera di judul, saya dan kawan-kawan dikala itu berencana mendaki gunung merbabu. Kami ber-7 berencana mendaki melalui jalur wekas dan turun melalui jalur selo. Butuh waktu sekitar 8 jam perjalanan dari stasiun kiaracondong bandung untuk sampai ke stasiun lempuyangan jogja sebagai tempat transit pertama kami. Udara pagi yang tidak begitu segar di kota gudeg menyambut kedatangan kami, suasana jalanan di sekitar stasiun lempuyangan masih cukup sepi. Dari kejauhan gerombolan ibu-ibu yang akan bertamasya saya lihat sedang menaiki sebuah bus pariwisata, sedang kami ber-7 masih bingung mencari angkutan umum (selain becak, taksi & ojeg) yang memang cukup sulit ditemukan apalagi pagi hari. Dan kami malah tedampar di trotoar jalan sembari makan pagi dengan kuah soto yang cukup mengenyangkan. 


Oke, saya skip intronya, agar tidak terlalu panjang. Singkat cerita setelah naik trans jogja, dilanjut naik bis tiga perempat jurusan ke arah semarang dan mencarter mobil bak terbuka ke magelang akhirnya kami sampai di titik awal pendakian yaitu basecamp wekas. Disana kami disambut hangat oleh kawannya ceceu. Bada ashar barulah kami melakukan pendakian. Diiringi gerimis dan suara langgam jawa dari pengeras suara warga yang sedang hajatan, kami mulai melangkah. Kabut tebal pun mulai mengiringi langkah  kami. Tak ada rombongan lain yang naik saat itu, dan sebaliknya kami  banyak berpapasan dengan yang baru turun. Batas antara lahan warga dan hutan kami lewati, kabut mulai menyingkir dan udara dingin menggantikan. Senja dan jingga menyeruak hiasi sisi langit, surya mulai kembali ke peraduan dan sebentar lagi temaram akan menggantikan suasana. 


Setelah berjalan cukup lama, kami pun baru sampai di pos 2 sebagai titik henti untuk membuka tenda, mengisi perut dan merebahkan tubuh dalam naungan kantung tidur. Ahh, Malam itu cuaca sangat cerah, titik-titik bintang gemintang dalam kumpulan galaksi yang entah apa namanya selain bimasakti menemani kami yang mulai tertidur pulas dalam buaian mimpi masing-masing. 

Pagi pun mulai menyambut, kabut tipis, buliran embun dan udara sejuk pegunungan menyapa awal hari. Dikejauhan terlihat 2 gunung berderet, menurut orang  itu katanya Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, saya malah menacri gunung merapi tapi memang tak terlihat dari pos 2 ini. Yang terlihat jelas adalah dinding terjal gunung merbabu dan puncakan-puncakannya yang berderet, dan entahlah mana pucuk tertingginya, yang biasa di sebut kenteng songo.




 

Seusai masak-masak dan ritual pagi lainnya kami pun mulai bergegas meneruskan perjalanan menuju puncak kenteng songo, yang menurut berbagai keterangan memiliki ketinggian 3.145 mdpl (meter diatas permukaan laut). Menurut keterangan yang saya kutip dari wikipedia, "merbabu" berasal dari gabungan kata "meru" (gunung) dan "abu" (abu). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.Gunung Merbabu sendiri konon pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. 


Yang menarik menurut saya dan masih menurut laman wikipedia adalah, di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15, Bujangga manik sendiri adalah seorang pangeran dari kerajaan sunda yang berkelana mencari ilmu hingga berkeliling pulau jawa dan bali.


Seuasai berkemas dan ritual pagi lainnya, kaki mulai kembali melangkah. Mentari semakin tinggi diiringi terik yang menghangatkan kulit. Jalur landai mulai tergantikan dengan tanjakan-tanjakan yang cukup menguras energi. Perjalanan kami kali ini pun masih sama, sepi dan tidak ada rombongan lain yang bersama kami. Bunga-bunga edelweiss mulai nampak menghiasi jalan yang kami lalui, selain cantigi dan tumbuhan lain penghuni merbabu yang seolah tumbuh bahagia. Pos demi pos mulai terlewati, jalur demi jalur telah terlalui, lukisan panorama alam tersaji menemani perjalanan, alangkah indahnya secuil sudut negeri ini yang sangat sayang bila kita mengotorinya.
Gunung merbabu sendiri memiliki beberapa puncakan, selain puncak kenteng songo, terdapat pula puncak syarif dan puncak triangulasi. Bentang alam yang memanjang dengan puncakan-puncakan serta lembahan-lembahan memang menjadi daya tarik gunung merbabu. Sebagai gunung api, kawah yang terlihat memang tidak cukup besar dan tidak berbentuk cerukan. Yang terlihat hanya gumpalan batu kekuning-kuningan dengan kepulan asap tipis berbau belerang di beberapa titiknya.
 
Seusai melewati sebuah jalur tipis berbatu dan agak sedikit memanjat, sampailah kami di sebuah tanah lapang yang tidak terlalu luas, di tengahnya terdapat kumpulan batu dengan cerukan kecil seperti mangkok di dalamnya, itulah kenteng songo, pucuk tertinggi gunung merbabu. Udara dingin cukup menusuk tulang dan angin yang berhembus cukup kencang menyambut kami. Di kejauhan lamat-lamat terlihat gunung yang tadi pagi saya cari, merapi. Ya, merapi memang bersebelahan dengan merbabu. Saya mencoba membayangkan bagaimana suasana mengerikan saat merapi mengamuk  hebat beberapa tahun lalu, yang mana di kaki gunungnya ribuan orang bermukim dan sangat berakibat fatal terhadap keadaan masyarakat. Tapi itulah alam, mungkin alam mencoba menyeimbangkan dirinya sendiri dengan berbagai cara, salah satunya yaitu letusan gunung. Dan kita sebagai manusia hanya bisa mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya.

kenteng songo

Tak berapa lama kami di puncak, kembali kami bergegas turun melalui jalur selo. Lembayung senja berpermadani awan hiasi langkah kami tinggalkan kenteng songo, sang atap sembilan gunung merbabu. Gulita mulai menyergap, lampu kepala mulai sinari malam dengan titik-titik cahaya di kegelapan. Kami ber-7 terus berjalan perlahan menuruni lereng yang cukup terjal dan licin. Dan hujan seolah ingin menemani perjalanan kami, akhirnya sampailah kami di sebuah hamparan padang rumput, yang biasa di sebut dengan pos sabana 2. Di sana kami langsung bergegas membuka tenda dan memasak hingga akhirnya satu persatu dari kami tertidur pulas ditemani suara hembusan angin kencang yang berputar-putar menguncang tenda.
Pagi kembali datang sambut awal hari yang sangat cerah dan dingin. Sabana kecil dibentengi bukit memanjang hijau muda, jingga merona di ufuk timur hiasi senin yang indah. Gemerlap buliran embun di permukaan rumput tersibak semburat cahaya. Di atas bukit sana, saya dan beberapa kawan mencoba menikmati panorama yang tersaji. Indah. Kata itu mungkin yang cukup mewakili apa yang saya lihat dan rasakan. Gunung merapi gagah menjulang di hadapan sedikit tersapu kabut. Di sisi lainnya sang mentari baru keluar dari peraduannya ditengah horizon. Ahh, semua itu mungkin hanya bonus dari sebuah perjalanan, perjalanan yang mungkin akan dimaknai berbeda-beda oleh masing-masing dari kami.  Letih seharian kemarin menjadi obat pelipur lara, terdiam dan sejenak merenungi maha besarnya semesta beserta isinya, dan alangkah egois dan kecilnya kita sebagai manusia.





Hangat mentari berubah menjadi terik membakar kulit. Perjalanan kami belum berakhir, untuk sampai pintu gerbang jalur selo dan masih membutuhkan ribuan ayunan langkah. Dari sabana 2 dan seterusnya barulah kami bertemu banyak pendaki dari berbagai daerah khususnya dari daerah jawa tengah. Jalur-jalur dengan turunan sangat curam kembali harus kami lalui. Jalur terbuka dan berbukit-bukit mulai berganti menjadi jalur di dalam hutan yang rimbun. Sepanjang perjalanan, kebersihan jalur yang kami lalui tidak begitu kentara dengan sampah, hanya dibeberapa titik banyak sampah berserakan seperti di sabana 2 dan sabana 1. Petunjuk jalur pun dirasa sangat minim bahkan mungkin hampir tidak ada selain plang penanda pos. Setelah beberapa jam berjalan, ahh sampailah kami di gerbang pendakian selo yang sepi. Rasa letih terbayar sudah, sampailah di titik akhir pendakian. Saya pun kembali teringat kutipan dari Mr. Mallory sang pendaki gunung everest  “Because it is there…”
.



Komunitas satubumikita, pendakian Gunung Merbabu 24 - 27 Mei 2014 :
  • Siti Robiah
  • Fay Adrienne
  • Saleh Havid
  • Ady Saputra
  • Kukuh Yudi Prasetyo
  • Gustaf Ridwan Munandar
  • Taufik Hidayat
Tulisan ini aslinya dimuat di blog bloggopik.blospot.com dalam 2 bagian yang terpisah.

Terima kasih.



tags :
gunung merbabu jalur selo, jalur wekas, bandung - merbabu, rute kereta api ke merbabu dari bandung, puncak kenteng songo, komunitas satubumikita, pendakian gunung merbabu

5 komentar :

  1. Halo teman komunitas sabtubumikita..
    Salam kenal, saya yuli. Saya tertarik buat gabung ke komunitas sabtubumikita.. kira2 gimana caranya ya?
    Thanks :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hallo juga yuli.. silahkan gabung saja dengan komunitas kami, caranya tinggal datang aja kalo kami ada kegiatan atau gabung aja ke group Fb kami. :)

      Hapus
  2. pengen banget ikutan acara sabuki, tapi suka bentrok acara dan bentrok dengan isi dompet. hehehe.... next time mudah-mudahan bisa berjodoh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aminn.. sok atuh ditunggu kalo ada waktu jodohnya.

      Hapus
  3. mau tahu dong kak.. pendakian dari jalur wekas ke puncak brapa jam yah ?

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...