Sabtu, 23 April 2016

Inspirasi : Masih Adakah Kartini Saat Ini ?

Foto : Pustaka tropis Wanadri

Oleh : Dini Rusmiati

R.A. Kartini merupakan sosok pahlawan wanita Indonesia yang memperjuangkan hak-hak perempuan dalam kesetaraan jender. Kenapa harus kesetaraan jender? Masa penjajahan dahulu disimbolisasikan sebagai kaum yang sangat tidak dihargai peran bahkan keberadaanya sekalipun, tak jarang dianggap sebagai kaum bawah yang tidak memiliki masa depan dan hak untuk berkembang dari segi kehidupan. R.A. Kartini yang tumbuh besar di kalangan ningrat saat masa penjajahan sangan gelisah dengan kondisi bhawa perempuan saat itu sangat dihinakan dengan perlakuan yang tidak manusiawi oleh para penjajah, tidak tinggal diam beliau meminta dukungan teman-temannya untuk mendukung sekolah yang ingin ia wujudkan bagi perempuan. 

Tujuan dari awal perjuangannya ini agar perempuan dapat bersekolah layaknya kaum lelaki  memiliki ilmu sehingga bisa membuatnya mandiri bertahan hidup di tengan lingkungan yang sedang tidak kondusif. Sadar atau tidak disadari perjuangnnya tersebut membuahkan hasil kini perempuan bisa dengan bebas melakukan aktifitasnya dalam berrbagai bidang sama halnya dengan lelaki.

Lalu apa yang harus kita lakukan atas perjuangan R.A. Kartini di masa kini? Ada banyak hal yang bisa dilakukan tentu, tapi pernahkan terbersit di masa kini faktanya nilai – nilai dari perempuan itu mulai memudar dan kesetaraan jender itu maknanya menyimpang?



Mengutip istilah dalam undak unduk Basa Sunda “Awewe jaman kiwari mah tong jete kapoe’. Kenan-kenan sagala rupanan babari jeng bisa saebrehna motekar” diartikan  bahwa perempuan jaman sekarang itu jangan melupakan jati dirinya secara lahiriah, meskipun sudah ada di mana segala kemudahan bisa diakses dan kehidupannya bisa dengan leluasa bebas. Biasanya pesan tersebut sering di dengar dari nasehat-nasehat orang tua Sunda kepada anak perempuan yang mulai beranjak dewasa.  Secara pribadi pesan tersebut begitu besar maknanya karena di dalamnnya tersirat bahwa kita perempuan di jaman ini sangat ingin berkembang (motekar; basa sunda), memiliki pendidikan tinggi, jabatan pekerjaan yang tinggi, mandiri secara finansial dll. Pada kenyataannya memang demikian bukan, tidak ada yang salah hanya saja perlu dibarengi dengan ilmu baik secara akademis maupun sosial agar kesetaraan jender dapat dipahami dengan bijak tanpa mengurangi nilai-nilai sosialnya atau pakemnya. Ketika kita bebas tentang cita-cita, jabatan yang tinggi, aktif melakoni hobi, dan naik gunung kesana kemari pasti bermunculan bahkan sampai-sampai sudah cukup tidak waktu lagi untuk menyisikkan waktu rehat.  Jangan lupakan pula bahwa suatu saat kehidupan akan beralih saat bersuami, memiliki anak-anak sampai berkeluarga, sebagai perempuan kita akan memiliki kewajiban lebih dari sekedar memenuhi impian –impian sedari masa sendiri sebelumnya atau perwujudan kesetaraan jender tadi itu  artinya disini yang berbicara adalah kesiapan kita secara mental dan teknisnya secara fisik. Kesetaraan jender yang bisa dipahami mungkin kita leluasa menjadi manusia merengkuh dunia akan tetapi sebagai perempuan kita jadikan itu amanah dalam hal kehidupan ya intinya dunia akhirat seimbang ya.



Merefleksikan kesetaraan jender erat kaitannya dengan perjuangan Kartini di masa lalu, di masa kini bermunculan kartini-kartini baru dengan semangat perjuangan yang lebih kekinian. masih hangat diingatan Sabtu/16/April/2015 Pustaka Tropis Wanadri bertembat di Eiger Flagship Sumatera mengadakan kegiatan rutin Ngobrol Sore yang bertemakan ‘ Kartini Masa Kini’ dengan menggandeng aktivis muda wanita yaitu Dinni Septiningrum (Humas dan Photographer 1000guru) dan Anggi ‘Cumit’ Frisca (Ekspeditor AKSA7 #007).

Poster Ngobrol sore, Pustrop Wanadri

Mereka adalah dua diantaracerminan kartini masa kini yang juga berjuang tapi berjuang bukan melawan penjajah tapi berjuang memajukan bangsa dalam bidang pendidikan, sosial dan kegiatan alam.


Dinni Septiningrum merupakan Humas sekaligus photographer 1000guru, aktivitasnya sekarang ini fokus di 1000Guru dan SEASOLDIER. Di awal munculnya 1000 guru ini menurut penuturan beliau berawal dari kegiatan traveling yang sering dilakukan ke beberapa daerah dengan mendapati kondisi masyarakat terutama anak-anak di daerah tersebut masih minim sekali mendapatkan akses pendidikan yang layak, sekolah ada tapi gurunya yang gak ada atau guru ada tapi terbatas dengan fasilitas serta biaya.


dokumenatsi 1000 Guru





Kenyataan tersebut menjadi kegelisahan bagi teh Dinni ini akhirnya bersama teman- temannya munculah ide “ gimana ya kalo ketika kita traveling biar gak bosen? Gimana kalo gak kitacoba traveling kita gabungin sama kegiatan ngajar anak-anak di daerah sekitar yang kondisinya kurang jadi kita bisa tetap menyalurkan hobi dibarengi sosial sampai yang ikut gabung mulai banyak jadilah 1000guru ini” penuturan teh Dinni. Berjalan hampir 3 tahunan dari awal ide tersebut kini 1000guru memiliki 35 regional di Indonesia dan 6000 guru, cukup membuat terenyuh masih ada  ternyata yang mau bareng-bareng saya berbuat lebih terjun langsung untuk pemerataan pendidikan bangsa ini. Masih banyak kekurangan dan hambatan yang dialami 100guru sampai berjalannya saat ini, tapi  itu bukan halangan yang bisa memutuskan hak anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak kan . Ada banyak caranya kok buat terus berjuang toh kita gak sendiri kita bareng-bareng jadi saya gak putus asa.



Selain itu teh Dinni ini juga merupakan agen SEASOLDIER, kegiatan yang aktif di bidang lingkungan hidup. Hampir sama dengan 1000guru, SEASOLDIER ini juga awal mulanya dari kegiatan traveing ke pantai yangsering dilakukan teh Dinni dengan rekan-rekannya, yang miris dengan kondisi laut saat ini banyak sampah, terumbu karang yang rusak bahkan terkontaminasi limbah bahkan sampai populasi plankton dan ikan  berkurang akhirnya berimbas ke perekonomian nelayan pula. Setelah iseng-iseng riset yang ditemukan teh Dinni bahwa kerusakan laut itu disumbang langsung oleh aktivitas manusia di daratan,  Siklusnya seperti dibawah ini :

Buang sampah di sungai > air sugai dan sampah mengalir ke laut > sampah yang ikut terbawa aliran sungan sampai di laut gak bisa langsung hilang pasti bentuknya tetep plastik  kan soalnya peru proses bertahun-tahun > sampahnya nyangkut di terumbu karang terus mati deh terumbu karangnya dan plankton-plankton berkurang > ikan-ikan mati karena plankton yang dikonsumsi berkurang jadi populasinya menurun > nelayan yang biasanya menangkap ikan banyak jadi berkurang juga > kalo teh Dinni lagi diving juga jadi gak nyaman dan berpegaruh ke sektor lainnya juga.

`           Dari hal itu tergugahlah untuk melakukan hal kecil salah satuanya dengan mengurangi penggunaan botol minum kemasan beralih ke penggunaan Tumblr dan mengurangi penggunaan kantong plastik. Teman-teman mulai ikutan juga menjadikannya kampanye yang sah satu agennya juga Riyani Djangkari yang kini konsen di penyelamatan hiu #SAVESHARK, Anggi ‘Cumit’ Frisca (AKSA7) bareng sama teh Dinni jadi kita punya misi sama jadilah SEASOLDIER ini setiap yang ikut kampanye #seasoldier dinamakan agen. Kegiatan ini masih baru jadi sangat terbuka bagi teman-teman yang mau berpartiipasi aktif disini.


***

Anggi ‘Cumit’ Frisca, seorang sinematrography yang juga aktif menjadi penggiat alam, karya-karya film nya  sudah banyak bahkan ada yang di apresiasi di Piala Citra 2007. Seorang Cumit begitu sapaan akrabnya banyak melakukan kegiatan pendakian gunung, pembuatan film di beberapa daerah yang kondisinya memang jauh dari pembangunan bahkan pendidikan. Anak-anak di daerah kebanyakan bekerja tanpa mendapat pendidikan yang seharusnya padahal pendidikan yang mampu merubah keadaan mereka, disuatu waktu teh Cumit ingin kegelisahannya ini dijadikan sebagai kegiatan yang  bisa mebantu kondisi tersebut sampai bersama temannya mulai melakukan kegiatan mengajar anak-anak di daerah hanya bermodalkan niat yang setujuan, tenda dan buku-buku.



Instagram Pustrop wanadri



ROKA ORA sekolah alam yang dicetuskan dari kegelisahannya ini, ROKA ORA dalam bahasa Indonesia artinya Sekolah Alam Orang Komodo yang saat ini berjalan genap 1 tahun pada 2015 meskipun baru seumur jagung  ROKA ORA berhasil mencatat 48 (jumlahnya terus bertambah)  anak-anak Desa Komodo. Materi yang diajarkan bahasa Inggris  langsung praktek percakapan dengan turis, mengenalkan kepedulian alam, bahaya pembalakan liar dan manfaat laut. Bukan tidak menemui hambatan, ROKA ORA ini masih terhambat finansial ya karena perlu fasilitas seperti tenda yang memadai, buku-buku penunjang dan akomodasi, di Desember 2015 pun harus menghentikan sementara kegiatan ROKA ORA. Harapannya bahwa ROKA ORA berhenti sementara jadi kedepan bisa digalakan lagi.


Kegiatan lain teh Cumit yaitu AKSA7, AKSA7 artinya mata sedangkan 7 adalah jumlah  orang (ekspeditor) yang memiliki passion di dunia sinematography sekaligus penggiat alam dalam menaklukan 7 puncak gunung tertinggi di Indonesia yang dirangkum dalam sebuah film dokumenter. Latarbelakang AKSA7 ini adalah bahwa dengan berkarya kita bisa berbagi, dengan mata kita melihat, melihat hati dan  merasakan, dan dengan  mata kaki kita berjalan. Jadi apa yang dilakukan AKSA7 melaui perjalanan dan film dokumenter yang dibuat ini adalah utuk berbagi bahwa masih banyak dari kita melihat alam sekitar dengan bijak. Puncak gunung yang sudah ditaklukan sampai saat ini Kerinci (november 2014), Semeru (Desember 2014), Rinjani (akhir desember 2014), Bukit Raya ( awal Januari 2015), Latimojong (awal Februari), Binaiya (Akhir Februari), dan menuju puncak  yang ke 7 yaitu Puncak Cartens para ekspeditor tengah mepersiapkan  segala kebutuhan dan keperluannya, untuk  teman-teman yang ingin berpartisipasi menjadi bagian dari AKSA7 ini bisa menjadi WarriorAKSA7 atau pejuang AKSA7 dengan memiliki merchandise official AKSA7 bisa di lihat di ig;warriorAKSA7. Ada kutipan dari teh Cumit:  GUNUNG ITU IBARAT MIMPI, GUNUNGNYA GAK KEMANA MANA SAMA KAYA MIMPI TAPI GIMANA CARA KITA MERAIH MIMPI ITU?




Mereka berdua merupakan diantara kartini-kartini lainnya yang berjuang dengan cara mereka sendiri tanpa ada keterpaksaan semata karena ketulusan dan ingin berbagi bersama membangun negeri, apakah kita (perempuan) mewakili jiwa Kartini..?Jawabannya hanya ada pada diri kita sendiri, kalo mau sekedar hidup toh anak ayam juga bisa hidup kan. Tentukan dari sekarang menunda bukan saatnya.


Nenek selamat Hari Kartini,
Mamah selamat Hari Kartini,
Mamah selamat Hari Kartini
Mamah selamat Hari Kartini
Hari ini atau bahkah hari Ibu sekalipun,

Bagiku setiap detik adalah rasa sayangku untukmu
Terimakasih atas kebangganmu dan didikanmu
Tiada yang bersia, karena tunduk padamu surga pada telapak kakimu Mah.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...