Minggu, 05 Februari 2017

Ujung Barat Indonesia Part 1 : Terbang dan Berlayar


Januari 2017 
Oleh  : Moch Khaerul Anwar (Derull)

Pagi hari benar menjelang shubuh saya sudah harus siap-siap pergi ke bandara. Hari itu selasa, tanggal 10 Januari 2017 sekitar jam tiga pagi pergi dari Bekasi. Karena takut terlambat, sore sebelumnya saya berangkat dari Bandung dan numpang menginap di rumah kakak saya di Bekasi. Lama perjalanan kira-kira 1 jam, dan tibalah di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng Tangerang/Jakarta Indonesia. Segera saya masuk ke dalam bandara untuk cepat-cepat check-in. Tiket pesawat sudah dibeli online, tertanda penerbangan pukul 05.00 WIB. Waktu menunjukkan angka empat lebih, di tempat check-in ternyata sudah pada ngantri termasuk teller check-in pesawat yang akan saya tumpangi. Spechless. Kaget. Pas giliran saya sang teller memberitahukan check-in saya “negatif”. Sudah tutup katanya. Padahal saya lihat jam masih setengah jam lagi. Artinya 30 menit menuju keberangkatan. Sudah boarding, sudah sistemlah, ini itulah, begitulah penjelasan si teller sebut saja maskapai Li*n A*r. Astaghfirullah..makin campur deh nih perasaan.


Di depan saya dengan tujuan sama, kok masih bisa? Nyeuseuknya nih dada. Saya ini bukan pertama kalinya naik pesawat, saya pernah alami, memperhatikan orang-orang di maskapai lain yang pernah kejadian seperti ini mepet-mepet waktu penerbangan. Bisa-bisa saja. Dan jeda waktunya 30 menit saya pikir masih lama. Juga tidak ada pemberitahuan dari pihak maskapai bahwa check-in mau habis/tutup. Kok ini??? Hadeuh. Disuruhlah saya menemui customer service Li*n A*r. Ternyata di depan tempat CS-nya, ada banyak juga yang kejadian sama persis saya alami. Dengan tujuan berbeda. Banyak, karena lebih dari 2 orang. Ada yang sambil marah-marah, meminta kejelasan. Minta ganti rugi. Begitupun dengan saya sendiri, ya kesel lah.. Nih ujarnya harus beli tiket ulang lagi bayar 90% saja, ya dipikir sama beli tiket baru-lah. Muncullah pikiran buruk saya, ini permainan atau gimana?! Untung di-eloe rugi di-gue. Berapa coba untungnya dari kejadian-kejadian seperti ini?.

Tadinya sih mau beli baru lagi. Mungkin ini memang kesalahan saya. Terlambat. Ya dipikir-pikir sayang duit juga. Susah cari duit itu. Dengan bantuan kakak saya, urus punya urus saling argumen cukup lama. Alhamdulillaah..akhirnya bisa mendapat tiket kembali tanpa biaya serupiah pun. Hanya saja keberangkatan jadi sore hari, jadwal, janji, jadi re-schedule. Halah… Begini nih kalau naik pesawat delay, dan atau ada masalah gagal terbang di waktu yang sudah ditentukan, kalau pindah jam/hari terbang kan jadi masalah. Saya mengambil hikmahnya saja, kalau check-in jangan mepet-mepet lagi, paling tidak 1-2 jam sudah di bandara. Tercantum sih di struk tiket pesawat. Lebih baik nongkrong lama di bandara. Dan saya pun harus menunggu sampai sore hari di bandara.

Saya sudah berada di dalam pesawat berlogo kepala singa ini. Maunya penerbangan pagi/siang ingin melihat penampakkan bumi Indonesia di atas ketinggian. Heuu..karena kejadian itu yaah penerbangan malam lagi. Gelap. Ada kejadian cukup shock lagi pertama menjadi penumpang pesawat berdominasi warna merah ini. Selepas take-off, sehabis beberapa menit. Suara pesawat berisik banget, sangat terasa guncangan. Mungkin sudah biasa bagi sebagian penumpang lain. Bagiku tidak biasa. Kebetulan posisi duduk saya berada di muka jendela, nampak sayap pesawat pas di samping. Tiba saja awan gelap. Sayap pesawat pun tidak terlihat lagi. Suara guncangan makin terasa. Belasan detik ada peristiwa ini. Dan langsung terhenyak, sepertinya pesawat mencoba menembus kabut awan hitam karena diakhiri dengan pesawat yang turun beberapa feet. Rasanya seperti naik mobil/motor saat menuruni jalan turunan tajam sekaligus (pudunan orang sunda mah). Begitulah rasanya. Bahkan penumpang di seberang duduk saya ada yang berdiri saling pegangan (sama keluarganya mungkin) sambil baca-bacain doa/ayat al-quran. Terdengar pula dari penumpang lain. Huuft.. keringat dingin pokoknya. Jeda. Alhamdulillaah.. pesawat kembali stabil. Penerbangan dilanjutkan.

Sampailah diri dan jiwaku ini di Tanah Rencong, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Banda Aceh negeri dengan julukan Kota Serambi Mekkah. Hampir jam 22.00 kaki ini menginjakkan di bandara yang diberi nama Bandara Sultan Iskandar Muda. Sejak bandara direnovasi ulang dan daya tampungnya diperluas, kini bandara ini bisa melayani penerbangan internasional maupun nasional. Penerbangan terlama yang pernah saya alami, 3 jam lebih berada di ketinggian 30.000 kaki plus. Dari Pulau Jawa ke Ujung Barat Indonesia, Ujung Pulau Sumatera. Yakni Banda Aceh. Keluar dari bandara, datanglah para pengemudi taksi menawarkan angkutan. Silih berganti orang, bergiliran. Janjian kali ya.. Mulai deh merasa risih, ya walapun pada ramah dan nggak memaksa. Karena banyak pertanyaan sana-sini jadi pusing nih kepala. Hahaa..

Pasang muka yang biasa-biasa saja seolah bukan pertama kalinya datang ke Aceh. Katakan saja; sudah ada teman/kawan yang jemput, nunggu teman bilang aja dengan tegas. Mereka pun mulai putus harapan juga kan. Menjauh. Karena waktu sudah malam hari, kendaraan umum tidak ada lagi. Ternyata angkutan bus bandara ke kota sudah tidak beroperasi lagi. Makanya banyak sopir angkutan taksi yang stanby di lobi kedatangan penumpang. Taksi ini bukan semacam taksi mobil sedan yaa.. tapi mobil pribadi, plat hitam. Di Aceh mereka memberi namanya taksi. Seusai shalat, saya putuskan tidur di mushalla bandara. Sambil menunggu teman esok pagi sampai.

Teman saya ini dia terbang dari Jakarta, Indonesia ke Kuala Lumpur, Malaysia dulu, lanjut ke Banda Aceh, Indonesia. Katanya sih lebih murah. Beberapa minggu lalu dapat referensi teman juga saat cari tiket pesawat katanya kalau mau lebih murah ke Malaysia dulu. Mungkin ini bisa dijadikan alternatif bagi anda yang mau berkunjung ke Aceh. Ahh.. sayang sekali saya belum punya passport. Hehee.. Tiket pesawat Jakarta-Banda Aceh lumayan lhoo.. Di bandara semakin malam semakin sepi sekali. Hening. Istirahat, cukup untuk melemaskan badan yang pegel-pegel ini. Menjelang shubuh ramai kembali orang-orang hilir mudik ke mushalla, calon penumpang. Jadwal penerbangan pertama. Penjaga mushalla datang kembali untuk membersihkan toilet, tempat wudhu, dan sapu menyapu di sekitaran mushalla.

Teman saya itu ternyata sudah keluar bandara, hp nya lowbat jadi tidak mengabari, setelah saya hubungi. Saya langsung menghampirinya. Dia berada di salah satu mini market. Kalau di dalam riweuh katanya. Yaa di sini aja. Dia berasal dari bandung juga. Namanya August Ramdan. Kami belum penah bertemu dan belum saling kenal. Kami hanya mulai kenal via medsos. Saya mencari info tentang Aceh dan Pulau Weh, Sabang di grup facebook, twitter, ataupun blog-blog mengenai itu. Postinglah saya di grup facebook Aceh Backpacker. Tanya ini itu, karena waktu itu saya memutuskan untuk jalan sendiri. Nampaklah di postingan yang sama-sama mau jelajah Pulau Weh, Sabang khususnya. Singkat cerita kami bertiga sepakat janjian di Banda Aceh. Satu lagi orang Tebing Tinggi. Adminnya cukup responsif yaa.. beberapa anggota juga dengan senang hati saling tukar info. Terima kasih banyak ya..

Dapatlah kita sepakat untuk naik angkutan taksi menuju Pelabuhan Ulee Lheue. Nego dikit. Dapat harga yang sama-sama ikhlas-lah. Hihiii.. Lumayan. Teman orang Tebing Tinggi itu (Asra Idriyansyah) sudah berada duluan sampai di pelabuhan. Mobil taksi ini menempuh hanya 1 jam saja untuk sampai ke pelabuhan. Padahal kalau dilihat di peta ujung ke ujung. Di dalam perjalanan, kota yang dihantam bencana dahsyat ini pada tahun 2004 lalu ya beginilah.. Kotanya seperti ini, jangan berpikir kalau kota banyak gedung-gedung tinggi seumpama kota Jakarta. Ucap abang taksi, gak ada di sini bangunan-bangunan yang melebihi menara masjid. Jalanan yang kami lalui bebas macet, lancar jaya. Bangunan-bangunan pinggir jalan, pemukiman warga, tanahnya masih banyak yang kosong. Suasananya langsung terasa nyaman, adeum. Sedang musim hujan katanya. Jadi sedikit tidak terlalu panas. Terlihat beberapa becak motor berpapasan. Di Aceh tidak ada angkutan umum semacam mobil angkot kalau di Jawa.

Tunggu saya melihat, merasakan, mencicipi lebih dekat lagi yaa.. Ungkap saya dalam hati sembari menikmati perjalanan. Tiba di pelabuhan sudah disambut Pantai Ulee Lheue, kami bertiga komplit. Kami masing-masing belum ada yang pernah saling bertemu, jadi benar-benar kenalan di medsos dan bertatap muka sekarang ini. Jadwal kapal feri keberangkatan pagi sudah lewat. Sambil menunggu jadwal keberangkatan sore hari kami berkeliling pelabuhan, menuju pantai. Pelabuhan ini satu-satunya pelabuhan penumpang untuk menyeberang ke Pulau Weh, Sabang. Sebetulnya pihak pelabuhan menyediakan kapal cepat dan kapal lambat. Kapal cepat lebih banyak jadwal pulang perginya. Otomatis biaya lebih mahal. Sedangkan kapal lambat (Kapal Feri) transportasi umum laut ini menjadi pilihan banyak penumpang, selain karena biaya yang murah, anda juga bisa menikmati udara laut, perairannya, segala rupa-rupa yang ada di laut. Sehari hanya 2-3 kali.





Kapal Feri berlayar mengarungi lautan Samudera Hindia. Kapal ini menghabiskan waktunya sekitar 1 jam setengah untuk bisa sampai di Pulau Weh sana. Kami telah duduk manis di atas kapal. Penumpang tidak terlalu berdesakan. Weekday mungkin. Menikmati air laut, gugusan pulau dari kejauhan, langit cerah lagi terik matahari. Kami tidak mendapati ikan lumba-lumba sepanjang perjalanan sebagaimana beberapa orang bilang di Pelabuhan Ulee Lheue dan beberapa blog. Kurang beruntung. Untuk saya ini ketiga kalinya naik kapal feri. Terik matahari kayaknya tidak berlaku, jadi asoy melendoy ditemani lagu-lagu khas aceh dari suara sound kapal. Membuat pelayaran ini jadi tidak membosankan.

Berada di lautan Samudera Hindia yang terhubung langsung dengan Selat Malaka ini, seakan masuk pada berabad-abad lalu. Masa kerajaan, masa kolonial masa penjajahan. Zaman dimana jalur perairan ini sangatlah penting bagi kelangsungan hidup manusia kerajaan/bangsa-bangsa saat itu. Bahkan ada pepatah jika bisa menguasai jalur perairan ini sejahteralah. Apalagi dengan kekayaan sumber alamnya, Pulau Weh, Sumatera, semakin menarik minat para pelaut-penjelajah. Kapal-kapal perdagangan internasional hilir mudik masuk ke wilayah ini. Untuk sebab itu jalur laut ini menjadi rawan, banyak diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain, maka dibangunlah berbagai bentuk benteng pertahanan di pinggiran pulau (Aceh, Pulau Weh) oleh kerajaan/penjajah yang sedang berkuasa. Nanti akan ditemui banyak meriam, benteng peninggalan Jepang yang masih tersisa. Bukti sejarah masa lalu.




Akhirnya terlaksana juga bisa berkunjung ke Sabang. Hhmm… tak pernah terbayangkan bisa berada di Pulau Ujung Barat Indonesia ini, Pulau terluar. Pulau penuh sejarah. Pulau ujung tombak Indonesia. Ahh.. Sabang. Kapal berlabuh tepat waktu di Pelabuhan Balohan, Sabang Pulau Weh. Lagu yang sering dinyanyikan di sekolah dulu, sering terdengar akrab di telinga. Dari Sabang sampai Merauke. Kini saya sudah berada di sini di Kota Sabang tersebut. Bangganya.. Harus dibuat lebay. Mau nangis tapi gak boleh nangis! Karena tidak semua orang (yang bukan penduduk setempat) bisa berada di sini...

***
Bersambung…



tags :
perjalanan ke aceh
barat indonesia
satubumikita blog
catper ke aceh
catper bandung - aceh













Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...