Rabu, 26 September 2012

Jurnal satubumikita #9 : Jejak-jejak di Gunung Guntur


Jurnal satubumikita


Terik sang surya tak lagi hangat tapi cukup menyengat, menyiangi ubun-ubun kepala dan tubuh kami di antara pagi menjelang siang. Peluh dan debu-debu yang ultra mengganggu berterbangan menerpa wajah yang tertutup masker atau kain penutup hidung, yang terlihat kini hanya kolektif mata penuh semangat menatap jauh ke gunung yang telanjang cokelat abu-abu seolah tanpa pohon. Di atas truk pasir yang melaju seperti jet coster atau wahana uji adrenalin di taman bermain dunia fantasi, kami bertumpu bergerombol menuju titik wahana yang sesungguhnya yaitu wahana alam. Sebuah wahana yang bukan ciptaan manusia tapi ciptaan sang maha pencipta.

***


Itu adalah sepenggal kisah di awal-awal perjalanan kami. Ya, kami! perjalanan satubumikita yang merupakan sebuah kolektif amatir yang mencoba untuk rutin bercengkrama dengan alam dan mendekatkan dengan sang pencipta. Kali ini satubumikita mencoba untuk sedikit bertualang di kawasan Komplek Gunung Guntur yang berada di Kabupaten Garut. Kegiatan yang bertajuk "Mendaki, Backpacking dan Berkemah di Gunung Guntur" ini di adakan pada hari sabtu dan minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 22-23 September 2012. Teman-teman yang berpasrtisipasi dalam kegiatan ini terhitung cukup banyak, total berjumlah 27 orang termasuk 3 orang penyelanggara dan 1 orang pemandu. Banyak pula teman-teman baru yang ikut, partisipan sendiri diikuti oleh bervariasi golongan umur, yang termuda berumur sekitar 12 tahun dan yang tertua sekitar 60 tahun-an.

Staring point perjalanan kami mulai dari Bandung, tepatnya di Stasiun Bandung. Dengan menggunakan moda transportasi kereta api KRD ekonomi yang ongkosnya cukup murah meriah (Rp.1000) menuju titik henti di Stasiun Cicalengka. Lalu dari Stasiun Cicalengaka dilanjut dengan menyewa angkutan umum (angkot) menuju titik henti selanjutnya di daerah Cipanas, Garut. Terakhir untuk menuju titik terdekat pendakian di kaki Gunung Guntur, kami harus rela berguncang-guncang massal di dalam truk pasir seperti yang telah di sebutkan di awal tulisan. Truk tersebut mengantar kami menuju tempat atau blok-blok penggalian pasir yang marak di kaki Guntur yang gersang dan sangat tereksploitasi.

Hari mulai siang, sang surya benar-benar menyengat tanpa ampun. Perjalanan dengan berjalan kaki pun dimulai. Tak berapa lama, salah seorang teman kami mengundurkan diri dari perjalanan ini karena kondisi yang tak memungkinkan dan memutuskan untuk pulang ke Bandung. Perjalanan kembali berlanjut setelah mengantarkan teman kami tersebut ke dearah yang cukup ramai/pemukiman. Sebelum menuju titik henti di Curug (Air terjun) Citiis, rombongan ada yang sedikit salah jalur tapi alhamdulillah tak berapa lama kami dapat berkumpul bersama lagi di Curug Citiis yang memang benar-benar 'tiis' (bahasa sunda : dingin). Aliran air ini menjadi salah satu sumber air bersih  warga di sekitar Guntur. Sedang sumber air panas yang bersumber dari kawasan Guntur dijadikan sumber untuk pemandian di sekitar wisata Cipanas. Citiis sendiri berarti air dingin dan Cipanas berarti air panas.

***

Sejarah Gunung Guntur

Lukisan Gunung Guntur oleh Junghuhn, Foto: wikipedia.org
Disebuah laman berbahasa sunda, disebutkan bahwa sebelum dinamai Gunung Guntur, gunung ini disebut sebagai Gunung Agung/Gede dan Gunung Kutu. Ari asalna ├ęta gunung, disebutna lain Gunung Guntur atawa Gunung Agung, tapi Gunung Kutu ngaranna. [1]

Gunung Guntur sendiri adalah nama sebuah puncak dari suatu kelompok gunung api yang disebut dengan Komplek Gunung Guntur. Komplek Gunung Guntur ini terdiri atas beberapa kerucut, yaitu Gunung Masigit (2249 mdpl) yang merupakan kerucut tertinggi. Ke arah tenggara dari Gunung Masigit terdapat kerucut Gunung Parukuyan (2135 mdpl), Gunung Kabuyutan (2048 mdpl) dan Gunung Guntur. [2]

Orang yang pertama kali berhasil mendaki gunung ini adalah orang berkebangsaan Jerman, bernama Frans Junghuhn sekitar tahun 1837. Pada tahun itulah, Junghuhn, memasukkan gunung ini sebagai gunung api paling aktif di Jawa. Erupsi gunung Guntur seringkali terjadi pada akhir abad 18. Berdasarkan informasi dari Wikipedia, erupsi gunung Guntur terjadi tahun 1847, 1843, 1841, 1840, 1836, 1834-35, 1833, 1832, 1832, 1829, 1828, 1827, 1825, 1818, 1816, 1815, 1809, 1807, 1803, 1800, 1780, 1777, 1690. Erupsi ini disertai dengan lelehan lava, lapili dan objek material lain. Tak heran kalau di daerah Garut Utara banyak terdapat bebatuan hitam di sekitar kebun dan pesawahan. Teksturnya juga seperti kerak lava yang mengeras selama ratusan tahun.[3] 

Dikutip dari:
[1]  http://wikisource.org/wiki/Carita_Gunung_Guntur
[2]  http://www.garutkab.go.id/galleries/pdf_link/sekilas/gunung_guntur.pdf
[3]  http://green.kompasiana.com/iklim/2011/10/08/penggalian-pasir-di-gunung-guntur-harus-dihentikan/


 ***



Kembali ke perjalanan. Dari Curug Citiis, kami berjalan beriringan menanjak, Guntur seolah dekat di hadapan kami tapi ternyata tak mudah memang untuk mencapai puncak, harus ditempuh dengan penuh dengan perjuangan. Dan memang patut untuk diapresiasi semangat teman-teman semua, walaupun kami bukan seorang pendaki yang ahli tapi dengan kebersamaan, kekompakan dan  semangat, akhirnya kami dapat sampai di Puncak Gunung Guntur dengan selamat dan ceria. Sebenarnya banyak sekali cerita dan nilai di balik perjalanan ini tapi tak mungkin di kisahkan satu-satu dalam tulisan ini. Salah satu di antaranya adalah dengan semangat kita dapat mencapai tujuan kita yaitu puncak (walaupun yang lebih penting adalah kebersamaan, puncak hanya bonus). Salah seorang teman kita yang umurnya sudah tidak bisa dikatakan muda dan tertua di antara kami, dengan umur sekitar 60-an beliau bisa mendaki sampai puncak dengan segala perjuangannya. Melewati "tanjakan asoy" yang terjal dan panjang, jalur mendaki yang hampir tegak lurus dan medan sulit yang harus dilewati saat gelap gulita dapat terlewati hanya dengan keyakinan dan tentunya motivasi semangat baik dari diri sendiri maupun orang lain, salut untuk opa kita dan teman-teman yang lain.

Perjalanan sendiri dari Curug Citiis menuju puncak Guntur memakan waktu sekitar 8 Jam.  Kami sampai puncak sekitar pukul 21.00. Suasana di puncak Guntur sangat gelap dan tertutup kabut tebal. Malam mulai larut dan kabut seolah betah bercengkrama dengan kami, seusai mendirikan tenda dan makan malam, kami pun terlelap tidur.

Pagi hari, kabut memang seolah tak mau pergi. Dari puncak Guntur, sebagian dari kami melanjutkan untuk menikmati keindahan di puncak Kabuyutan yang berjarak sekitar 500 meter. Puncak Kabuyutan sendiri sering disebut oleh sebagian pendaki sebagai puncak landasan helikopter, mungkin karena puncaknya datar dan seperti diaspal. Setelah mengunggu beberapa menit, kabut di Kabuyutan sedikit demi sedikit menipis dan mulai tergantikan dengan panorama yang indah di sekeliling, Gunung-gunung yang gagah berdiri dapat terlihat mengelilingi sekitar Garut, seperti Gunung cikuray yang angkuh dengan kerucutnya. Indah sekali ciptaan-Mu wahai Maha Pencipta, kita seolah-olah berada di atas awan.

Kebakaran 
Sekitar pukul 10.00, setelah merapikan tenda, memasak dan makan bersama kami pun segera bergegas turun karena hari mulai menjelang siang. Perjalanan turun kami tidak mengambil jalur yang sama dengan saat naik. Perjalanan turun sampai sungai dekat hutan memakan waktu sekitar 4 jam. Di tengah perjalanan kami pun harus sedikit mengejar waktu karena kawasan puncak yang kami lewati terbakar, asapnya cukup membumbung dan apinya terlihat mejalar dengan cepat. Beberapa minggu yang lalu sebelum kami berangkat pun terjadi kebakaran tepatnya pada tanggal 9 sepetember. Kebakaran bisa jadi karena faktor musim kemarau dan ilalang kering serta gesekan batu yang memang berserakan di sana-sini. 


***

Perjalanan turun berjalan dengan cukup lancar. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil saat perjalanan kemarin yang cocok untuk diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Seperti bagaimana kita bersikap menghadapi situasi sulit tapi tetap bijak dan tentang arti sebuah kebersamaan. Keindahan mendaki tak hanya berupa visual nampak berupa panorama alam, tapi dibalik perjalanan tersebut pun  menyimpan banyak keindahan. Kadang kita sering lupa dengan target mengejar puncak tapi melupakan arti dari sebuah kebersamaan. Alhamdulillah, perjalanan kemarin sangat berkesan dan sanagat nampak kekompakan dan kebersamaan yang terbangun dengan sendirinya. (opik/satubumikita)***

Terima kasih teman-teman semua, kalian hebat!  


Di Puncak Guntur, Foto: Pepep (Bandoeng Nachtwandeling)
Di Puncak Kabuyutan, Foto: Pepep (Bandoeng Nachtwandeling)

Perjalanan Turun, Foto: Pepep (Bandoeng Nachtwandeling)


Foto Keluarga, latar Gunung Guntur, Foto: Pepep (Bandoeng Nachtwandeling)


-----------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------

Pemandu :
  • Cepy saripudin

Teman-teman satubumikita :
  1. Opa Yayan
  2. Bu Wiwit Ratna Djuwita
  3. Betty Suryaningsih
  4. Adam Alexander
  5. Kharis
  6. Rida Alia
  7. Ema
  8. Puspita supriati
  9. Neti Maulani
  10. Silvia Dewi
  11. Ulen bdg
  12. Kuje Blythe zaelani
  13. Din Demonio
  14. Nde (Adik Kuje)
  15. Riki Guntara (Pupun)
  16. Asep Harun
  17. Saepul
  18. Budi
  19. Ismet
  20. Lia
  21. Pepep (Bandoeng Nachtwandeling)
  22. Fajar Aditya Sukmawan
  23. Derull Az Shikamaru
  24. Kukuh
Amatir satubumikita :

  • Siti Robiah
  • Taufik Hidayat 
  • Gustaf Ridwan Munandar

--------------------------------------------------
satubumikita, kolektif amatir adventure

Laman Blog : satubumikita.blogspot.com
E-mail : satubumikitaeo@gmail.com
---------------------------------------------
----



tags: pendakian gunung guntur, garut, gunung guntur, rute gunung guntur, garut guntur, cipanas, jalur guntur, gunung kutu, jurnal guntur,catper g.guntur, cerita guntur, satubumikita, curug citiis, bandung-gunung guntur, komunitas hiking bandung

2 komentar :

  1. Mantap, sukses terus buat komunitasnya. kapan kapan ayo mampir ke galunggung, atau talaga bodas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, sukses juga & salam udah berkunjung.
      Untuk galunggung sudah mas akhir tahun 2013, talaga bodas sudah juga tahun 2012.

      Hapus

Silahkan berkomentar, menyanggah, bertanya ataupun ingin berkorespondensi.



Terima kasih

Masukan E-mail Anda Untuk Tetap Update Blog Satubumikita

ANDA PENGUNJUNG KE-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...