Senin, 30 April 2012

Jurnal satubumikita #5 : Secarik kisah, Perjalanan di Gunung Papandayan



Pemandangan serta panorama alam yang indah serta menakjubkan, mungkin menjadi sebuah hal yang jarang kita rasakan, nikmati dan lihat secara langsung. Apalagi bagi orang-orang yang tinggal dan "terjebak" dalam rutinitas perkotaan yang padat dan kadang menjemukan. Asap polusi ditambah kebisingan kota menjadi sebuah konsekuensi bagi kita sebagai warga kota. Salah satu cara me-refresh dan penetral pikiran dan jiwa dari berbagai rutinitas perkotaan, yaitu dengan bercengkrama dan berbaur langsung dengan alam bebas, salah satu kegiatannya yang populer yaitu Hiking/trekking atau mendaki gunung.

***


Di hari sabtu tgl 28 april 2012 yang lalu, satubumikita (disingkat : sabuki) kembali mengadakan sebuah kegiatan wisata petualangan mendaki gunung (Hiking/trekking) ke salah satu gunung api yang ada di kabupaten Garut yaitu Gunung Papandayan yang memiliki ketinggian 2.665 mdpl. Teman-teman sabuki yang berpartsispasi pada hari itu terhitung 20 orang dari berbagai kalangan dan tidak hanya dari Bandung saja tapi ada pula yang sengaja datang jauh-jauh dari Jakarta, Kebumen serta yang paling jauh dari Palembang. 

Starting point kami mulai pagi hari di Surapati Core, di bilangan Jalan Suci Bandung. Bertolak dari Bandung ke Garut, kami menggunakan moda transportasi berupa mobil Elf. Perjalanan dari Bandung menuju Pos 1 (tempat parkir) Gunung papandayan sendiri memakan waktu sekitar 4 jam. Gunung Papandayan sendiri secara administratif berada di  Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Jam setengah satu siang kami pun memulai melakukan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalanan berbatu yang di sisi kiri serta kanan adalah tebing-tebing cadas Gunung Papandayan yang unik dan menakjubkan. Ya, unik, karena Gunung Papandayan tidak seperti gunung-gunung kebanyakan yang ada di sekitar Jawa barat lainnya yang berbentuk kerucut atau seperti gunung Tangkubanparahu, tapi Papandayan bentuknya agak sedikit tidak beraturan dan itulah yang menjadi ciri khas dari gunung yang biasa disebut pula "Panenjoan". Gunung Papandayan sendiri memiliki 2 buah kawah besar yaitu kawah Emas dan kawah nangklak, tapi setelah meletus pada sekitar tahun 2002 kawah bertambah menjadi 4 dan kawah nangklak tertimbun material vulkanik berupa bebatuan. 

Papandayan sendiri tercatat beberapa kali erupsi. Di antaranya pada 1773, 1923, 1942, 1993, dan 2002. Letusan besar yang terjadi pada tahun 1772 menghancurkan sedikitnya 40 desa dan menewaskan sekitar 2951 orang. Daerah yang tertutup longsoran mencapai 10 km dengan lebar 5 km. Pada 11 Maret 1923 terjadi sedikitnya 7 kali erupsi di Kawah Baru dan didahului dengan gempa yang berpusat di Cisurupan. Pada April 2006 PVMBG menetapkan status Papandayan ditingkatkan menjadi waspada, setelah terjadi peningkatan aktivitas seismik. Pada 7-16 April 2008 Terjadi peningkatan suhu di 2 kawah, yakni Kawah Emas (245-262 derajat Celsius), dan Balagadama (91-116 derajat Celsius). Lalu pada 28 Oktober 2010, status Papandayan kembali meningkat menjadi level 2. Pada awal Agustus 2011 aktivitas Gunung Papandayan menunjukkan aktivitasnya. 


Foto : Ajeng D Indriyani



Kami pun harus berhati hati melangkahkan kaki karena jalur berbatu yang kami lalui dulunya adalah bekas kawah yang tertimbun disertai asap-asap putih bercampur kuning yang mengepul keluar dari dalam batu berwarana kekuning-kuningan yang mengandung belerang. Tak usah ditanya baunya seperti apa, bau belerang yang menyengat sejenak menemani perjalanan kami menikmati keindahan salah satu landscape tanah Priangan ciptaan Tuhan yang sedang tersenyum, alangkah indahnya. Perjalanan terus berlanjut, kami cukup beruntung karena cuaca saat itu cukup bersahabat dan cerah ceria. Jalur berbatu tetap menjadi dominasi di awal perjalanan kami, jalur yang harus kami lalui cukup bervariasi dari jalan berbatu, melipir sisi sebuah tebing cadas, jalan tanah setapak yang menanjak dan menurun. 

Setelah sekitar 2 jam kami berjalan, sampailah kami di sebuah tanah lapang bernama Pondok salada. Saat kami sampai di Pondok Salada, ternyata di sana sudah banyak orang-orang yang mendirikan tenda, memang tempat tersebut sangat cocok untuk bermalam dan nenda karena selain tanah lapang yang datar juga sumber air yang cukup tersedia. Sejenak kami melepas lelah di sana sembari berfoto-foto, perjalanan kembali berlanjut untuk menuju Tegal Alun. Untuk menyingkat waktu, kami pun memilih memotong jalan untuk menuju Tegal alun, jalur yang kami lalui cukup terjal berupa tanjakan berbatu cadas yang besar-besar. Sekitar satu jam kami menanjak di "tantangan" tanjakan batu cadas, kami pun sampai di sebuah hamparan bunga edelweis, ya seperti sebuah Taman Edelweis yang dikelilingi pohon-pohon cantigi, sungguh indah dan cukup tersembunyi. Di Taman Edelweis tersebut, kami yang mulai kelelahan dan keroncongan mulai membuka bekal yang kami bawa. Dan salah satu dari "keindahan" serta kenikmatan mendaki gunung adalah saat makan bersama (botram) walaupun mungkin bekal yang dibawa hanya seadanya dan sederhana, tapi rasa kebersamaan menjadikan makanan serasa lebih nikmat.

Foto : Ajeng D Indriyani

Sore mulai menggelayut, kabut tebal pun mulai turun perlahan disertai gerimis yang juga menemani. Perjalanan untuk menuju Tegal Alun pun berlanjut, kami mulai berjalan kembali menyusuri jalur yang cukup rimbun oleh semak dan ranting. Ternyata, jalur yang kami lalui hanya berputar di situ-situ saja dan kembali lagi ke Taman Edelweis tempat kami makan. Kami pun memutuskan untuk kembali turun dan tidak menruskan ke Tegal Alun, dikarenakan cuaca yang semakin tidak bersahabat, kondisi kami yang mulai kelelahan serta hari yang semakin gelap. 

Jalur turun yang kami lalui masih sama seperti saat naik, tapi kali ini tantangannya yaitu hari yang semakin gelap. Dan, Allhamdulillah sekitar 3 jam dalam kegelapan berjalan beriringan di kawasan Gunung Papandayan, kami pun sampai di start awal pendakian (Pos I) sekitar jam 8 malam. Sungguh hari yang melelahkan tapi terbayarkan dengan panorama alam yang indah. Sekaligus hari yang menyengankan bisa berkumpul dan mendaki bersama teman-teman baru serta menambah pengalaman bagi sabuki, penulis dan mungkin bagi teman-teman semua, walaupun tak menginjakan kaki di puncak Papandayan. (opik/satubumikita)***

Foto : Ajeng D Indriyani
Terima kasih untuk Tuhan, Alam dan semua teman-teman. 


Quote and Wisdom from Rookie Monkey :
Ibarat seorang guru, alam terkembang memberi pelajaran dan ilmu, menambah nilai-nilai bagi kehidupan manusia berupa kearifan lokal. Kadang alam pun layaknya seorang sahabat yang senantiasa harus kita jaga.


Guide :
  • Cepy Saripudin, Pecinta Alam dari Ragapala Cimahi

Tim satubumikita :
  • Gustav ali khamenei;
  • Taufik Hidayat (opik);
  • Dian Q-met baraya sadaya (mamang).
Teman-teman satubumikita yang berpartispasi :
  • Yos Marsinus Yosa (Kebumen)
  • Sucie Sebastian(Kebumen)
  • Ajeng D Indriyani (Jakarta)
  • Syahru Khairan (Jakarta)
  • Ramadhan ananditia (Palembang)
  • Sarlita Indah P (Palembang)
  • Mehdy akbar (Palembang)
  • Miliastri Setia ningrum (Bandung/wanadri)
  • Eko Black Budi s (Bandung/cikutra)
  • Unu Miharja (Bandung/padalarang)
  • Asep harun  (Bandung/kiaracondong)
  • Din Demonio  (Bandung/antapani)
  • Kuje Blythe Zaelani (Bandung/cigadung)
  • Ulen Bdg  (Bandung/cileunyi)
  • Novi eka evriani  (Bandung)
  • Yanstri Meridianti  (Bandung/gegerkalong)
  • Arie aryani  (Bandung/buton)
  • Damar sandi (Bandung/cigadung)
  • Reza Aditya TS  (Bandung/IPDN)
  • Ary Myranda   (Bandung/IPDN)
-----------------------------------------------------------
satubumikita adventure
twitter : @satubumikita
blog : satubumikita.blogspot.com
E-mail : satubumikitaeo@gmail.com
--------------------------------------------------

2 komentar :

  1. Pengalaman yang paling menakjubkan yang pernah saya alami. Masih newbie sekali di dunia hiking/tracking, tapi yang pasti ini membuat ketagihan..

    Terima kasih banyak bwt teman2 Sabuki dkk atas pengertian dan solidaritas yg tinggi sekali dlm perjalanan kemarin. Secara masih newbie, malah lebih sering merepotkan yg lain, dgn munculny kram plus kecapean karna ini baru pertama kali.. Tapi saya merasa senang luarbiasa, selain bisa menikmati keindahan yang luar biasa yg hanya bisa Tuhan yang menciptakan, bersyukur sekali telah bertemu dengan orang2 baru, saling share pengalaman, berfot-foto bersama, makan bersama, plus mendapat pelajaran yang luar biasa menakjubkan solidaritas yang tinggi terhadap sesama dan merasa lebih dekat dgn Tuhan..

    Terima kasih banyak atas keramahan keluarga Sabuki dan yang lainnya. Semoga di lain kesempatan bisa bertemu dan jalan2 bersama lagi.

    Salam dari Palembang.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih juga buat temen2 dari Palembang, lita, Mamot & mehdy udah ikutan acara kemarin, yang sengaja datang jauh2 dari Palembang ke Bandung. Jangan kapok ya kalo nanti kita ngadain acara lagi.

      Makasih :)

      Hapus

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...