Jumat, 18 September 2015

Menembus Batas Rinjani

Teks : Derull



Rinjani. Membaca atau mendengar kata ini sudah pasti tidak asing lagi. Lebih masyhur dari yang sedang sohor, lebih populer dari gaduhnya status-status di media sosial. Khususnya di kalangan mereka yang menamakan dirinya; pendaki gunung, pecinta alam, penikmat alam, pelancong, traveler, backpacker, fotografer, dan masih banyak lagi. Salah satu gunung tertinggi di Indonesia ini menjadi favorit, idaman, keinginan, harapan bagi mereka semua untuk bisa menapakinya. Seperti itulah kenyataannya. Katanya kalau dalam pembukaan kalimat penulisan sesuatu, tidak perlu repot berpikir sana-sini. Langsung tulis biarkan mengalir dalam perjalanan imajinasinya. Jadi dicukupkan saja basa-basinya.


Dimulai dengan peregangan terlebih dahulu, pemanasan dilakukan. Melenturkan otot-otot yang kaku, menghangatkan kembali suhu tubuh, setelah semalaman diterpa dingin di akhir Agustus itu. Sehabis sarapan pagi dengan menu sayuran, lotek kalau di Jawa Barat namanya, berbelanja di pasar jongkok setempat. Stretching ini merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting sebelum melakukan perjalanan dan ataupun aktivitas berat lainnya, bukan hanya saat mau olah raga saja lho. Terlebih begitu penting saat akan pendakian gunung. Tentu semua sudah tahu bagaimana manfaatnya kemudian. Mari berhitung, mulai! Penuh semangat, canda, ceria. Sebelum berangkat berdoa dulu ya!

Keril-keril sudah menumpuk rapih, kami pun siap menaiki mobil bak terbuka yang sudah stanby. Penampakkan gunung yang konon namanya diambil dari salah satu cerita Rakyat Lombok tentang Dewi Rinjani itu sudah terilhat jelas. Ah, rasanya ingin cepat saja berada di sana. Cuaca cerah, berdebu, dan panas mengantarkan kami meningalkan Rinjani Information Centre di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur. Menjauh dan mendekat. Tidak sampai satu jam mobil beroda empat yang mengangkut enam belas orang ini berhenti tepat di gapura bertuliskan Selamat Datang Di Taman Nasional Gunung Rinjani. Sang Sopir berkata sudah sampai, di sini, ya di sini biasanya! Seusai melaksanakan ritual foto-foto kami mengajukan salam perpisahan sekaligus terima kasih kepada Sang Sopir tersebut dan Oma untuk sementara waktu. Perjalanan dengan jalan kaki pun dimulai di sini.
***
Kalau diceritakan kami mendapatkan tumpangan mobil bak beserta sopir itu rasanya sedih. Hhhmm… Tidak menduga. Kalau dilihat dari sisi kebutuhan bisa dibilang keberuntungan. Dewasa ini lahan, entah itu jalur wilayah keramaian ataukah tempat populer, selalu mengundang dan berpotensi konflik kepentingan yang berujung saling mengklaim wilayah atas nama cari rezeki. Boleh bolehlah, tapi kami jangan dijadikan korban. Kami mendapatinya setelah dua kali pemindahan angkutan secara terpaksa di tengah jalan. Tidak mau lagi kemungkinan berhenti di tengah jalan, kami melakukan kesepakatan terlebih dahulu. Sepakat sampai ke Basecamp Sembalun.

Seperti angkutan yang di luar prediksi tadi, seseorang ini juga berada di lingkaran itu. Hehe.. Oma, kami memanggilnya. Sebab sudah ada Opa di sini, ikut dalam pendakian ini. Kami mengenal sosok perempuan uzur ini saat perjalanan di Kereta Api. Awalnya saling sapa, berbagi cerita, dan obrolan-obrolan menarik lainnya selama perjalanan. Saling menyampaikan tujuan perjalanan. Beliau sendirian. Berniat melakukan traveling, tempat-tempat yang sudah akan ditujunya. Singkat kisah, entah mengapa beliau pun jadinya ikut bareng bersama kami hingga mengantar ke gapura ini. Sekali lagi, terima kasih…
***
Empat belas orang mulai bergerak. Membawa beban berat rata-rata di pundak 12 - 15 kg. Tepat matahari di atas kepala. Semangat pada diri masing-masing harus ditanam terus menerus selama perjalanan. Langkah demi langkah. Setiap diri sendiri dari kami mungkin punya pola langkah masing-masing, ritme perjalanan ritme pendakian yang berbeda-beda. Jumlah dalam kelompok pendakian ini memang banyak. Tetapi kami berusaha untuk tetap bersama. Kebersamaan memang selalu menjadi makna terindah dalam setiap perjalanan.

Hamparan Savana Sembalun kaki Gunung Rinjani yang panjang  menyambut kami dengan eloknya, ada beberapa ekor kerbau atau sapi itu sedang bermain di bawah lembayung awan putih hilir mudik. Terus dan terus kami melewati savana ini turun dan naik, dataran dan lembahan. Sudah barang pasti berdebu, karena campur keirikil, berpasir, ini musim kemarau. Sesaat, menjadi aneh karena sepanjang perjalanan banyak orang bule berpapasan, mereka ditemani guide dan porter yang mengangkut berpuluhan kilo. Kalau ujar salah satu dari kami, kita pribumi seperti wisatawan asingnya nah mereka pribuminya. Bagi anda penyuka fotografi banyak sekali spot-spot cantik nan indah untuk berfoto di sini. Namun ada yang perlu diketahui diingatkan bahwa jangan habiskan baterai, memori kamera anda di sini. Peringatan keras. Secukupnya.

Lelah mulai terasa. Keringat membanjiri badan tidak perlu ditanya lagi. Saat istirahat bersama untuk isi tenaga, masak-masak, makan-makan, ngobrol-ngobrol lagi. Seolah sudah menjadi penyakit menahun dikala melakukan pendakian pertanyaan ini tetap saja selalu diucapkan. Berapa lama lagi sampai di pos terdekat? Berapa lagi sampai ke sana? Bla bla bla… Padahal sudah tahu jawabannya ialah PHP tingkat dewa, persentase kebenarannya mungkin sedikit saja. Untuk perkiraan memang dibutuhkan tetapi jangan keseringan. Melanjutkan obrolan. Orang Bandung ternyata ada di mana-mana. Ketemu sama orang sedaerah, sesuku, rasanya gimana gituh..! Pertemuan yang merubah bahasa obrolan. Kalau dipikir-pikir mah ulin teh meuni jarambah. Seuri bray..!

Kami melewati 3 pos saat itu, sudah berbentuk bangunan beton seukuran pos kamling. Kondisinya tidak terawat, cukup banyak sampah. Hari beranjak sore. Sebentar lagi gelap. Baru tiba di pos tiga. Kami tidak berbarengan. Menjadi beberapa kelompok. Dingin menghampiri. Menyayat kulit. Setelah berkumpul kami semua berdiskusi dan menentukan pilihan. Lokasi pos 3 ini berada di lembahan sebelum tanjakan yang terjal. Malam semakin pasti dengan gelap. Kami mulai bergerak kembali menuju target yang sudah direncanakan. Inilah yang sering disebut tujuh tanjakan penyesalan, tebing penyesalan, bukit penyesalan, rupa-rupa orang-orang menamainya.

Tanjakan dan menanjak terus. Dalam hening kami berjalan. Entah apa jadinya jika situasinya dalam keadaan siang hari, jadi kami tidak melihat jelas kondisi treknya seperti apa. Yang pasti kemiringannya mengagumkan. Situasi kami terbagi dalam beberapa kelompok kembali dengan sendirinya, tapi tidak dengan sendirian ya. Gelap segelap-gelapnya. Menjelang tengah malam. Kami memutuskan untuk istirahat, pasang tenda, dilanjutkan keesokan harinya. Rencana tinggallah rencana. Fakta di lapangan tidak bisa dielakkan. Rasanya kami semua sudah pada tingkat batasnya masing-masing. Apalagi ini terdiri dari beberapa kepala dan usia. Kelompok terdepan mencari yang agak dataran, walaupun sulit karena masih berada di kemiringan. Di antara pepohonan kami memasang tenda, sambil menunggu kelompok yang masih berada di belakang. Sampai berkumpul semua. Masing-masing mengkondisikan, makan seadanya, istirahat ingin cepat-cepat tidur, merebahkan, mengumpulkan kembali untuk esok hari.

Kami kekurangan air. Jelas sudah tanjakannya, masih belum tampak puncak dataran Palawangan Sembalun. Salah seorang dari kami sudah inisiatif pergi mencari sumber air naik ke atas. Persiapan air ternyata masih belum cukup. Dengan perjalanan panjang dan tidak ada sumber air saat itu. Air harus selalu dihemat, membawa lebih banyak lagi. Setelah menunggu cukup lama. Kami dapat tambahan air. Masak lagi makan besar lagi. Puncak top Rinjani beserta guratan cukup jelas terlihat. Masih jauh.

Tengah hari kami melanjutkan kembali perjalanan. Dengan asupan semangat baru lagi. Semangat! Sore tiba kami sudah di puncak dataran Pelawangan Sembalun. Tak habisnya gunung ini akan keindahannya. Lukisan keindahan Savana Sembalun nan cantik dari sini. Huft..dari sana kita ini berjalan. Puji syukur kami panjatkan kepada Sang Maha Karya yang telah menciptakan keindahan-keindahan ini, itu, sana, dan sini. Di sebelah seberang Danau Segara Anak juga kelihatan. Foto-foto lagi. Selfie-selfie lagi. Santai dulu sejenak. Berjalan lagi sampai ke ujung pos terakhir sebelum melakukan summit attack. Dekat dengan sumber air. Menggelar tenda. Awas banyak monyet yaa..! Siluet sunset. Hamparan awan. Ya pasti foto-foto lagi. Lihatlah itu puncak Gunung Agung Bali dari kejauhan.

Persiapan makan malam dengan menu komplit full kreatif. Sekaligus extra persiapan untuk sampai ke puncak Top Rinjani. Summit attack.
Bersambung…

Pendakian Gunung Rinjani Bersama Komunitas SatuBumiKita, 31/08 – 05/09/2014
Bandung ke Bandung, 28/08 – 08/09/2014
#derullaz

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...