Kamis, 13 Oktober 2011

Hiking Jalur Jayagiri - Gunung Tangkuban Parahu

ungkin para pelancong yang sudah pernah berwisata ke Gn.Tangkuban Parahu dengan menggunakan kendaraan (mobil,motor atau bus) patut mencoba jalur yang satu ini dengan berjalan kaki/treking/hiking pasti akan lebih menyenangkan dengan sensasi serta pemandangan yang lebih indah disepanjang perjalanan. Seperti judul tulisan diatas kami akan sedikit membahas jalur yang cukup favorit untuk trekking /hiking dari kawasan Jayagiri menuju kawasa wisata Gunung Tangkuban Parahu.

Makam Junghuhn di Jayagiri


Untuk menuju jalan Jayagiri cukup mudah, kita mulai saja dari arah Bandung tepatnya Terminal Ledeng Jl.Setiabudi. Dari terminal tersebut kita hanya perlu naik angkot satu kali (yang berwarna krem ) yaitu jurusan Ciroyom-Lembang atau Stasiun Halte-Lembang setelah itu kita turun persis di depan jalan Jayagiri yang ditandai dengan banyaknya tukang ojeg, tukang ketan bakar  dan plang penunjuk jalan Jayagiri  atau yang belum tahu cukup tanyakan saja pada supir atau keneknya untuk turun di Jayagiri ongkosnya pun cukup terjangkau Rp.3000.


Setelah turun dari angkot kita harus berjalan menanjak di jalan desa Jayagiri. Sekitar 300 meter dari jalan kita akan menemukan Taman Junghuhn yang menjorok ke dalam sebuah jalan kecil di tengah pemukiman . Taman yang sekaligus berfungsi sebagai makam dan tugu tersebut berada di area pemukiman penduduk. Untuk masuk taman tersebut tak dipungut biaya tapi diingat untuk tidak mengotorinya. Sedikit tentang sejarah junghuhn. Beliau bernama asli Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, adalah seorang dokter dan peneliti alam, kelahiran Mansfeld-Prusia pada tahun 1820 dan meninggal di Lembang pada 24 April 1864.  Beliau ditugaskan sebagai inspektur untuk membudidayakan pohon kina disekitar Lembang ia pun membangun perkebunan kina bersama isteri dan puteranya.

Tetapi rupanya nasibnya kurang baik yang mewarnai tahun-tahun terakhir hidupnya hingga ia meninggal karena penyakit hepatitis. Seorang dokter asal Swiss, E. Haffter 1898 tiba di Lembang 34 tahun setelah meninggalnya Junghuhn melaporkan lebih dari dua juta pohon kina telah digunakan untuk produksi kinine (kina). Sampai pada tahun 40-an, menjelang pecahnya perang dunia kedua, perkebunan di sekitar Bandung menghasilkan bahan baku bagi 90 persen produksi kinine (kina) di seluruh dunia. Atas jasanya itu dibuatkan lah taman sekaligus tugu dan makam sebagai penghormatan kepada Junghuhn.

Jayagiri
Bila setelah puas berada di taman Junghuhn perjalanan dapat dilanjutkan menuju gerbang wana wisata alam Jayagiri yang berjarak sekitar 700 meter dari taman junghuhn. Jayagiri merupakan nama sebuah desa yang terletak di daerah Lembang kabupaten Bandung Barat (KBB) dengan kisaran ketinggian antara 1250Mdpl - 1500Mdpl. Sepanjang perjalanan selain disuguhkan aktivitas warga pastinya kita akan dapat menikmati pemandangan alam ciptaan sang pencipta yang sungguh indah. Sesampainya di gerbang masuk wana wisata Jayagiri hanya dengan membayar karcis masuk Rp.4000/orang kita  bisa menikmati indahnya alam dan kesejukkan udara Jayagiri seperti lirik lagu yang populer yang diciptakan oleh Iwan Abdurachman yang terinsiprasi dari keindahan Jayagiri.

“ ..Melati dari Jayagiri
Kuterawang keindahan kenangan
Hari-hari lalu di mataku
Tatapan yang lembut dan penuh kasih …”

Pohon-pohon pinus akan menyambut kita disisi kiri kanan jalan setapak yang akan dilalui serta pemandangan yang  hijau di sepanjang perjalanan jalanan yang harus kita lalui berupa tanah merah yang menanjak. Setelah lama berjalan menanjak dan dipastikan cukup memompa jantung kita tuk berdetak kencang dan keringat pun pasti tak kuasa tuk bercucurn. Sekitar 1km menjauh dari gerbang wana wisata jayagiri kita akan menemukan sebuah persimpangan dan warung, persimpangan tersebut menuju ketempat yang berbeda, ke kiri ke perkebunan teh sukawana ke kanan ke cikole dan Gunung Putri, nah yang luruslah yang harus kita pilih untuk  menuju Gunung Tangkuban Parahu. Setelah melewati warung kita akan melewati jalan setapak yang di kiri kanannya masih ditumbuhi pohon pinus yang berukuran lebih kecil. Jalan setapak tersebut pun sering dilalui oleh crosser (pengguna motor cross) dan tak seberapa jauh kita akan menemukan sebuah tempat yang sedikit lapang, ditempat tersebut kita akan disuguhi sebuah lukisan pemandangan alam yang nyata di depan mata kita yang sungguh indah.

Perjalanan kita lanjutkan dari tempat tersebut kita berbelok ke kiri lalu akan menemukan pipa besi besar yang berfungsi mengalirkan air lalu ikuti pipa tersebut dan akan menemukan pipa selanjutnya dan bak penampungan air. Selanjutnya jalur yang akan dilalui berupa jalan setapak bersemak belukar di dalam hutan yang cukup lembab dan basah. Selanjutnya kita cukup mengikuti jalan setapak tersebut, walaupun tak ada penunjuk jalan InsyaAllah kita akan sampai ke kawasan Gn.Tangkuban Parahu. Bila kita jeli di tengah perjalanan akan kita temui sebuah lorong yang menyerupai gang dengan lebar 1m, tinggi 3m dan panjangnya sekitar 75m, Di tempat tersebut cukup lembab dengan dindingnya yang ditumbuhi lumut entah berfungsi untuk apa tempat tersebut tapi cukup menarik untuk objek eksplorasi dan foto.


Semakin kita masuk ke dalam hutan jalan yang dilalui yaitu berupa sungai sungai kecil dan tanah berlumpur. Setelah berjuang berjalan menanjak dan menyusuri hutan kita akan keluar di dekat parkiran bus wisata Gn.Tangkuban Parahu. Untuk bisa masuk ke Tangkuban (objek utama) kita diharuskan merogoh kocek Rp.13000/orang. Dari parkiran bus untuk menuju objek-objek di kawasan Tangkuban Parahu kita cukup menumpang angkutan wisata (wara-wiri) berupa mobil elf dengan tarif Rp.2500/sekali jalan.


Gn.Tangkuban Parahu
Gunung yang "dibuat" Sangkuriang ini memang sudah terkenal karena keindahanya panoramanya serta legenda yang masih kuat melekat pada masyarakat di tatar sunda pada khususnya. Gunung dengan jenis stratovulcano yang masih aktif ini dengan puncak ketinggian sekitar 2084mdpl  memang menjadi andalan dan primadona daya tarik wisata daerah Bandung dan Jawa Barat. Kawah utama gunung ini yaitu kawah ratu yang akan menyambut para pelancong dengan pesonanya serta aroma belerang yang khas, kawah ini menurut legenda sangkuriang adalah tempat dimana terjunnya  Dayang Sumbi karena tak rela dipersunting anaknya sendiri yaitu Sangkuriang.
Kawah ratu

Fasilitas wisata tangkuban parahu yang sekarang dikelola PT.GRPP ini memang cukup lengkap dari mulai mushola, toilet, ruang informasi, tempat sampah dan yang pasti penjual makanan dan souvenir. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju objek selanjutnya sebaiknya kita beristirahat sejenak untuk mengisi perut dan sholat. Untuk yang ingin berhemat sebaiknya membawa bekal dari rumah karena penjual makanan di kawasan wisata biasanya harganya lebih mahal dibanding harga normal.

Kawah Upas
Kawah Upas
Untuk menuju kawah upas tidaklah sulit karena sudah ada papan penunjuk jalan . Dari kawah utama (kawah ratu) kita harus berjalan sekitar 1km dengan jalan berbatu. Di sepanjang perjalanan kita akan banyak menemui pohon manarasa yang memang sangat khas di kawasan ini serta bau aroma belerang yang cukup menyengat.

Kawah upas adalah sebuah kawah yang berbentuk seperti padang kerikil yang terdapat banyak batu di sana sini. Untuk turun ke dasar kawah ini disarankan untuk sangat berhati-hati karena kita harus melewati jalan yang terhimpit oleh batu batu besar. Di dasar kawah pun banyak terdapat gundukan -gundukan batu yang sengaja dibuat membentuk huruf-huruf yang merangkai sebuah nama sebagia penanda bahwa orang tersebut pernah datang.


Air Keramat dan Goa Cikahuripan
Objek selanjutnya adalah air keramat dan goa cikahuripan. Untuk menuju tempat tersebut kita harus berjalan naik meniti anak tangga yang cukup membakar kalori dalam tubuh. Di tempat tersebut terdapat sumber mata air yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar karena dipercaya sebagai sendang dayang sumbi dahulu serta masih banyak orang yang mempercayai bahwa air tersebut bisa menjadi obat awet muda ditandai dengan banyaknya orang yang membawa pulang air tersebut. Di dekat mata air tersebut terdapat sebuah goa atau bangker peninggalan belanda yang berukuran lebar 1m dengan tinggi 2m dan panjangnya sekitar 50m ,di atasnya pun terdapat sebuah tulisan "AUG 1937". Di dekat tempat tersebut terdapat sebuah penanda berupa lingga yang menandai batas wilayah antara kab subang dan kab Bandung barat. Sebenarnya untuk masuk ke dalam goa tersebut gratis tapi karena gelap banyak para pengunjung yang menyewa lampu templok kepada kuncen seharga Rp.2000.


Kawah Domas
Dari air keramat dan goa cikahuripan kita lanjutkan perjalanan menuju kawah domas sebagai destinasi terakhir. Sebaiknya kita istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Kita mulai dari mushola dekat parkir motor yang terdapat sebuah plang yang bertuliskan  informasi jarak menuju  kawah domas 1,3km. Dari situ kita diharuskan menuruni anak tangga yang terbuat dari batu dan pasti akan membuat lelah dan berkeringat. Kawah domas merupakan sebuah kawah berupa hamparan hamparan batu yang banyak terdapat kolam yang berisi air belerang yamg cukup panas, terdapat pula kolam besar yang biasa digunakan untuk merebus telur yang dibawa para pengunjung.


Sedang kolam yang ukuranya lebih kecil biasa digunakan untuk "merilekskan kaki" yang sudah berjuang keras dengan merendam kaki dikolam belerang dan cukup untuk meregangkan otot serta menyegarkan badan dengan uap yang dihasilkan. Alangkah indahnya bumi pasundan ini

Selanjutnya untuk perjalanan pulang kita cukup memotong jalan menuju parkiran atau tempat yang biasa digunakan sebagai penyewaan mobil. Jarak dari kawah domas menuju tempat parkir/penyewaan mobil sekitar 1,5 km dengan jalan yang cukup rata dan udara yang segar. Ongkos untuk menuju pasar lembang biasanya dipatok Rp.20.000/orang dan sebaiknya  serta disarankan untuk terlebih dahulu menawar kesepakatan tarif demi kenyamanan dan penghematan ..(opik/satubumikita)***




Di Puncak Tangkuban Parahu

Semoga tulisan ini dapat membantu anda dan bermanfaat. Selamat Melancong.
Salam satubumikita. Lestari bumi kita.


7 komentar :

  1. terima kasih atas infonya... salam dar Sumut... satu bumi kita...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga sudah berkunjung, salam kenal dari Bandung

      Hapus
  2. Di kawasan jayagiri kita bisa camp gak ? Kalo datang malam hari apa diperbolehkan ?

    BalasHapus
  3. Di kawasan jayagiri kita bisa camp gak ? Kalo datang malam hari apa diperbolehkan ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa camp kang, datang malam boleh.

      Hapus
  4. Tulisan yg cukup menarik namun akan lebih menarik lagi jika tampilan visualisasinya lebih lengkap..mungkin seperti pada saat di lorong lalu pipa besar dan pohon2 pinus ditampilkan foto2 yang bisa membuat pembaca ikut hanyut dalam cerita..

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...