Selasa, 23 Oktober 2012

Jurnal satubumikita #10 : Secarik Kisah di Talaga Bodas


Di dinginnya malam sekumpulan anak manusia, melangkah menembus jalan sunyi, di kelilingi hamparan lembah, bukit dan gunung yang terbentang luas. Malam dengan bulan sabit yang terhalang oleh sang mega dan kabut tipis, sesekali menyapa menampakkan indahnya. Derap langkah anak manusia yang kadang tak tentu rima berlomba dengan tarikan nafas yang tersengal berat. Celotehan dan candaan sedikit memecah kesunyian alam di antara paduan suara para serangga malam. Dingin yang semakin menusuk, malam yang mulai memekat gelap menemani anak manusia yang mencoba mencari kebahagiaan, kedamaian dan kesunyian. Di sudut alam yang senyap, jauh dari ketamakan modernitas yang memanjakan.

***



Prolog tersebut mencoba sedikit menggambarkan perjalanan satubumikita di akhir pekan lalu menuju sebuah tempat yang indah di pelosok Garut, yaitu Talaga Bodas. Talaga bodas sendiri adalah sebuah Telaga atau danau kawah yang berada di atas puncak Gunung Talaga Bodas dengan ketinggian sekitar 1512 Mdpl. Terbentuk akibat letusan Gunung Talaga Bodas berabad-abad yang lalu. Kalderanya membeku dan tergenangi air cukup lama hingga akhirnya terbentuklah telaga yang indah. Dalam bahasa sunda Talaga berarti Telaga atau danau, sedangkan bodas berarti putih, jadi Talaga Bodas adalah Telaga Putih, seperti halnya Kawah Putih di Ciwidey. Gunung Talaga Bodas sendiri menurut wikipedia adalah gunung stratovolcano di bagian selatan Garut. Gunung ini terbentuk dari lava andesit dan piroklastik. Terdapat juga fumarol, kolam lumpur, dan mata air panas di sekitar Talaga.

Pada saat jaman penjajahan Belanda dulu. Konon banyak buku-buku perjalanan wisata saat itu yang membahas akan keindahannya. Bahkan saking indahnya pemerintah kolonial pernah mengeluarkan surat keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda yang mengukuhkan Talaga Bodas sebagai taman wisata sehingga pada waktu itu banyak turis asing yang datang ke tempat ini bahkan sambil berkuda. Dan masih dijaman itu pula potensi belerang di kawasan ini mulai ditambang untuk kepentingan medik dan kimia.



Lukisan karya Josias Cornelis Rappard, Talaga Bodas (sekitar tahun 1882-1889)  foto : TropenMuseum
Yang cukup menarik adalah lukisan karya Josias Cornelis  Rappard, seorang kolonel infantri kerajaan Hindia Belanda. Lukisan "Mooi Indie 1882" tersebut yang berarti Keindahan Indonseia 1882, menggambarkan keadaan Talaga Bodas dengan 2 orang Belanda dan seorang pribumi yang memayungi mereka, serta di sebelahnya terlihat 2 orang pribumi yang sedang berada di dalam saung. Rappard sendiri lahir di Nijmegen, 24 April 1824 – meninggal di Leiden, 17 Mei 1898 pada umur 74 tahun. Antara tahun 1882 dan 1889, selama tugasnya di Hindia Belanda, Rappard sempat membuat puluhan lukisan yang menggambarkan orang, kehidupan dan alam Indonesia di akhir abad ke-19.

*** 


Sekitar 130 tahun setelah Josias Cornelis Rappard melukis keindahan Talaga Bodas Garut. Kali ini satubumikita mencoba sedikit mengeksplor keindahan tatar priangan yaitu menuju Talaga Bodas yang dulu sempat termahsyur. Bertolak dari Bandung, kami ber-11 mencarter sebuah elf menuju daerah Masjid Besar Wanaraja sebagai titik awal perjalanan trekking. Butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan untuk sampai Wanaraja. Setelah sholat, break makan siang, perjalanan yang sesungguhnya pun dimulai. Kami pun berjalan beriringan di jalan yang masih beraspal bagus di daerah pemukiman penduduk. Menurut warga, waktu tempuh bila kita berjalan kaki sekitar 6-8 jam, karena jaraknya memang sangat jauh, mencapai sekitar 20km. Setelah berjalan sekitar 30 menit, keberuntungan pun datang, melintaslah sebuah mobil bak terbuka dan kami pun mendapat tumpangan untuk sampai di pertigaan desa, karena mobil tersebut beda arah dengan tujuan kami. 


Karena perjalanan kali ini adalah perjalanan ceria, jadi kami tidak begitu terlalu ngoyo mengejar waktu untuk sampai. Setelah mendapat tumpangan mobil bak terbuka, kami pun harus berjalan kembali di jalanan yang cukup menanjak dan menguras tenaga. Beberapa kali kami pun harus beristirahat meregangkan otot kaki dan menghela nafas. Di tengah perjalanan, kami dapat melihat Gunung Sadahurip yang beberapa waktu lalu sempat ramai menjadi perbincangan karena konon terdapat sebuah piramid di dalamnya. Entahlah benar atau tidak. Perjalanan kembali berlanjut setelah break meneguk es cingcau traktiran dari Opa kita, ehm menyegarkan dan murah meriah.

Keberuntungan kembali menghampiri kami, berturut-turut kami mendapat 2 kali tumpangan truk, walaupun tidak sampai ke Talaga, tapi cukup menghemat tenaga dan waktu. Terima kasih para supir yang baik hati. Sore mulai menggelayut, tapi kami belum juga sampai. Keceriaan terpancar sepanjang perjalanan kami, bercanda dan bergurau menghangatkan suasana alam yang sepi. Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam, akhirnya syukur Alhamdulillah kami pun sampai di Talaga. Kami di sambut oleh bau belerang dan dinginnya udara sekitar, tak cukup jelas terlihat Talaga yang kami tuju, tapi tak apalah yang penting kami sampai dengan selamat dan ceria, besok pemandangan pasti lebih indah.

Keceriaan pun berlanjut, seusai memasang tenda kegiatan masak memasak dimulai dan kegaduhan tak terelakkan lagi. Setelah tak sabar untuk menyantap masakan hasil bersama, acara makan-makan dimulai dengan menu nasi, oseng buncis sosis baso serta mie rebus, alangkah indahnya sebuah kebersamaan yang terjalin. Seusai mengisi perut, sesi keceriaan dan kebersamaan belum berakhir, kegiatan spontan selanjutnya yaitu api unggun dan apresiasi seni dengan bernyanyi bersama. Malam yang indah.

Pagi pun datang menyambut, tapi kabut seolah tak mau pergi, mentari seolah malu juga menampakkan diri. Talaga yang terhampar di hadapan kami, berbalut berkabut putih nan indah, pemandangan yang tak kami temui semalam. Keindahan yang cukup sempurna dengan kesunyian sang alam ciptaan Sang Pencipta Abadi. Keindahan sejati Talaga mulai tersibak, danau putih kehijauan sangat indah memanjakan mata dan sangat sayang untuk tidak di abadikan. (Taufik/satubumikita).

***


Kemesraan ini janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini ingin ku kenang selalu
Hatiku damai jiwaku tentram di sampingmu
Hatiku damai jiwaku tentram bersamamu
***


Kemah Ceria Talaga Bodas Garut, 20-21 Oktober 2012


Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Ingin kukenang selalu

Hatiku damai
Jiwaku tentram disampingmu
Hatiku damai
Jiwaku tentram bersamamu
Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Ingin kukenang selalu

Hatiku damai
Jiwaku tentram disampingmu
Hatiku damai
Jiwaku tentram bersamamu

Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Ingin kukenang selalu

Hatiku damai
Jiwaku tentram disampingmu
Hatiku damai
Jiwaku tentram bersamamu

Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Ingin kukenang selalu

Hatiku damai
Jiwaku tentram disampingmu
Hatiku damai
Jiwaku tentram bersamamu





  • Ihsan Safaat
  • Opa Yayan
  • Betty Suryaningsih
  • Tititn Edriati
  • Novriyanti
  • Dini
  • Fitri
  • Puspita Supriati
  • Adam Alexander
  • Lia
  • Riki Guntara (motoris)
  • Kuje (motoris)
  • Iwonk (motoris)
satubumikita : Gustaf Ridwan & Taufik Hidayat

Terima kasih semua teman-teman.

3 komentar :

  1. suka bgt ma kta2 ini..."Dingin yang semakin menusuk, malam yg mulai memekat gelap menemani anak manusia yang mencoba mencari kebahagiaan, kedamaian dan kesunyian. Di sudut alam yang senyap, jauh dari ketamakn modernitas yang memanjakan".

    BalasHapus
  2. nice pict.. i love garut.. cheers

    BalasHapus
  3. seru ceritanya..jd pengen ke sana, keren kayanya..hehe

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Berlangganan artikel, info dan event satubumikita, masukan e-mail anda di sini.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...